- Perempuan korban banjir memasak di dapur umum untuk para relawan.
- Yayasan Darah untuk Aceh menginisiasi dapur umum di RSUD Aceh Tamiang.
- Solidaritas menjadi kekuatan utama di tengah pemulihan pascabencana.
Suara.com - Tujuh pekan telah berlalu sejak banjir besar melanda Aceh. Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia, Aceh Tamiang, belasan perempuan memilih bertahan di dapur umum darurat. Mereka bukan sekadar memasak; mereka adalah para korban bencana yang kini mendedikasikan tenaga untuk menyediakan makanan bagi relawan dan pasien.
DI depan sebuah meja seadanya, Nur Annisa Khairani Aiyub (Nisa) berdiri. Tangannya dengan telaten menyaring bubur lembut yang baru saja matang ke dalam cerek plastik. Makanan itu, yang dikenal sebagai M1, disiapkan khusus untuk para balita yang dirawat di rumah sakit.
Nisa tidak sendiri. Bersamanya, ada 12 perempuan lain yang bekerja penuh semangat. Ada yang membersihkan ayam, ada yang menggoreng, ada pula yang menyiapkan sayuran. Mereka saling melengkapi, seolah sudah paham peran masing-masing tanpa perlu komando. Mereka adalah pahlawan tak terduga di tengah lumpur yang belum surut.
“Ini untuk bayi, nama makanannya M1,” kata Nisa kepada Suara.com, pada Rabu lalu, 31 Desember 2025.
Tepat di sampingnya, Sri Wulandari dengan lihai membungkus M1 satu per satu. Ia menjelaskan, mereka semua adalah staf instalasi gizi rumah sakit. Namun, kali ini tugas mereka meluas: memasak untuk 800 relawan dan pasien.
“Menu hari ini ikan goreng, sambal, dan sayur kol,” katanya.
“Kami semua asli sini. Walaupun jadi korban, alhamdulillah masih bisa bantu.”
Inisiatif dari Hati
Semangat para perempuan ini adalah cerminan dari dukungan berbagai pihak. Melalui Yayasan Darah untuk Aceh, dapur umum di RSUD Aceh Tamiang menjadi pusat logistik pangan bagi para relawan yang tak kenal lelah menyeret lumpur dan puing-puing kayu keluar dari ruangan rumah sakit.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Penghapusan Utang untuk UMKM Korban Bencana, Cek Syaratnya!
Nuu Husein, pendiri yayasan, melihat urgensi untuk membantu fasilitas publik terlebih dahulu.
“Saya pikir rumah sakit ini sangat layak dibantu. Pembersihan pascabanjir harus dimulai dari fasilitas umum. Kalau rumah sakit bersih, pasien bisa berobat dengan nyaman,” kata Nuu.
Sejak 22 Desember, dapur umum ini terus mengepul. Donasi datang dari berbagai arah, baik dalam bentuk uang tunai maupun bahan makanan seperti ikan, ayam, dan telur.
Bagi Nuu, keterlibatan para perempuan staf gizi ini sangatlah krusial. Mereka adalah korban, namun semangat mereka untuk membantu tak pernah padam.
Karena itu, kesehatan tim menjadi prioritas. Mereka diberikan vitamin dan ruang istirahat.
“Kalau salah satu tumbang, yang lain akan ikut berat,” katanya.
“Karena mereka harus kembali lagi istirahat di pengungsian juga.”
Tantangan logistik pun tak main-main. Di tengah semrawutnya kondisi Aceh Tamiang, Nuu harus menempuh perjalanan 46 kilometer bolak-balik ke Kota Langsa setiap hari hanya untuk mendapatkan sembako.
Denyut Nadi Rumah Sakit yang Kembali Berdetak
Pelayanan RSUD Aceh Tamiang sebenarnya sudah mulai berjalan sejak 9 Desember, meski saat itu hanya UGD yang berfungsi. Kehadiran ratusan relawan sangat membantu mempercepat pembersihan.
Menurut Direktur RSUD Aceh Tamiang, Andika Putra, pembersihan rumah sakit kini telah mencapai 70 persen.
