News / Nasional
Jum'at, 23 Januari 2026 | 14:28 WIB
Pelatih Indosalto Yoga Ardian, atau akrab disapa Kak Yow saat melihat anak diidknya salto. (Suara.com/ Dinda Pramesti K)
Baca 10 detik
  • Komunitas Indosalto dibentuk di gang sempit Pluit oleh pelatih Yoga Ardian (Kak Yow) untuk melatih akrobatik anak-anak sekitar.
  • Latihan akrobatik dilakukan tanpa fasilitas memadai seperti matras, mengandalkan disiplin dan presisi untuk menghindari risiko cedera.
  • Salah satu anggota, Acil, telah meraih juara satu tiga kali berturut-turut meskipun berlatih di tengah keterbatasan ruang dan cuaca.

Suara.com - Jalan cor masih lembap dan sisa hujan menyisakan genangan di sela gang sempit kawasan Pluit, Jakarta Utara, Kamis sore (22/1/2026).

Di antara barisan jemuran yang rapat dan juntaian kabel yang rendah, sebuah pemandangan kontras tersaji. Suara tawa anak-anak pecah, mengalahkan sunyi yang biasanya menggelayut di lorong selebar tak sampai lima meter itu.

Sore itu, gang tersebut bersalin rupa. Bukan lagi sekadar urat nadi lalu lintas warga, melainkan arena akrobatik dadakan.

Beberapa anak tampak melakukan pemanasan di atas jalan cor yang keras. Saat gerimis kembali turun merapat, sebagian menepi, namun sisanya bergeming. Mereka tetap tegak menunggu aba-aba, meski napas mereka mengepul tipis di tengah udara dingin.

Di balik kegigihan itu, ada sosok Yoga Ardian, pelatih yang akrab disapa Kak Yow. Semuanya bermula dari langkah sederhana: Kak Yow berlatih salto sendirian di depan rumah.

Gerakan memutar di udara itu rupanya menjadi magnet bagi anak-anak sekitar. Dari rasa penasaran yang tumbuh di pinggir jalan, sebuah komunitas lahir. Indosalto, komunitas yang berisi tujuah anak-anak dengan kemauan kuat untuk belajar akrobatik.

Namun, semangat mereka berbenturan dengan realita ruang ibu kota.

“Di sini lapangan terbatas. Ada, tapi nggak bisa dipakai karena bukan warga situ. Daripada nggak latihan, ya kita manfaatin apa yang ada,” ujar Kak Yow sembari menatap anak-anak didiknya dengan bangga.

Anak-anak Indosalto saat saat akrobatik. (Suara.com/ Dinda Pramesti K)

Tujuan Kak Yow sederhana, ia hanya ingin berbagi ilmunya kepada anak-anak di sekitar gang itu. Ia merasa cukup dengan penghasilannya yang bekerja sebagai pelatih. Ia tak butuh dibayar. Ia hanya ingin berbagi kemampuan yang dimilikinya kepada anak-anak itu.

Baca Juga: 7 Pilihan Mobil Bekas Kecil Selain Agya untuk Rumah di Gang Sempit

Menanam Nyali di Atas Beton

Bagi Kak Yow, ia bukan sekadar melatih fisik, tapi menjaga mimpi. Di tengah keterbatasan biaya, ia menanamkan nyali.

Tanpa matras empuk, risiko cedera mengintai di setiap lompatan. Karena itu, Yoga menerapkan strength training yang disiplin. Presisi adalah harga mati agar mereka tetap aman di atas lantai kasar.

Visi Yoga jauh melampaui sekadar medali. Ia ingin anak-anak pesisir ini mandiri, memiliki keahlian sebagai atlet profesional, pelatih, hingga stuntman. Namun, kendala klasik masih membayangi, lahan.

Terkadang ruang yang terbatas juga menjadi kendala. Namun, belum tentu orang tua anak-anak ini akan mengizinkan jika berlatih di tempat lain.

"Permasalahannya adalah di sini nggak ada tempat milik Pemprov. Nggak ada tempat, maksudnya itu nggak ada lapangan untuk milik Pemprov. Jadi agak-agak susah juga," tambahnya dengan nada getir namun penuh harap.

Bahkan saat kami sedang berbincang, tak jarang motor, orang, dan gerobak yang lewat. Pada saat yang sama, anak-anak yang tengah berlatih ini harus menepi dan memberi mereka jalan. Ketika itulah biasanya latihan repetisi itu agak terganggu.

Meski begitu, menyerah tidak ada dalam kamusnya. Ia selalu membisikkan satu prinsip pada anak-anak: "Selalu ada jalan. Cari jalan itu, konsisten. Jalannya sih cuma satu sebenarnya, konsisten. Mulai dari kita konsisten sendiri nanti akan ada yang mengikuti kita, pasti berhasil."

Aku tersenyum mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Kak Yow. Ia adalah seseorang yang mengajar dengan tulus, cita-citanya bahkan mulia.

Anak-anak Indosalto saat akrobatik. (Suara.com/ Dinda Pramesti K)

Ia pernah membayangkan, seandainya ia memiliki banyak tempat suatu saat nanti, ia ingin mengambil anak-anak di jalan untuk diajarkan berlatih akrobatik secara gratis. Bahkan ia ingin memberi mereka makan secara gratis setelah latihan, dan berharap ilmu yang dibagi bisa berguna untuk mereka.

“Itu cuma cita-cita saya sih, saya pengen berbagi,” ujarnya sambil tersenyum.

Acil: Sang Juara dari Lorong Sempit

Saat latihan inti dimulai, gerimis kian menderas. Tak ada raut takut. Saat ditanya apakah mereka khawatir dimarahi orang tua karena bermain hujan, jawaban mereka kompak dan lantang: “Nggak, Kak!”

Di tengah keriuhan itu, sosok Karlina (13) atau Acil, mencuri perhatian. Rambutnya basah kuyup, bajunya melekat di badan. Namun matanya tenang. Di bawah komando Kak Yow, tubuh mungilnya melenting indah, berputar di udara, dan mendarat mantap di atas cor semen tanpa alas kaki.

Acil bukan sekadar anak gang biasa. Ia adalah pemegang gelar juara satu, tiga kali berturut-turut dalam battle tricking kategori junior perempuan. Bagi gadis yang bermimpi menjadi atlet dan artis ini, jalan yang licin hanyalah bumbu perjalanan.

“Seru sih, Kak, karena bisa hujan-hujanan sama temen-temen,” kata Acil sambil menyeka air di dahinya.

Ada momen mengharukan saat sebuah matras biru tipis digelar. Ketika seorang pengendara motor melintas dan berteriak, “Permisi, Bang!”, dengan sigap anak-anak itu melipat matras agar tak tergilas ban. Begitu motor lewat, matras kembali dibentangkan, dan tawa kembali pecah.

Anak-anak Indosalto saat bersiap akrobatik. (Suara.com/ Dinda Pramesti K)

Mimpi Tanpa Batas

Sebelum kembali melompat, Acil berbagi rahasia keberaniannya. Baginya, rasa takut hanyalah bayangan yang bersarang di pikiran. Dulu, saat pertama kali ia berlatih, ia juga memiliki ketakutannya sendiri. Ia takut cidera. Namun, latihan yang dilakukan secara rutin membuatnya terbiasa dan menghilangkan rasa takutnya.

Ia juga selalu mengingat pesan sang pelatih, kunci menaklukkan ketakutan adalah dengan terus meyakinkan diri sendiri bahwa kita berani.

Sore itu, di bawah remang lampu gang Jakarta, Kak Yow dan anak-anak didiknya membuktikan satu hal: kemiskinan ruang bukan berarti miskin mimpi. Di antara jemuran basah dan dinding rumah yang menghimpit, mereka terus melompat tinggi.

Sebab di gang sempit Pluit ini, mimpi tak pernah punya batas. Ia tumbuh di sela aspal dan diterbangkan oleh keberanian anak-anak yang menolak tunduk pada keadaan.

Reporter: Dinda Pramesti K

Load More