- Arief Kamarudin, warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan, prihatin melihat dominasi ikan sapu-sapu invasif dari Amazon di Kali Ciliwung sejak 2026.
- Ikan sapu-sapu merusak ekosistem lokal dan menyebabkan potensi longsor dengan menggali lubang besar di dinding sungai.
- Arief kini aktif memburu ikan invasif tersebut dan aksinya mendorong Dinas Lingkungan Hidup mulai berdiskusi dengannya.
Sejak Oktober 2025, Arief memutuskan untuk berhenti sekadar menjadi penonton. Ia turun langsung ke sungai, memburu telur dan induk sapu-sapu secara manual.
Tanpa peralatan canggih, ia hanya mengandalkan insting dan keberanian sebagai "anak kali" yang sudah hafal karakter Ciliwung, bahkan saat status Katulampa meningkat.
Namun, musuh terbesarnya bukanlah arus, melainkan ancaman kesehatan yang mengintai di balik air keruh usai menyebur di kali ciliwung.
"Nomor satu adalah gatel. Itu nomor satu, karena gatel itu nggak bisa dihindari. Karena kita nyebur, pasti gatel. Yang nomor dua adalah sebenarnya benda-benda tajam yang ada di sungai. Kayak beling, kayak kayu," ungkapnya.
Dahulu, mencari telur sapu-sapu adalah sampingan ekonomi baginya—dijual seharga Rp5.000 per bonggol kepada pemancing. Namun kini, orientasinya telah berubah total. Ini adalah misi penyelamatan lingkungan.
Setiap telur yang ia angkat adalah satu napas tambahan bagi spesies ikan lokal yang kian terjepit.
Kekuatan Lensa dan Harapan Besar
Sebagai seorang fotografer, Arief paham betul kekuatan visual. Sejak 2019, ia mendokumentasikan aksinya di media sosial. Belakangan, kontennya di TikTok yang mengedukasi bahaya spesies invasif menjadi viral.
Tentu, aksi memusnahkan ikan ini mengundang pro dan kontra. Banyak netizen yang merasa kasihan. Menanggapi hal tersebut, Arief hanya tersenyum tenang.
Baca Juga: Update Banjir Jakarta: 90 RT dan 9 Ruas Jalan Masih Tergenang hingga Sabtu Pagi
"Menurut saya yang saya lakukan itu sudah cukup benar. Menurut saya orang-orang yang saya bilang kontra, mungkin mereka belum tahu aja. Makanya ya pelan-pelan saya kasih tahu di sosial media saya," jelasnya.
Viralnya aksi Arief mulai mengetuk pintu birokrasi. Dinas Lingkungan Hidup baru-baru ini menyambangi kediamannya untuk berdiskusi. Meski bantuan nyata pemerintah belum sepenuhnya turun, Arief melihat ini sebagai titik awal kolaborasi besar.
"Karena nggak bisa cuma satu atau dua orang yang ngurusin sapu-sapu. Harus pemerintah turun tangan, komunitas-komunitas ciliwung, dan masyarakat gitu sih menurut saya, Saya kan perorangan gitu, misalnya perorangan-perorangan, Komunitas belum cukup, memang harus dari pemerintah sih," harapnya.
Pesan untuk Masa Depan
Arief menekankan bahwa Ciliwung adalah cermin perlakuan manusia terhadap alam. Ia memberikan pesan menohok bagi para pehobi ikan hias agar berhenti membuang peliharaan yang tak terawat ke sungai.
"Ya itu kalau misalnya punya ikan hias, kalau misalnya udah bosen ya jangan dilepas di sungai gitu kan, Kesian dia di lepas ya. Lepas tuh baik sebenarnya, sebenarnya itu yang menurut dia baik cuman caranya salah," tegasnya.
Bagi Arief, Ciliwung bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi rumah yang harus dijaga keindahannya.
"Jadi, nanti kedepannya harapan saya, keciliwung buang sampahnya nggak ada, terus ikan invasifnya lama-lama berkurang, pada akhirnya Kali ciliwung udah bisa jadi tempat, bukan cuma tempat sampah lagi, jadi bisa orang nyari duit di situ, hiburan gitu, main," tutupnya penuh harap.
Arief Kamarudin mungkin hanya satu orang dengan sepasang tangan. Namun, di balik setiap ikan sapu-sapu yang ia singkirkan, ada sejuta harapan untuk Ciliwung yang lebih seimbang dan kembali berdenyut bagi habitat aslinya.
Berita Terkait
-
Sosok Arief 'Anak Kali' yang Menaruh Asa di Ciliwung Lewat Konten Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Siomay Campuran Ikan Sapu-Sapu, Dinas KPKP DKI Ingatkan Bahaya Logam Berat yang Mengintai
-
Normalisasi Ciliwung Dikebut, Pramono Pastikan Relokasi dan Pembebasan Lahan Segera Berjalan
-
Update Banjir Jakarta: 90 RT dan 9 Ruas Jalan Masih Tergenang hingga Sabtu Pagi
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian