- Veronica Tan soroti pentingnya pengakuan formal perempuan dalam skema perhutanan sosial.
- Wamen PPPA dorong reformasi administrasi perhutanan sosial demi keadilan ekonomi perempuan.
- Model Kebun Wanapangan di NTT diharapkan perkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa.
Suara.com - Akses lahan dalam skema perhutanan sosial dinilai belum menjamin perempuan ikut menikmati hasilnya secara otomatis. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menyoroti masih minimnya pengakuan formal terhadap kontribusi perempuan dalam tata kelola hutan berbasis masyarakat.
Dalam kunjungan kerja dan Diskusi Kebun Wanapangan Perempuan di Kampus Bambu Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Veronica menyatakan bahwa penguatan ekonomi desa melalui perhutanan sosial perlu dibarengi dengan pembenahan sistem administrasi. Hal ini bertujuan agar kerja keras perempuan tidak sekadar menjadi tenaga yang tidak terlihat (invisible labor).
"Perempuan memiliki peran strategis dalam pengelolaan pangan keluarga dan produksi berbasis hutan. Namun sayangnya, belum seluruhnya memperoleh pengakuan formal dalam sistem kelembagaan dan distribusi manfaat ekonomi. Fase penguatan ekonomi berbasis perhutanan sosial tidak cukup hanya dengan membuka akses lahan," ujar Veronica dalam keterangan resmi KPPPA, Minggu (15/2/2026).
Veronica menekankan bahwa pemerintah dan masyarakat perlu memastikan perempuan yang terlibat dalam pengelolaan hutan juga tercatat secara resmi, diakui, serta memiliki akses langsung terhadap hasil yang didapat.
"Reformasi sistem administrasi menjadi kunci agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan secara adil,” tegasnya.
Diskusi tersebut mengangkat sinergi tiga modalitas di NTT, yakni Mama Bambu, Kebun Pangan Perempuan, dan Perhutanan Sosial. Ketiganya diproyeksikan menjadi model pemberdayaan perempuan berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan dan inklusif, sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa.
Menurut Veronica, model Kebun Wanapangan Perempuan dapat menjadi pintu masuk penguatan ekonomi keluarga yang dimulai dari kebutuhan pangan rumah tangga, sembari memperkuat posisi perempuan sebagai pengelola pangan, penjaga lingkungan, serta penggerak ekonomi desa.
Komitmen pemerintah daerah juga disampaikan oleh Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma. Ia menyebut pengelolaan potensi lokal berbasis desa akan terus didorong melalui penguatan produk unggulan daerah dan perluasan akses pasar.
“Kami berkomitmen mendukung penguatan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan potensi lokal agar memiliki nilai tambah dan akses pasar yang lebih luas,” ujar Johni Asadoma.
Baca Juga: Nasib Buruh Perempuan hingga Korban MBG Jadi Sorotan Tajam API
Dari sisi kebijakan, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Catur Endah Prasetiani, menyampaikan bahwa skema perhutanan sosial memberikan akses kelola kepada masyarakat desa di kawasan hutan sebagai bagian dari strategi pengurangan kemiskinan. Menurutnya, penguatan kelembagaan kelompok tani hutan serta kolaborasi lintas sektor menjadi faktor krusial untuk menjaga keberlanjutan program tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil
-
Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan
-
Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time
-
Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu
-
Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini
-
Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya
-
PBNU Masih Survei Lokasi Muktamar ke-35 NU, Persiapan Teknis Terus Dikebut
-
'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
-
Dalami Amplop dari Bupati Kuansing, KPK Buka Peluang Periksa Menhut Raja Juli