- Banjir akibat curah hujan tinggi merendam 136 hektare sawah di Lebak, Banten, mengancam panen padi awal 2026.
- Sebanyak 50 hektare dipastikan gagal panen, sementara 86 hektare lainnya berisiko gagal jika banjir tidak segera surut.
- Pemerintah daerah siapkan bantuan sarana produksi, sementara petani mendesak pembangunan infrastruktur irigasi permanen.
Suara.com - Ancaman gagal panen membayangi petani di Kabupaten Lebak, Banten, menyusul banjir yang merendam ratusan hektare lahan persawahan akibat curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini berpotensi mengganggu produksi padi menjelang masa panen awal 2026.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menyebutkan total lahan padi yang terdampak banjir mencapai sekitar 136 hektare. Sebagian besar tanaman padi tersebut telah berusia sekitar 80 hari setelah tanam dan direncanakan dipanen pada Februari 2026.
Dari luas lahan terdampak tersebut, sebanyak 50 hektare dipastikan gagal panen karena terendam banjir hingga dua pekan. Sementara itu, 86 hektare lainnya masih terendam selama dua hari dan berisiko mengalami kerusakan lebih parah jika banjir tidak segera surut.
"Kami khawatir jika banjir itu merendam padi hingga satu pekan ke depan dipastikan 86 hektare lainnya bisa puso," katanya menjelaskan.
Deni menambahkan, wilayah persawahan yang mengalami dampak terparah berada di Kecamatan Cibadak dan Banjarsari. Daerah tersebut dikenal rawan banjir karena merupakan sawah tadah hujan yang belum didukung jaringan irigasi memadai.
Meski demikian, pemerintah daerah menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi bagi petani terdampak, berupa bantuan sarana produksi pertanian.
"Kami minta petani yang gagal panen agar cepat mengusulkan bantuan sarana produksi agar bisa melakukan percepatan tanam awal Februari mendatang," katanya.
Di tingkat petani, dampak kerugian sudah mulai dirasakan. Petani di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, mengaku kehilangan hasil panen di lahan seluas 20 hektare dengan total kerugian mencapai Rp200 juta, berdasarkan biaya produksi sekitar Rp10 juta per hektare.
"Kami bersama petani kini mengusulkan bantuan sarana produksi agar bisa kembali tanam," kata Iyang, seorang petani Desa Tambakbaya Kabupaten Lebak.
Baca Juga: Bak Film Laga, Detik-detik Calo Akpol Rp1 Miliar Tabrak Mobil Polisi Saat Ditangkap
Selain bantuan jangka pendek, petani juga mendorong adanya solusi permanen. Kelompok Tani Desa Cisangu menilai pembangunan infrastruktur irigasi menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah banjir berulang.
Kelompok Tani Desa Cisangu Ahmad mengatakan, pihaknya mendesak Dinas Sumber Daya Air (SDA) Pemprov Banten segera membangun irigasi yang ada di Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang.
"Saya kira penyebab banjir itu disebabkan tidak berfungsinya saluran irigasi itu," ujarnya.
Berita Terkait
-
Bak Film Laga, Detik-detik Calo Akpol Rp1 Miliar Tabrak Mobil Polisi Saat Ditangkap
-
Antisipasi Banjir, Jakarta Selatan Siagakan Puluhan Pompa Air di Titik Rawan
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
-
BNI Bersihkan Masjid Darul Aman Pascabanjir di Agam
-
CEO Danantara: 1.320 Huntara Bakal Diserahkan ke Korban Banjir Sumatera Besok
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- Bukan Sekadar Wacana, Bupati Bogor Siapkan Anggaran Pembebasan Jalur Khusus Tambang Tahun Ini
Pilihan
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
Terkini
-
Jerman, Prancis, Swedia dan Norwegia Kirim Militer ke Greenland, NATO Siap Hadang AS
-
Ono Surono Dicecar KPK Soal Aliran Uang Korupsi Bupati Bekasi, Kapasitas Sebagai Ketua PDIP Jabar
-
Franciscus Sibarani: Aspirasi PerCa Jadi Bahan Revisi UU Kewarganegaraan
-
Bayang-bayang Dwifungsi: Saat UU TNI Baru Memicu Perlawanan di Mahkamah Konstitusi
-
Korban Pemerkosaan Mei 1998 Alami Teror Berlapis, Dilarang Lapor Oleh Pejabat Negara
-
Bacakan Nota Pembelaan, Terdakwa Demonstrasi Agustus Dapat Siksaan saat Ditangkap
-
Said Iqbal Kritik Keras Dedi Mulyadi: Jangan Jawab Kebijakan Upah Buruh dengan Konten Medsos!
-
Tolak Pilkada Lewat DPRD, Presiden Partai Buruh: Cuma Untungkan Bandar Politik!
-
Saksi TGPF Ungkap Alasan Kasus Pemerkosaan Massal Mei 1998 Sulit Diproses Hukum
-
Said Iqbal Desak UMP DKI 2026 Jadi Rp5,89 Juta: Kerja di Jakarta Itu Nombok