- Satgas PKH mencabut 28 izin perusahaan (PBPH dan sektor lain) pasca-bencana di Sumatra sebagai respons terhadap kerugian ekologis.
- JATAM menganggap pencabutan izin adalah 'sandiwara politik' karena pemerintah minim transparansi mengenai pelanggaran dan investigasi detail.
- Menurut JATAM, bencana di Sumatra disebabkan oleh kebijakan ekstraktif korporasi, bukan murni bencana alam, dan negara melindungi pelaku.
Suara.com - Langkah pemerintah mencabut izin 28 perusahaan yang beroperasi di kawasan hutan Sumatra pasca-bencana banjir dan longsor hebat dinilai hanya gimik.
Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) melontarkan kritik pedas, menyebut keputusan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) itu tak lebih dari sebuah 'sandiwara politik' yang dirancang untuk meredam amarah publik yang memuncak.
Langkah Satgas PKH yang terkesan tegas itu sebelumnya diumumkan ke publik. Mereka mencabut izin 22 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) untuk hutan alam dan hutan tanaman dengan total luas mencapai 1.010.592 hektare.
Selain itu, izin enam perusahaan lain di sektor tambang, perkebunan, dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (PBPH-HK) juga ikut dicabut. Tindakan ini secara eksplisit dikaitkan sebagai respons atas bencana ekologis yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat.
Namun, bagi JATAM, pengumuman tersebut hanyalah fasad tanpa substansi. Mereka menyoroti minimnya transparansi dan akuntabilitas dalam proses tersebut.
Menurut JATAM, pemerintah berhenti pada penyebutan angka dan nama perusahaan, tanpa pernah membuka secara rinci bentuk pelanggaran spesifik, metode investigasi yang digunakan, skala kerusakan ekologis dan sosial yang ditimbulkan, serta potensi kejahatan lain yang menyertainya. Peta utuh kejahatan lingkungan yang transparan pun tak pernah dipaparkan.
"Pengurus negara tak benar-benar serius menegakkan keadilan. Dengan mengaburkan aktor kunci, meniadakan transparansi, serta menghindari pertanggungjawaban pidana maupun perdata melalui jalur litigasi, pengurus negara ini kembali memperlihatkan pola klasik pengelolaan bencana yang memihak kepentingan korporasi," ucap Koordinator JATAM Nasional Melky Nahar dalam keterangannya, Kamis (22/1/2026).
Melky menegaskan bahwa bencana yang terjadi di Sumatera bukanlah murni bencana alam. Sebaliknya, ia adalah "bencana buatan" yang lahir dari rahim kebijakan yang ugal-ugalan, yang dengan mudah menyerahkan bentang alam kepada korporasi ekstraktif.
Alih fungsi hutan secara masif, pembukaan lahan skala besar untuk perkebunan sawit, hutan tanaman industri (HTI), pertambangan, serta berbagai proyek ekstraktif lainnya dituding telah menjadi biang keladi utama.
Baca Juga: Konflik Agraria Belum Usai, Legislator Gerindra Minta Pemerintah Buang Ego Sektoral demi Keadilan
Aktivitas korporasi tersebut secara sistematis telah menghancurkan daerah tangkapan air, merusak Daerah Aliran Sungai (DAS), dan melenyapkan benteng ekosistem yang selama ini menjadi pelindung alami bagi ruang hidup warga.
Ironisnya, penanganan negara atas tragedi kemanusiaan dan ekologis ini dinilai jauh dari kata serius.
Menurut Melky, yang terjadi justru sebuah pertunjukan politik untuk menutupi jejak kejahatan para oligarki di sektor ekstraktif, yang diduga kuat terafiliasi langsung maupun tidak langsung dengan lingkaran kekuasaan saat ini.
"Artinya, para pengurus negara secara sadar tengah memisahkan antara kehancuran bentang alam yang menimbulkan katastrofe dari pelaku utama beserta kepentingan ekonomi yang selama ini dilindunginya," katanya.
Oleh karena itu, pencabutan izin ini dipandang hanya sebagai strategi untuk mengelola dan mendinginkan kemarahan publik yang terus membara, bahkan setelah lebih dari 40 hari sejak banjir bandang menerjang sebagian besar wilayah Sumatra.
Aksi tersebut dianggap sebagai katarsis sesaat bagi publik yang marah, tanpa menyentuh akar persoalan dan menyeret para pelaku kejahatan lingkungan ke meja hijau.
"Dengan meniadakan transparansi dan menghindari pertanggungjawaban pidana maupun perdata, negara dinilai kembali mempertontonkan pola klasik penanganan bencana yang berpihak pada kepentingan korporasi," kata Melky.
Berita Terkait
-
Aragog si Laba-laba Pendiam
-
Polemik Anies dan Kemenhut: Benarkah Negara Memfasilitasi Perusakan Hutan?
-
Konflik Agraria Belum Usai, Legislator Gerindra Minta Pemerintah Buang Ego Sektoral demi Keadilan
-
Usai 28 Izin Dicabut, Greenpeace Tagih Transparansi Pemerintah Tertibkan Kawasan Hutan
-
Agincourt Resource Belum Bisa Lakukan Aksi Setelah IUP Tambang Emas Dicabut
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Prabowo Bicara Persatuan Politik: Sebut PDIP dan Koalisi Punya Hati yang Sama
-
Dari Pasal 33 UUD 1945 hingga Prabowonomics, Cak Imin Bicara Mimpi Kedaulatan Ekonomi
-
Bisa Bikin Repot! Prabowo Kasih Cap 'Pemimpin Kancil' buat Dasco, Cak Imin dan Bahlil
-
Cak Imin Dukung Ekspor SDA Satu Pintu Prabowo, Sebut Ada 108 UU yang Harus Dibenahi
-
Pertamina Kilang Plaju Resmi Salurkan Biosolar B50, Tambah Pasokan Energi dari Sumatera Selatan
-
Sidang Korupsi Perkimtan Palembang Ungkap Rp440 Juta Masuk ke Eks Kadis, Lalu Mengalir ke Mana?
-
Cak Imin Minta Prabowo Revisi 108 Undang-Undang demi Kedaulatan Ekonomi
-
PKB Gaungkan Prabowonomics di Harlah ke-28, Cak Imin: Ini Bukan Akal-akalan
-
11 Warna Bedak yang Cocok untuk Kulit Hitam Manis, Dijamin Nampak Menyatu dan Flawless!
-
Cak Imin: Indonesia Kehilangan Arah Ekonomi Selama 25 Tahun