- Presiden Prabowo Subianto diprediksi melakukan reshuffle kabinet perdana tahun 2026 pasca evaluasi kinerja kabinet pada retret di Hambalang, Bogor.
- Pengamat politik memprediksi perombakan melibatkan menteri berkinerja buruk dan potensi penambahan posisi wakil menteri baru.
- Menteri Raja Juli dan Zulkifli Hasan disebut layak dicopot karena sorotan publik terkait bencana di Sumatra dan kinerja pangan.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto diprediksi akan kembali melakukan perombakan kabinet atau reshuffle pada tahun ini. Jika benar, reshuffle ke depan akan menjadi yang perdana pada tahun 2026.
Prediksi akan adanya bongkar pasang menteri terlihat dari pelaksanaan retret di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Selasa (6/1/2026). Pelaksanaan retret itu, diakui Prabowo sendiri, salah satunya untuk mengevaluasi kinerja kabinet selama satu tahun ke belakang.
Pengamat politik Yusak Farchan menilai penyelenggaraan retret bukan sekadar formalitas, melainkan upaya Prabowo untuk membaca dinamika internal di Kabinet Merah Putih.
Menurutnya, retret merupakan cara Prabowo menguji loyalitas sekaligus memetakan kekompakan para pembantunya di kabinet.
"Jadi retret itu seperti cek ombak sebelum reshuffle. Pasca-retret, tidak menutup kemungkinan Presiden Prabowo akan melakukan reshuffle atau kocok ulang kabinet," kata Yusak kepada Suara.com, Kamis (15/1/2026).
Yusak mengatakan kemungkinan akan ada pergantian menteri atau wakil menteri yang berkinerja buruk. Selain itu, Prabowo juga berpotensi menambah pos baru pada jabatan wakil menteri.
"Meskipun kinerja kabinetnya sering dipuji, tapi Prabowo melihat belum optimal. Prabowo ingin skuad kabinetnya lari lebih kencang, bahkan tidak mengenal libur," kata Yusak.
Siapa yang Layak Dicopot?
Yusak menilai ada sejumlah menteri yang layak dicopot oleh Presiden Prabowo. Pasalnya, sejumlah menteri tersebut dinilai tidak dapat mengikuti ritme kerja cepat Prabowo. Selain faktor tersebut, terdapat pula sorotan publik terhadap kinerja menteri terkait.
"Kalau melihat kinerja kabinet, sejauh ini yang paling disorot publik kan Raja Juli dan Zulkifli Hasan. Keduanya dianggap punya andil terhadap terjadinya bencana di Sumatra," kata Yusak.
Baca Juga: Prabowo Naikkan Anggaran Riset 50 Persen Jadi Rp12 Triliun, Fokus pada Swasembada Pangan dan Energi
Khusus Menteri Kehutanan Raja Juli, Yusak menilai pencopotan layak dilakukan karena yang bersangkutan dinilai tidak memiliki komitmen kuat dalam menjaga hutan Indonesia.
"Raja Juli tampak tidak tegas terhadap pelaku kerusakan lingkungan. Kompetensinya dalam sektor kehutanan juga sering dipertanyakan publik," ujarnya.
Sementara itu, alasan melakukan reshuffle terhadap Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan adalah karena Ketua Umum PAN tersebut dinilai tidak memiliki kepemimpinan yang efektif dalam menjaga ketersediaan pangan pascabencana.
Padahal dalam kondisi darurat bencana, lanjut Yusak, Kemenko Pangan memiliki peran krusial untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi dan persediaan logistik berjalan tanpa hambatan.
"Meskipun turun langsung dalam penanganan bencana, tetapi respons publik justru negatif terhadap Zulhas karena dianggap hanya pencitraan saja," kata Yusak.
Selain reshuffle, menurut Yusak, hal lain yang saat ini ditunggu-tunggu publik adalah pergantian pimpinan BUMN yang memiliki kinerja buruk.
Berita Terkait
-
Prabowo Naikkan Anggaran Riset 50 Persen Jadi Rp12 Triliun, Fokus pada Swasembada Pangan dan Energi
-
Airlangga Ungkap Pemerintah Siapkan Dana 6 Miliar USD demi Bentuk BUMN Tekstil Baru
-
Direstui Prabowo, Purbaya Ancam Setop Kirim Anggaran Jika Kementerian Lelet Belanja
-
RUU Disinformasi Masih Wacana, Mensesneg Sebut untuk Pertanggungjawaban Platform Digital
-
Terungkap! Ini yang Dikoreksi Prabowo dari Desain hingga Fungsi IKN
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- Bukan Sekadar Wacana, Bupati Bogor Siapkan Anggaran Pembebasan Jalur Khusus Tambang Tahun Ini
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Mendagri Pimpin Rakor Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra
-
DPRD DKI Pastikan Tiang Monorel Rasuna Said Kembali ke Adhi Karya usai Dibongkar Pemprov
-
Laras Faizati Divonis Bersalah Tapi Bebas, Bivitri: Ini Bukan Putusan Demokratis
-
Soal Vonis Laras Faizati, Ketua Komisi III DPR Sebut Bukti Manfaat Nyata KUHP dan KUHAP Baru
-
Prabowo Naikkan Anggaran Riset 50 Persen Jadi Rp12 Triliun, Fokus pada Swasembada Pangan dan Energi
-
Pembongkaran Tiang Monorel Rasuna Said Tak Langgar Prosedur, Pemprov: Itu Berdiri di Atas Tanah Kita
-
KPA: Konflik Agraria Naik 15 Persen di Tahun Pertama Prabowo, Kekerasan Aparat Melonjak
-
OPM Tembaki Pesawat Hercules, Wapres Gibran Batal ke Yahukimo dan Balik ke Jakarta
-
Buntut Kasus Aurelie Moeremans, Komisi XIII DPR Akan Gelar Rapat Gabungan Bahas 'Child Grooming'
-
AS Kirim USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, Ancam Keamanan Iran?