- Tim DVI Polda Sulsel sedang mengumpulkan sampel DNA ante mortem dari keluarga 10 korban pesawat jatuh di Sulsel.
- Delapan keluarga telah memberikan sampel DNA, sementara proses identifikasi bergantung pada pencocokan data dengan post mortem jenazah.
- Proses pengambilan sampel DNA keluarga dilakukan lintas provinsi melalui koordinasi Biddokes Polda setempat untuk memastikan akurasi.
Suara.com - Di tengah duka mendalam tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, sebuah proses krusial dan senyap tengah berlangsung.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel kini berpacu dengan waktu, 'menjemput bola' untuk mengumpulkan sampel DNA dari keluarga korban yang tersebar di berbagai provinsi.
Sampel DNA ini menjadi kunci terakhir untuk memastikan identitas 10 korban yang berada di dalam pesawat nahas tersebut.
Hingga kini, delapan dari sepuluh keluarga korban telah berhasil dijangkau dan memberikan sampel DNA mereka. Proses ini menjadi langkah awal yang fundamental sebelum jenazah korban dapat diidentifikasi dan diserahkan kepada orang-orang yang mereka cintai.
"Tim telah memeriksa ante mortem keluarga korban. Ada delapan orang DNA (diambil) dan keterangan lainnya. Untuk dua lainnya (keluarga korban) belum," ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto kepada wartawan di Posko DVI Biddokes Polda Sulsel, Jalan Kumala Makassar, Senin (19/1/2026).
Didik menjelaskan bahwa metode identifikasi ini mengandalkan pencocokan data. Data ante mortem, yaitu data fisik korban sebelum meninggal seperti rekam medis, rekam gigi, dan terutama DNA, akan dicocokkan dengan data post mortem yang diambil dari jenazah yang ditemukan oleh tim SAR gabungan.
"Dari data awal ante mortem dan post mortem ini akan dicocokkan, apakah sesuai dengan pihak penerbangan perusahaan itu. Kita masih menunggu penyerahan jasad korban atau temuan lainnya," tutur Didik saat konferensi pers sebagaimana dilansir Antara.
Tantangan terbesar dalam proses ini adalah lokasi keluarga korban yang tidak terpusat di Sulawesi Selatan. Menyadari hal ini, tim DVI mengambil langkah proaktif dengan berkoordinasi dengan Biddokes Polda di wilayah lain, seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat, untuk mendatangi langsung kediaman keluarga.
"Ada empat keluarga korban yang datang ke DVI dan empat keluarga yang didatangi tim di kediaman masing-masing. Data korban ini nanti disampaikan setelah diidentifikasi," katanya.
Baca Juga: Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros Sulsel, Keluarga Penumpang Masih Menunggu Kabar
Meskipun tim SAR gabungan telah menemukan beberapa jenazah di lokasi kecelakaan, tim DVI menegaskan pentingnya kehati-hatian dan prosedur yang ketat untuk menghindari kesalahan identifikasi yang dapat menambah duka keluarga.
"Tapi, kita tidak boleh menyampaikan siapa saja (identitas) yang sudah (ditemukan) dan belum, agar tidak terjadi kesalahan," ucap Didik.
Penegasan mengenai prosedur standar juga datang dari Mabes Polri. Kepala Bidang DVI Pudokkes Mabes Polri, AKBP Wahyuhidayati, menekankan bahwa seluruh proses pemeriksaan dan pengambilan sampel jenazah akan dilakukan di posko, bukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP), untuk menjamin akurasi dan administrasi yang baik.
"Setelah ada jenazah baru bisa dilakukan post mortem. Jadi untuk jenazah pengambilan sampel akan dilaksanakan di tempat pemeriksaan jenazah. Kami tidak pernah mengambil sampel di TKP. Supaya, nanti terdata dengan baik nomornya, segala administrasinya," tutur Wahyuhidayati.
Ia juga membenarkan bahwa koordinasi lintas Polda menjadi tulang punggung dalam pengumpulan data ante mortem ini.
"Ini ternyata keluarga-keluarganya itu tidak ada di Sulsel. Ada yang di Jateng, ada di Jabar, ada di Bekasi. Kami berkoordinasi dengan Biddokes Polda setempat untuk mencari, mendatangi keluarga," ucapnya.
Berita Terkait
-
Unggahan Terakhir Pramugari Florencia Lolita Sebelum Tragedi Tuai Sorotan Publik
-
Pengumpulan Sampel Keluarga Korban Pesawat ATR 42-500
-
Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros Sulsel, Keluarga Penumpang Masih Menunggu Kabar
-
5 Fakta Tragedi Pesawat IAT di Maros: Tabrak Gunung, Sinyal Darurat Mati Total
-
Tim SAR Gabungan Temukan Serpihan Pesawat ATR 42-500
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan