- Presiden Trump menekan sekutu dan China untuk bergabung dalam koalisi guna membuka kembali Selat Hormuz yang vital bagi minyak dunia.
- Iran menutup selat tersebut bagi kapal AS dan sekutunya sebagai respons atas serangan gabungan yang terjadi pada 28 Februari.
- Mayoritas sekutu utama AS, seperti Jepang, Australia, dan Prancis, menolak mengirimkan aset militer ke Selat Hormuz.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus menekan negara-negara sekutu untuk bergabung dalam koalisi militer guna membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati oleh seperlima perdagangan minyak dunia.
Meski Trump mengklaim telah menuntut tujuh negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah untuk mengamankan wilayah tersebut, respons yang didapat justru jauh dari harapan.
Dalam perjalanannya kembali ke Washington dari Florida, Trump menyatakan bahwa AS tidak terlalu membutuhkan Selat Hormuz karena akses energi dalam negeri yang melimpah.
"Saya menuntut negara-negara ini masuk dan melindungi wilayah mereka sendiri," ujar Trump, dikutip via Politico.
Ia menyoroti ketergantungan China yang mencapai 90% pada minyak dari selat tersebut, sementara AS hanya mendapatkan porsi minimal.
Di sisi lain, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran menutup selat bagi kapal AS dan sekutunya sebagai balasan atas serangan gabungan pada 28 Februari lalu.
Namun, bagi negara lain, Iran siap membukakan akses selama tidak memiliki aliansi khusus dengan AS.
Araghchi menolak untuk berdialog dengan AS mengenai penghentian perang, dan menyatakan bahwa Iran tidak memiliki rencana untuk memulihkan situs pengayaan uranium yang hancur dalam serangan sebelumnya.
Sekutu Ramai-Ramai Menolak Pengerahan Militer
Baca Juga: Fakta Rudal Sejjil, Senjata Rahasia Iran yang Pertama Kali Diluncurkan ke Israel
Laporan dari berbagai negara menunjukkan bahwa tidak ada satupun sekutu utama AS yang serius mempertimbangkan pengiriman aset militer ke Selat Hormuz saat ini:
- Jepang: Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan belum ada keputusan untuk mengirim kapal pengawal. Pengerahan pasukan pertahanan ke luar negeri adalah isu yang sangat sensitif secara politik bagi negara pasifis ini. Sebagai langkah darurat, Jepang mulai melepas cadangan minyak nasional untuk pertama kalinya sejak tahun 2022 guna meredam kekhawatiran pasokan.
- Australia: Menteri Transportasi Catherine King dengan tegas menolak permintaan tersebut. "Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz," ujarnya. Oposisi Australia juga mempertanyakan ketersediaan kapal perang yang mampu melakukan misi berisiko tinggi tersebut dengan aman.
- Inggris: Meski mempertimbangkan pengiriman penyapu ranjau udara untuk membersihkan jalur air, London menilai pengiriman kapal perang akan memperburuk situasi dan meningkatkan risiko konflik.
- Prancis: Menolak pengerahan kapal perang atau penambahan kekuatan militer, menegaskan bahwa postur militer mereka saat ini difokuskan pada stabilitas regional, bukan eskalasi konflik.
- Korea Selatan: Menyatakan masih akan terus berkomunikasi dengan AS dan meninjau situasi dengan cermat sebelum mengambil keputusan.
Ancaman Masa Depan NATO dan KTT China
Tekanan Trump tidak hanya ditujukan kepada sekutu tradisional, tetapi juga kepada China. Ia memberi isyarat akan menunda pertemuan puncak (summit) dengan Presiden Xi Jinping jika China tidak membantu membuka jalur tersebut.
Trump juga memperingatkan bahwa masa depan aliansi NATO akan terancam jika negara-negara anggotanya tidak datang membantu Washington dalam konflik ini.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pasca-serangan udara AS-Israel telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, memicu lonjakan harga energi global.
Berita Terkait
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Bagaimana Nasib Haji 2026?
-
Trump Minta Bantuan Sekutu Amankan Selat Hormuz, Jepang hingga Australia Enggan Kirim Kapal
-
Presiden AS Donald Trump: Setelah Iran Selesai, Selanjutnya Kuba
-
Iran Ringkus 500 Mata-mata Musuh, Terlibat Bocorkan Data Serangan Pasca Gugurnya Khamenei
-
Tampan dan Pemberani, Javier Bardem Kritik Pedas Trump-Netanyahu di Panggung Oscar 2026
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
Pilihan
-
Harry Styles Ungkap Perjuangan Jadi Penyanyi Solo Usai One Direction Bubar
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
Terkini
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Bagaimana Nasib Haji 2026?
-
Terekam Jelas CCTV! Polisi Beberkan Jejak Pelarian Pelaku Teror Air Keras Andrie Yunus
-
Fakta Baru Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS: Pelaku 4 Orang, Sudah Diintai dari Depan KFC Cikini
-
H-5 Lebaran, 10 Ribu Orang Sudah Tinggalkan Jakarta dari Terminal Kampung Rambutan
-
Usai OTT Bupati, KPK Ungkap Catatan Merah Pengadaan Barang dan Jasa di Rejang Lebong
-
Trump Minta Bantuan Sekutu Amankan Selat Hormuz, Jepang hingga Australia Enggan Kirim Kapal
-
Anomali Lelang KPK, Mengapa Dua HP OPPO Harga Rp73 Ribu Bisa Terjual Rp59 Juta?
-
Aktivis Senior Bongkar Sosok Rismon Sianipar: Sejak Awal Curiga Dia Agen yang Disusupkan
-
DPRD Kota Bogor Bahas Program dan Target PDAM Tirta Pakuan untuk Tahun 2026
-
Presiden AS Donald Trump: Setelah Iran Selesai, Selanjutnya Kuba