- Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat skor Indonesia terendah (59,5) akibat tingginya risiko kerja jurnalis.
- Sebanyak 94% jurnalis merasa pekerjaannya berisiko tinggi, meningkat dari tahun sebelumnya, dengan pelarangan liputan meluas.
- Praktik swasensor mencapai 80%, paling banyak terjadi saat meliput program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Suara.com - Kondisi kebebasan pers di Indonesia memasuki fase yang mengkhawatirkan. Laporan terbaru Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat penurunan skor menjadi 59,5 dari 100, angka terendah sejak indeks ini diluncurkan.
Laporan tahunan tersebut dirilis oleh Populix bersama Yayasan Tifa dan konsorsium Jurnalisme Aman. Studi ini memotret kondisi kebebasan pers dan keselamatan jurnalis sepanjang satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran.
Salah satu temuan paling mencolok adalah tingginya praktik swasensor di kalangan jurnalis, terutama saat meliput program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Policy and Society Research Manager Populix, Nazmi Haddyat Tamara, menyebut profesi jurnalis kini berada di titik nadir keamanan. Sebanyak 94 persen jurnalis mengakui pekerjaan mereka saat ini berisiko.
“Jadi 94% jurnalis mengungkapkan bahwa pekerjaannya berisiko. Angka ini naik cukup tinggi dibandingkan 2024 dan 2023,” ujar Nazmi dalam acara Diseminasi IKJ 2025 di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Sepanjang 2025, sebanyak 67 persen responden jurnalis mengaku pernah mengalami kekerasan. Meski kekerasan fisik cenderung menurun, bentuk kekerasan lain justru meningkat, seperti pelarangan pemberitaan (96%) dan pelarangan liputan (82%).
Apa Itu Swasensor dan Mengapa Jurnalis Ketakutan?
Laporan tersebut mencatat 72 persen responden mengaku pernah mengalami penyensoran. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan 2024 dan bahkan lebih tinggi daripada 2023.
Lebih jauh, 80 persen jurnalis mengaku melakukan swasensor, yakni praktik menyensor diri sendiri sebelum berita dipublikasikan. Swasensor dilakukan untuk menghindari konflik, melindungi sumber, atau menjaga keselamatan pribadi.
Baca Juga: Komidi Putar 1975
“Jadi tidak hanya mendapatkan sensor setelah produknya jadi, tapi juga melakukan swasensor pada saat melakukan pekerjaan jurnalistik,” jelas Nazmi.
Isu Makan Bergizi Gratis Paling Banyak Diswasensor
Yang mengejutkan, isu yang paling banyak diswasensor oleh jurnalis adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan persentase 58 persen. Di posisi berikutnya terdapat Proyek Strategis Nasional (PSN) sebesar 52 persen.
Banyak jurnalis mengaku tidak dapat mendalami isu MBG lebih jauh karena tekanan serta keterbatasan akses informasi. Nazmi mengungkapkan adanya tekanan tidak tertulis agar pemberitaan lebih menonjolkan sisi positif program tersebut.
“Dilihat beberapa pengakuan dari jurnalis menganggap bahwa mereka tidak boleh untuk memberitakan yang dalam tanda kutip negative vibes gitu. Jadi kalaupun ada berita buruk hanya sekali menceritakan peristiwa tanpa ada pendalaman lebih lanjut,” paparnya.
Akses Informasi Jadi Hambatan Utama
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dittipideksus Bareskrim dan Kortastipidkor Sinkronkan Penyidikan Kasus PT TSL
-
Gus Ipul Apresiasi Jawa Timur, Provinsi Dengan Sekolah Rakyat Terbanyak
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan