- Direktur YKKMP, Theo Hesegem, mengadvokasi empat dugaan pelanggaran HAM berat Papua 2025 ke lembaga negara di Jakarta.
- Kasus utama adalah dugaan pembunuhan anak 7 tahun oleh aparat di Nduga beserta penghilangan jenazah.
- Pelaporan mencakup insiden Juni, September, dan Oktober 2025, menyoroti kebuntuan komunikasi hukum di tingkat lokal.
Suara.com - Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP), Theo Hesegem, mendatangi sejumlah lembaga tinggi negara di Jakarta untuk mengadvokasi empat kasus dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang terjadi di Papua sepanjang tahun 2025.
Kasus yang paling menonjol adalah dugaan pembunuhan seorang anak berusia 7 tahun dan penghilangan paksa jenazahnya oleh aparat militer di Kabupaten Nduga.
Dalam konferensi pers yang digelar, Theo mengungkapkan bahwa situasi kemanusiaan di Papua saat ini ibarat "berada di dalam akuarium", terlihat dari luar, namun ruang gerak masyarakatnya sangat terbatas dan penuh tekanan.
Theo menjelaskan peristiwa yang terjadi pada Desember 2025 di Nduga. Ia memimpin langsung tim investigasi yang harus menempuh perjalanan berat selama 24 jam untuk mencapai lokasi.
Berdasarkan temuan di lapangan, serangan yang diduga menggunakan bom mortir dari udara oleh aparat TNI tersebut menyebabkan seorang anak berusia 7 tahun tewas tertembak saat sedang digendong ibunya.
"Ibunya itu kena serpihan bom mortir di bagian kaki, di bagian kanan. Dan kemudian dia melakukan upaya sendiri karena di sana tidak ada rumah sakit, tidak ada petugas kesehatan," ujar Theo dalam konferensi pers di Graha Oikoumene PGI, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026).
Lebih memprihatinkan, Theo menyebut adanya dugaan penghilangan paksa. Berdasarkan kesaksian sang ibu, setelah anaknya tertembak jatuh, oknum aparat diduga menendang tubuh bocah tersebut ke dalam parit.
Hingga saat ini, jenazah anak tersebut belum ditemukan meskipun keluarga telah melakukan pencarian selama berhari-hari.
"Keluarga menyampaikan bahwa waktu kami ada di sana mereka sampaikan kami minta TNI mempertanggungjawabkan, mengembalikan anak kami itu. Atau TNI menunjukkan tempat kira-kira di mana mereka, anggota TNI menaruhnya. Begitu," ujar Theo.
Baca Juga: Di Balik Layar 'Maira': Tantangan Ekstrem Tim Pembuat Film dan Kisah Para Bintang Cilik
Rentetan Kasus Sepanjang 2025
Selain kasus di Nduga, Theo juga memaparkan tiga kasus lain yang dinilai luput dari penegakan hukum yang serius:
Juni 2025
Penyerangan yang menewaskan satu warga sipil dan menyebabkan sedikitnya 600 warga mengungsi.
September 2025
Kasus rasisme dan kerusuhan yang mengakibatkan satu orang asli Papua tewas ditembak, serta seorang warga non-Papua tewas terkena panah. Hingga kini, proses hukum dilaporkan belum berjalan maksimal.
Oktober 2025
Operasi militer yang menyebabkan satu orang yang diduga anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) tewas dan seorang warga lanjut usia berusia 60 tahun dinyatakan hilang.
Theo menegaskan alasan pihaknya membawa kasus-kasus ini ke Jakarta adalah karena kebuntuan komunikasi dengan aparat di tingkat lokal.
"Setiap kita komunikasi terkait dengan tindakan pasukan non-organisasi itu mereka sampaikan nanti koordinasinya dengan Jakarta, jadi kami tidak bisa tangani. Kalau begini kita mau minta kepada siapa?" tegasnya.
Berita Terkait
-
Di Balik Layar 'Maira': Tantangan Ekstrem Tim Pembuat Film dan Kisah Para Bintang Cilik
-
Tolak PSN Merauke, Majelis Rakyat Papua Peringatkan Risiko Kepunahan Masyarakat Adat
-
Bukan Incar Kursi Cawapres, Bahlil Putuskan Maju Caleg 2029 dari Tanah Papua
-
Raja Ampat Buktikan Konservasi Laut Bisa Sejahterakan Masyarakat Pesisir: Bagaimana Caranya?
-
Pilot-Kopilot Smart Air Tewas Ditembak KKB di Papua, KSAD Jenderal Maruli Tunggu Perintah Mabes TNI
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
-
Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil
-
Ingin Setia: Debut Aziz Padurasta yang Meleburkan Reggae, Rock, dan Punk
-
Tren Botox Meningkat, Ini Pentingnya Memastikan Perawatan Dilakukan Sesuai Standar Medis
-
Sadar Kebijakan Tak Bisa Bahagiakan Semua Pihak, Rudy Susmanto Janji Terus Pembenahan di Bogor
-
Judi Online Kamboja Pakai Pulsa Buat Transaksi Rp890 M, 8 Markasnya Digerebek Bareskrim
-
Dasco Bicara Soal Rencana Dwikewarganegaraan Terbatas, Fasilitasi Diaspora Potensial
-
1.584 Personel Pasukan Gabungan Gelar Apel Kebangsaan di Bogor, Ada Apa?
-
Luruskan Pidato Prabowo, Mendikdasmen Jelaskan Soal Bahasa Asing Wajib Sejak SD