- Laporan Reuters mengindikasikan aksi militer AS terhadap Iran "segera terjadi" di tengah kerusuhan domestik Iran dipicu inflasi tinggi.
- Presiden Trump sempat menunda serangan udara karena saran penasihat mengenai risiko pembalasan dan kesiapan aset regional.
- AS mengevakuasi personel dan meminta warga negara meninggalkan Iran, sementara Iran menyatakan kesiapan perang jika diserang.
Suara.com - Laporan terbaru dari kantor berita Reuters mengklaim bahwa aksi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Republik Islam Iran kini berstatus "segera terjadi" dan diprediksi bisa meletus hanya dalam hitungan jam ke depan.
Klaim ini muncul setelah Presiden Donald Trump secara konsisten melayangkan ancaman terhadap Teheran, yang saat ini tengah diguncang kerusuhan hebat sejak akhir Desember.
Gejolak domestik Iran dipicu oleh lonjakan inflasi ekstrem dan jatuhnya nilai tukar rial, di mana otoritas Teheran menuduh Washington dan Tel Aviv berada di balik kekerasan jalanan yang merenggut banyak nyawa tersebut.
Seorang pejabat militer Barat yang identitasnya dirahasiakan menyatakan bahwa seluruh indikator tempur saat ini menunjukkan serangan AS sudah di depan mata.
Namun, sumber lain mengungkapkan bahwa karakter kepemimpinan Trump yang mengedepankan ketidakpastian membuat situasi sulit diprediksi secara pasti.
Bahkan, dilaporkan terdapat momen krusial di mana Trump diduga hampir memberikan lampu hijau untuk serangan udara pada Rabu malam, namun keputusan tersebut dibatalkan hanya beberapa menit sebelum peluncuran.
"Trump menghentikannya karena para penasihatnya tidak dapat memberikan jaminan bahwa serangan tersebut akan menggulingkan rezim (Iran) secara instan. Mereka memperingatkan risiko pembalasan keras dari Iran sementara aset regional AS mungkin belum sepenuhnya siap menghadapi perang terbuka," ungkap sumber tersebut, Kamis (15/1/2026).
Meski serangan sempat tertunda, ketegangan tetap berada di level tertinggi. Reuters mencatat dua pejabat Eropa meyakini intervensi militer masih sangat mungkin terjadi dalam kurun waktu 24 jam ke depan.
Senada dengan hal itu, pejabat Israel memberikan sinyal bahwa Trump tampaknya sudah menetapkan pilihan untuk menyerang, meski skala operasinya belum terungkap jelas.
Baca Juga: Eskalasi AS-Iran: Ada Operasi Intelijen Israel di Balik Protes Rakyat Iran?
Sebagai langkah antisipasi, militer AS mulai mengevakuasi sebagian personelnya dari berbagai pangkalan di Timur Tengah. Langkah ini diambil guna meminimalisir korban jiwa jika Iran melakukan serangan balasan secara mendadak.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan instruksi tegas bagi seluruh warga Amerika di Iran untuk segera angkat kaki dari negara tersebut.
Dilansir via News Nation, menanggapi situasi ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa meskipun pihaknya tidak menginginkan pertumpahan darah, Teheran dalam posisi "siap untuk perang" jika kedaulatan mereka dilanggar.
Di tengah dentum genderang perang, Arab Saudi dilaporkan mengambil inisiatif diplomatik yang melibatkan Qatar dan Oman untuk membujuk Washington agar membatalkan rencana serangan tersebut.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal (WSJ), Riyadh sangat mengkhawatirkan efek domino ekonomi dan politik yang akan muncul.
Beberapa poin utama yang menjadi kekhawatiran negara-negara Teluk meliputi:
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Aksi Kamisan ke-900: Keteguhan Sumarsih Mencari Keadilan bagi Sang Anak
-
Ahli Hukum di Sidang Gus Yaqut: Kerugian Negara Harus Ada Sebelum Penetapan Tersangka
-
Ketua Baleg DPR RI Pastikan RUU PPRT Disahkan Tahun Ini, Rieke Pitaloka Usul Momentum Hari Kartini
-
Bareskrim Polri Minta Bank Perketat Aturan Buka Rekening demi Putus Aliran Dana Judi Online
-
Tak Hanya Outsourcing, Perusahaan Keluarga Fadia Arafiq juga Kuasai Proyek Makan-Minum di 3 RSUD
-
Pakar UGM: Keputusan Menag Soal Kuota Haji Belum Tentu Melanggar Hukum Tanpa Pengujian Resmi
-
Sikap RI 2024 vs 2026: Mengapa Tak Ada Lagi Kata 'Mengutuk' untuk Serangan AS-Israel ke Iran?
-
Korea Utara Uji Coba Rudal Nuklir Baru saat Timur Tengah Memanas
-
22 Tahun Terkatung-katung, JALA PRT Sebut RUU PPRT Cetak Sejarah Terlama di DPR
-
Sesalkan RI Belum Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran, FPI Tunggu Penjelasan Pemerintah