- PDIP secara resmi menolak pilkada melalui DPRD pada Rakernas Jakarta Utara, Senin (12/1/2026) karena dianggap bertentangan konstitusi.
- Pengamat UMY Zuly Qodir menilai sikap PDIP sebagai opini berbeda yang mungkin kalah dalam voting parlemen saat ini.
- Zuly meragukan klaim penghematan biaya pilkada lewat DPRD, serta menganggap isu utama adalah mentalitas politik aktor dan pemilih.
Suara.com - Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, memberikan komentar terkait dengan sikap PDI Perjuangan yang menolak wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD.
Adapun pada Rakernas PDIP di Jakarta Utara, Senin (12/1/2026) kemarin, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menegaskan penolakan tersebut sebab dinilai bertentangan dengan konstitusi. Sekaligus mendorong pilkada berbiaya rendah melalui penerapan e-voting.
Ia menilai sikap PDIP merupakan dissenting opinion yang sah dalam demokrasi.
"Ya, sebagai sebuah dissenting opinion tentu akan ada dampak sedikit bahwa, 'wah ini PDIP suaranya berbeda' gitu," kata Zuly saat dihubungi Suara.com, Selasa (13/1/2026).
Namun, secara politik, posisi tersebut berpotensi tidak berpengaruh signifikan. Apalagi jika dibawa ke mekanisme pengambilan keputusan di parlemen.
Jika wacana pilkada melalui DPRD diputuskan lewat voting di DPR, suara PDIP berpeluang kalah. Pasalnya mereka tidak berada dalam barisan mayoritas partai politik.
"Sebagai sebuah kebijakan politik atau apalagi nanti kalau kemudian di DPR sendiri ada voting, maka ya kemungkinan besar kalau dibandingkan dengan seluruh partai yang bergabung, suara Partai PDIP kemudian kalah kan," tuturnya.
Meski demikian, Zuly melihat sikap PDIP menunjukkan konsistensi politik untuk mengambil posisi berbeda dari mayoritas partai yang saat ini berada dalam pemerintahan Prabowo-Gibran.
"Sikap PDIP menunjukkan konsistensi untuk sedikit berbeda dengan opini mainstream," ujarnya.
Baca Juga: Tak Hanya PDIP, Komisi II DPR Klaim Bakal Tampung Usulan Golkar hingga Gerindra Soal Model Pilkada
Ia turut menyoroti wacana besar pilkada melalui DPRD yang diklaim dapat menekan biaya politik. Zuly mengaku ragu terhadap klaim tersebut.
Sistem tersebut, kata Zuly, justru berpotensi hanya memindahkan praktik money politics dari masyarakat ke anggota dewan.
"Kalau argumennya mengurangi biaya politik, saya tidak percaya," tegasnya.
Zuly menambahkan, perubahan sistem pemilihan tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku politik para aktor dan pemilih. Menurutnya, persoalan utama terletak pada mentalitas dan pendidikan politik, bukan semata-mata pada sistem pemilihan.
"Maka saran saya, memang yang perlu diubah adalah mindset-nya, otaknya, perilakunya. Bukan sistemnya, bukan praktiknya," ujarnya.
Catatan Kritis soal E-Voting
Berita Terkait
-
Tak Hanya PDIP, Komisi II DPR Klaim Bakal Tampung Usulan Golkar hingga Gerindra Soal Model Pilkada
-
Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, PDIP Intens Lobi Partai Lain di Parlemen
-
PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD, Megawati: Bertentangan dengan Putusan MK dan Semangat Reformasi
-
Tolak Pilkada Lewat DPRD, Megawati: PDIP Berdiri Paling Depan Jaga Hak Rakyat!
-
Rekomendasi Rakernas PDIP: Desak Pilkada Tetap Langsung Dipilih Rakyat, Usul Ada E-voting
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Kerry Riza Ajak Masyarakat Lihat Perkaranya Berdasarkan Fakta Bukan Fitnah
-
Dugaan Korupsi Minyak Mentah: Saksi Bantah Ada Kontrak Sebut Tangki BBM OTM Jadi Milik Pertamina
-
Menuju JFSS 2026, Pemerintah dan Kadin Sepakat Ketahanan Pangan Jadi Prioritas Nasional
-
Aceh Tamiang Dapat 18 Rumah Rehabilitasi, Warga Bisa Tinggal Tenang
-
Usai di Komdigi, Massa Demo Datangi Polda Metro Jaya Minta Usut Kasus Mens Rea
-
Profil Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa: dari Pilot ke Pemimpin Provinsi Baru
-
Catatan Kritis Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Terancam, Negara Abai Lingkungan
-
Satgas Pemulihan Bencana Sumatra Gelar Rapat Perdana, Siapkan Rencana Aksi
-
Roy Suryo Kirim Pesan Menohok ke Eggi Sudjana, Pejuang atau Sudah Pecundang?
-
Saksi Ungkap Rekam Rapat Chromebook Diam-diam Karena Curiga Diarahkan ke Satu Merek