"Secara manual tiap-tiap kamar dibersihkan. Itu yang memang butuh waktu,” kata Andika.
Kehadiran dapur umum, menurutnya, sangat membantu percepatan pembersihan karena para relawan tak perlu pusing mencari makan. Kini, ruangan-ruangan yang tadinya penuh lumpur sudah bisa ditempati kembali.
“Pasien rawat inap sudah ada sekitar 30 pasien yang dirawat,” katanya.
Meski begitu, tantangan belum usai. Lumpur yang pekat sulit dibersihkan karena alat berat tidak bisa masuk, dan ketersediaan air bersih masih menjadi perhatian utama.
Di tengah riuh kesibukan itu, Yayasan Darah untuk Aceh berharap uluran tangan para donatur terus mengalir, karena dana mereka hanya cukup hingga awal Januari.
Sebuah Titik Balik Mi Instan Mentah
Bagi Nuu Husein, keputusannya membangun dapur umum lahir dari sebuah momen yang menyentuh hati. Saat pertama kali tiba di lokasi bencana pada 4 Desember, ia terenyuh melihat kondisi warga di Gampong Kota Karang. Ibu-ibu di sana mengaku sudah beberapa hari tidak makan nasi.
“Mereka hanya mengunyah mi instan mentah,” kata Nuu. Momen itulah yang menjadi titik baliknya.
Awalnya, Nuu dan timnya mengantar makanan jadi dari Langsa. Ia juga menyuplai kasur, baju, dan perlengkapan bayi. Di tengah kesibukan itu, ia bertemu seorang anak bernama Aqila yang menangis.
“Saya tanya, kenapa menangis nak?” kenang Nuu. Jawaban anak itu membekas selamanya: “Kia kan tidak kenal kenapa dikasih nasi? Udah lama tidak makan nasi.”
Kursi Roda Pembawa Beras
Kembali ke dapur rumah sakit, pemandangan unik tersaji. Nasi yang telah dibungkus Nisa dimasukkan ke dalam kantong plastik biru.
Sementara itu, rekannya yang lain pergi ke gudang penyimpanan beras. Bukan dengan troli, melainkan dengan kursi roda pasien.
“Kami kalau ada kaum laki-laki ke sini, tidak segan-segan minta bantu langsung,” kata salah seorang dari mereka sambil tertawa.
Secara bergantian, kursi roda itu juga beralih fungsi menjadi pengantar nasi ke kamar-kamar pasien. Sore itu, saat saya beranjak pergi, lumpur masih melekat di halaman rumah sakit.
Para relawan mulai membersihkan diri, beristirahat sejenak, sebelum kembali mengulang perjuangan yang sama esok hari. Di dapur itu, setiap bungkus nasi adalah wujud kepedulian, sebuah ruang harapan di mana mereka yang sama-sama terluka saling menguatkan.
_________________
Reporter: Iskandar
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
WNI di Meksiko Aman, Kemlu Minta Jaga Komunikasi dengan KBRI
-
Ribuan Orang Sudah Manfaatkan Program Hapus Tato Gratis Baznas DKI Jakarta, Ini Syaratnya!
-
Bantuan Untuk Korban Bencana Sumatra Masih Berlanjut, Total Kemensos Telah Gelontorkan Rp 2,56 T
-
Menangguk Cuan di Musim Lebaran, Cerita Pekerja Proyek 'Banting Stir' Jadi Juragan Parsel di Cikini
-
Main Hujan Berujung Pilu, Bocah di Selong Hilang Terseret Arus Drainase di Dekat Sekolah
-
Kubu Gus Yaqut Persoalkan Kerugian Keuangan Negara Belum Jelas dalam Kasus Kuota Haji
-
Tabrakan Koridor 13, DPRD DKI Tak Terima Alasan Sopir Mengantuk: Direksi Transjakarta Akan Dipanggil
-
Viral Hobi Makan Gratis hingga Tipu Ojol, Wanita di Jakbar Kini Jadi Buruan Sudinsos!
-
6 Remaja Disergap Saat Mau Tawuran, Polisi Sita Senjata Tajam!
-
Pemukim Israel Bakar dan Corat-coret Masjid di Tepi Barat Saat Ramadan