- KPK memeriksa Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono, pada 15 Januari 2026, terkait aliran dana kasus suap Bupati Bekasi nonaktif.
- Kasus ini berawal dari OTT KPK di Kabupaten Bekasi pada 18 Desember 2025 yang mengamankan sepuluh orang.
- Tiga tersangka utama ditetapkan: Bupati ADK dan ayahnya sebagai penerima suap, serta Sarjan sebagai pemberi suap.
Suara.com - Pusaran kasus dugaan korupsi yang menjerat Bupati Bekasi nonaktif, Ade Kuswara Kunang (ADK), terus melebar dan kini menyentuh elite politik di Jawa Barat.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Ono Surono, rampung menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (15/1/2026).
Seusai diperiksa di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Ono Surono tak menampik bahwa dirinya dicecar mengenai jejak aliran dana dalam skandal suap proyek di Kabupaten Bekasi tersebut.
"Iya, ada beberapa lah yang ditanyakan," ujar Ono menjawab pertanyaan jurnalis setelah menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, sebagaimana dilansir Antara.
Namun, ada satu hal yang digarisbawahi oleh politisi senior PDI Perjuangan tersebut. Ono menegaskan bahwa pemanggilannya oleh KPK bukan dalam jabatannya sebagai pimpinan legislatif Jawa Barat, melainkan dalam kapasitasnya sebagai orang nomor satu di struktur DPD PDI Perjuangan Jawa Barat.
"Sekitar tugas sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan," katanya singkat.
Pemeriksaan terhadap Ono Surono merupakan babak baru dari pengembangan kasus yang bermula dari operasi senyap KPK.
Seperti diketahui, KPK menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 18 Desember 2025. Dalam operasi kesepuluh sepanjang tahun 2025 itu, tim penindakan KPK berhasil mengamankan total sepuluh orang.
Sehari setelahnya, pada 19 Desember 2025, KPK mengumumkan bahwa delapan orang telah dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Baca Juga: KPK Bantah Lindungi Bos Maktour di Kasus Korupsi Kuota Haji
Di antara delapan orang tersebut, dua nama paling menonjol adalah sang Bupati, Ade Kuswara Kunang, dan ayahnya, HM Kunang, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa.
Dalam rangkaian operasi tersebut, KPK juga berhasil menyita barang bukti krusial berupa uang tunai senilai ratusan juta rupiah. Uang ini diduga kuat merupakan bagian dari transaksi suap yang berkaitan dengan pengaturan proyek-proyek strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Puncak dari proses penyelidikan awal terjadi pada 20 Desember 2025, ketika KPK secara resmi mengumumkan penetapan tiga orang tersangka. Mereka adalah Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang (ADK), ayahnya HM Kunang (HMK), serta seorang pihak swasta bernama Sarjan (SRJ).
KPK merinci peran masing-masing tersangka dalam konstruksi perkara. Ade Kuswara dan ayahnya, HM Kunang, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap.
Keduanya diduga menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk menerima sejumlah uang dari pihak swasta.
Sementara itu, Sarjan ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap, yang diduga memberikan uang untuk memuluskan kepentingan bisnisnya terkait proyek di wilayah tersebut.
Berita Terkait
-
KPK Bantah Lindungi Bos Maktour di Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Soal KPK Tak Pajang Tersangka, Novel Baswedan Soroti Dalih Kemanusiaan
-
KPK: Eks Sekjen Kemnaker Heri Sudarmanto Diduga Terima Duit Pemerasan Rp12 Miliar
-
KPK Buka Peluang Terapkan Pasal TPPU Kepada Eks Sekjen Kemnaker Heri Sudarmanto
-
7 Fakta Ketua PBNU Diduga Terima Duit Haram Korupsi Kuota Haji
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- Bukan Sekadar Wacana, Bupati Bogor Siapkan Anggaran Pembebasan Jalur Khusus Tambang Tahun Ini
Pilihan
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
Terkini
-
Jerman, Prancis, Swedia dan Norwegia Kirim Militer ke Greenland, NATO Siap Hadang AS
-
Banjir Ancam Produksi Padi Lebak, Puluhan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen Total
-
Franciscus Sibarani: Aspirasi PerCa Jadi Bahan Revisi UU Kewarganegaraan
-
Bayang-bayang Dwifungsi: Saat UU TNI Baru Memicu Perlawanan di Mahkamah Konstitusi
-
Korban Pemerkosaan Mei 1998 Alami Teror Berlapis, Dilarang Lapor Oleh Pejabat Negara
-
Bacakan Nota Pembelaan, Terdakwa Demonstrasi Agustus Dapat Siksaan saat Ditangkap
-
Said Iqbal Kritik Keras Dedi Mulyadi: Jangan Jawab Kebijakan Upah Buruh dengan Konten Medsos!
-
Tolak Pilkada Lewat DPRD, Presiden Partai Buruh: Cuma Untungkan Bandar Politik!
-
Saksi TGPF Ungkap Alasan Kasus Pemerkosaan Massal Mei 1998 Sulit Diproses Hukum
-
Said Iqbal Desak UMP DKI 2026 Jadi Rp5,89 Juta: Kerja di Jakarta Itu Nombok