- PDI Perjuangan disorot karena menempatkan diri sebagai partai penyeimbang di luar pemerintahan saat ini.
- Pengamat politik Zuly Qodir berpendapat penyeimbang idealnya bekerja dari dalam sistem kekuasaan untuk koreksi kebijakan.
- Kritik dari luar sistem kekuasaan dinilai memiliki daya koreksi yang terbatas dan sulit menghasilkan perubahan nyata.
Suara.com - Sikap PDI Perjuangan yang menempatkan diri sebagai partai penyeimbang di pemerintahan saat ini menuai sorotan. Posisi di luar kekuasaan dinilai membuat peran penyeimbang tidak bisa berjalan optimal dalam memengaruhi arah kebijakan.
Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai konsep penyeimbang tidak sesederhana sekadar berada di luar pemerintahan dan menyuarakan kritik.
Menurutnya, penyeimbang justru idealnya hadir dan bekerja dari dalam sistem kekuasaan itu sendiri.
“Sebagai penyeimbang bisa, tetapi teori yang lain mengatakan, ya kalau Anda penyeimbang tapi berada di luar, tidak mengimbangi,” kata Zuly saat dihubungi Suara.com, Selasa (13/1/2026).
Zuly menilai posisi di luar pemerintahan membuat daya koreksi terhadap kebijakan menjadi sangat terbatas. Kritik yang disampaikan dari luar disebutnya kerap tidak berdampak langsung terhadap perubahan kebijakan yang sedang berjalan.
“Gimana akan mengimbangi tapi tidak terlibat? Ini sulit sekali,” ujarnya.
Ia mengibaratkan kritik dari luar pemerintahan hanya menjadi suara yang terdengar tanpa benar-benar mengubah arah kebijakan. Tak jarang situasi tersebut terjadi dalam praktik politik nasional.
“Itu kan sama dengan orang mengatakan, ‘biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu,’ gitu kan,” ucapnya.
Ia kemudian menyinggung pandangan sejumlah pemikir yang sempat menganggap posisi di luar kekuasaan sebagai bentuk moral force paling ideal. Namun, pandangan tersebut justru mengalami koreksi seiring waktu.
Baca Juga: Tak Hanya PDIP, Komisi II DPR Klaim Bakal Tampung Usulan Golkar hingga Gerindra Soal Model Pilkada
Perubahan, kata Zuly, lebih mungkin terjadi jika dilakukan secara kolektif dari dalam pemerintahan. Ia menyebut selalu ada ruang untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok yang masih memiliki integritas di dalam parlemen maupun kabinet.
Menurutnya, keberadaan kelompok tersebut dapat menjadi basis kekuatan untuk melakukan koreksi kebijakan secara nyata, bukan sekadar kritik verbal.
Berbeda dengan menjadi penyeimbang dari luar yang hanya berfungsi sebagai pengingat simbolik.
“Tapi ya okelah ya untuk menjadi semacam peluit gitu lho ya, ‘oh ini ada lampu merah toh ternyata.’ Yang melanggar lampu merah saja banyak kok, apalagi nggak ada lampu merah,” tandasnya.
Zuly menegaskan, tanpa keterlibatan langsung dalam proses pengambilan keputusan, posisi penyeimbang akan sulit menghasilkan perubahan konkret. Kritik tetap terdengar, namun kebijakan tetap berjalan sesuai kehendak mereka yang berada di dalam kekuasaan.
“Sulit menjadi penyeimbang tetapi di luar. Ya hanya ngomong saja, hanya mengkritik, tapi perubahan itu tidak nyata terjadi. Perubahan itu bisa terjadi kalau kita bersama-sama berada di dalam,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Tak Hanya PDIP, Komisi II DPR Klaim Bakal Tampung Usulan Golkar hingga Gerindra Soal Model Pilkada
-
PDIP Pilih Jadi 'Penyeimbang': Strategi Cerdas atau Sekadar Oposisi Abu-Abu?
-
Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, PDIP Intens Lobi Partai Lain di Parlemen
-
Tutup Rakernas I 2026, PDIP Umumkan 21 Rekomendasi Eksternal
-
Arahan Megawati ke Kader PDIP: Kritik Pemerintah Harus Berbasis Data, Bukan Emosi
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Bawa Modal Rp800 Juta Demi 1 Kg Sabu, Pengedar Asal Gunung Batu Diringkus Polres Cimahi
-
Kejagung Rotasi Pejabat, Rinaldi Umar Ditunjuk Jadi Direktur Penyidikan Jampidsus
-
Dibatalkan Sepihak Usai Daftar Ulang, Orang Tua Siswa SMAN 1 Cileungsi Lapor Dedi Mulyadi
-
Tak Sekadar Bersih-Bersih, Mandi Kini Jadi Ritual Relaksasi untuk Jaga Kesehatan Mental
-
Babak Pertama Final AFF Women's Cup 2026: Timnas Putri Indonesia Unggul 1-0
-
BRI Dukung BKKBN Salurkan Bantuan Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Talaud
-
Diskon Mako Bakery Khusus Nasabah BRI, Makan Enak Bayar Gak Sampai Rp20 Ribu!
-
Jonatan Christie Bersyukur Cepat Beradaptasi, Lolos ke Babak Kedua China Open 2026
-
Promo Terbaru BRI di Marugame Udon, Makan Kenyang Cuma Bayar Rp10 Ribu!
-
Serahkan Dugaan Korupsi MBG ke Penegak Hukum, Kepala BGN Baru Pilih Fokus Kerja