- Kolonel Purnawirawan Sri Raja Sacandra menyatakan UU No. 2 Tahun 2002 Polri lahir dari konflik elite politik, bukan reformasi.
- Penempatan Polri di bawah Presiden didorong perebutan pengaruh kekuasaan pasca-konflik Gus Dur-Megawati saat itu.
- DPR dinilai gagal mengawasi substantif karena keputusan posisi Polri di bawah Presiden sudah disepakati lobi politik.
Suara.com - Mantan anggota Badan Intelijen Negara, Kolonel Infanteri (Purn) Sri Raja Sacandra, menilai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tidak lahir dari semangat reformasi, melainkan dari konflik politik elite pada awal era pascareformasi.
Pandangan tersebut disampaikan Sri dalam diskusi di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up yang diunggah pada Sabtu (31/1/2026). Menurutnya, penempatan Polri langsung di bawah Presiden sejak awal lebih didorong oleh perebutan pengaruh kekuasaan ketimbang upaya membangun institusi kepolisian yang profesional dan berpihak kepada rakyat.
“Yang dikatakan yang diklaim oleh DPR juga dikatakan oleh Kapolri juga bahwa ini adalah amanah reformasi segala macam. Saya nggak melihat itu Bang,” kata Sri, dikutip Senin (2/2/2026).
“Justru Undang-Undang Nomor 2 itu tahun 2002 tentang Polri lahir itu dilatarbelakangi oleh konflik politik antara Gus Dur dengan Megawati yang sama-sama ingin merebut pengaruh,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, konflik tersebut berujung pada pergantian Kapolri saat itu, Jenderal Polisi Surojo Bimantoro, yang menurutnya sempat melakukan pembangkangan terhadap Presiden Abdurrahman Wahid. Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa insubordinasi dalam tubuh institusi negara bukan hal baru dalam sejarah Polri.
“Sebetulnya ini sebuah pengalaman yang nggak boleh terjadi oleh instrumen-instrumen negara manapun ya untuk melakukan pembangkangan terhadap apa instrumen yang paling yang tertinggi. Karena ini kan semacam insubordinasi,” ujarnya.
Sri menilai, sejak saat itu Polri kerap terombang-ambing dalam pusaran kepentingan politik kekuasaan. Ia menyebut slogan-slogan reformasi dan profesionalisme kepolisian hanya menjadi “kosmetika politik” tanpa perubahan substansial.
Dalam diskusi tersebut, Sri juga mengkritik DPR, khususnya Komisi III, yang dinilai tidak menjalankan fungsi pengawasan secara kritis. Ia menyebut tidak ada perdebatan substansial dalam pembahasan kedudukan Polri karena keputusan telah disepakati sebelumnya melalui lobi-lobi politik.
Ia mengklaim telah terjadi komitmen antara Komisi III DPR dan Polri bahwa “harga mati” Polri tetap berada langsung di bawah Presiden.
Baca Juga: Viral Remaja 18 Tahun Diperkosa 2 Polisi di Jambi, Impian Jadi Polwan Pupus
“Kalau saya lihat ya pada saat kemarin sebetulnya tidak terjadi perdebatan di Komisi III tentang kedudukan karena memang satu komando,” ucapnya.
Terkait reformasi kelembagaan, Sri menilai keputusan DPR melalui rapat paripurna yang menetapkan Polri tetap di bawah Presiden telah mematikan agenda Komite Reformasi Polri.
Padahal, menurutnya, komite tersebut sempat menggagas penempatan Polri di bawah kementerian. Ia juga menyetujui pernyataan pembawa acara yang menilai reformasi telah berhenti sebelum berkembang.
“Mati dalam kandungan,” pungkas Sri.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Viral Remaja 18 Tahun Diperkosa 2 Polisi di Jambi, Impian Jadi Polwan Pupus
-
Video Viral Bongkar Dugaan Manipulasi BAP, Penyidik Polsek Cilandak Diperiksa Propam
-
Guru Honorer Digaji Rp 300 Ribu, Kalah dari Petugas Partai: DPR Usul Pembayaran dari APBN Saja
-
Sebut Kapolri 'Murtad Politik', Sri Raja Kritik Pernyataan Listyo Sigit soal Polri di Bawah Presiden
-
Guru Honorer Ngadu ke DPR: Sulit Masuk Dapodik hingga Jadi Kurir Laundry Demi Tambah Penghasilan
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Tiba Besok di Halim, Jenazah Kopda Farizal Rhomadhon Bakal Disambut Upacara Nasional Pimpinan TNI
-
Tragedi Maut di Basement TB Simatupang: Niat Tolong Rekan, 4 Pekerja Tewas Terjebak Gas Beracun
-
Kecelakaan Maut di Kalideres: Ani Maryati Meninggal Dunia Usai Tersenggol Iring-iring Truk TNI
-
Bukan Sekadar Isu! Said Didu Bongkar Alasan JK Khawatir Indonesia Chaos Juli-Agustus Mendatang
-
Kader Demokrat Dilaporkan ke Kemen PPA Atas Tuduhan Kekerasan Psikis ke Istri dan Penelantaran Anak
-
BNI Tambah Fitur Keamanan, Aplikasi wondr Tak Bisa Diakses Saat Ada Panggilan Masuk
-
'Mirip Nazi!' Wakil Ketua MPR Kecam Keras UU Hukuman Mati Israel bagi Tawanan Palestina
-
Gara-gara Bak Sampah dan Tatapan Sinis, Eks Ojol di Bekasi Sewa Orang Siram Tetangga Pakai Air Keras
-
Dude Herlino dan Alyssa Soebandono Diperiksa Bareskrim Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun, Ini Faktanya
-
Fakta-fakta Penggeledahan Rumah Ono Surono, Uang Ratusan Juta Disita Hingga Drama CCTV Dimatikan