- BGN menargetkan nol kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2026 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
- Peningkatan kualitas SDM dan penegasan juknis akan dilakukan, dengan SPPG yang melanggar akan mendapat peringatan hingga penutupan.
- Pengawasan diperketat melalui SLHS wajib dan penggunaan air galon bermerek untuk meminimalisir risiko keracunan akibat bakteri E. coli.
Suara.com - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, memastikan pihaknya akan bekerja keras untuk mencapai target nol kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan Nanik merespons maraknya kasus keracunan MBG sepanjang 2025.
Menurutnya, Presiden Prabowo dalam retret kabinet beberapa waktu lalu, agar pelaksanaan program tidak dilakukan secara memaksa.
“Pak Presiden dalam retret menyampaikan jangan ngoyo. Supaya kualitas SDM. Kemudian juga pembangunan SPPG sesuai dengan benar-benar juknis. Sehingga bisa menuju zero accident,” kata Nanik saat memantau pembagian MBG di SMKN 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Nanik juga menegaskan, target nol kasus keracunan tetap diupayakan meski tidak ada jaminan mutlak.
“Kemudian untuk mencapai zero (accident). Kalau menggaransi itu Allah yang garansi, ya, tapi kita akan berusaha bekerja keras untuk meminimalisir,” ucapnya.
Kendati begitu, dia memastikan kalau upaya menuju nol kasus keracunan terus dilakukan dengan evaluasi menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Berdasarkan pemantauan BGN, kasus keracunan MBG mulai menurun sejak akhir 2025.
"Insya Allah kita akan capai. Karena di bulan Desember juga sudah hampir-hampir tidak terdengar atau kecil sekali kejadian, mulai November sudah mulai turun," ucapnya.
Baca Juga: Prabowo Tolak Lihat Daftar Perusahaan Pelanggar: 'Takut Ada Teman Saya di Situ'
Dalam waktu dekat, BGN akan menerbitkan petunjuk teknis yang lebih ketat.
SPPG yang tidak mematuhi standar operasional prosedur akan diberikan surat peringatan hingga penutupan.
“Kita juga akan keluar dalam waktu dekat juknis yang keras mengenai dapur-dapur nanti yang tidak sesuai standar, kita akan berikan peringatan satu, dua, dan ketika peringatan ketiga kita akan tutup,” ujar Nanik.
Selain itu, BGN akan memperketat penerapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Menurut Nanik, salah satu penyebab utama keracunan massal sebelumnya adalah penggunaan air yang mengandung bakteri E. coli.
“SLHS wajib. Karena kemarin banyak ditemukan E. coli di air, air sekarang harus menggunakan air galon bermerek yang maksudnya terjamin tidak ada bakterinya, bebas E. coli,” kata dia.
Ia juga menyebutkan kalau pengawasan MBG tidak hanya dilakukan oleh BGN, melainkan melibatkan lintas kementerian dan lembaga.
Berita Terkait
-
BGN Respons Isu Susu Langka: Pemerintah Akan Bangun Pabrik dan 500 Peternakan Sapi
-
BGN Optimistis Target 82,9 Juta Penerima MBG Tercapai 2026, Guru dan Santri Masuk Tambahan
-
Prabowo Komentari Podcast di Sosial Media: Banyak Pakar Bicara Asal
-
Prabowo Tolak Lihat Daftar Perusahaan Pelanggar: 'Takut Ada Teman Saya di Situ'
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Subuh Mencekam di Tambora: Api Amuk 15 Bangunan, Kerugian Tembus Rp1,7 Miliar
-
Trump Dikabarkan Kirim Operasi Khusus Militer AS untuk 'Caplok' Greenland
-
Wanti-wanti Peneliti UGM Soal Superflu, Tetap Bisa Fatal Bagi yang Rentan
-
Tersangka Korupsi Kini 'Dilindungi' dari Konferensi Penetapan KPK Imbas KUHAP Baru
-
Kronologi Suap Pajak KPP Madya Jakut: Diskon Rp59 M Dibarter Fee Miliaran Berujung OTT KPK
-
Cuaca Hari Ini: Hujan Terjadi Hampir di Berbagai daerah dari Banten Sampai Yogyakarta
-
PSI Incar Jawa Tengah Jadi Kandang Gajah, Hasto PDIP Kasih Respons Santai, Begini Katanya
-
Rakernas I 2026: PDIP Bakal Umumkan Sikap Resmi Terkait Wacana Pilkada di Akhir Acara
-
Megawati di HUT ke-53 PDIP: Politik Adalah Alat Pengabdian, Bukan Sekadar Kejar Jabatan
-
Megawati Dorong Politik Berbasis Kearifan Lokal: Peradaban Diukur dari Cara Menghormati Bumi