News / Nasional
Rabu, 18 Februari 2026 | 15:36 WIB
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. (tangkap layar/ist)
Baca 10 detik
  • Wakil Ketua DPR RI menolak usulan Mentan agar bantuan diaspora Aceh berupa minyak dan gula di Malaysia diuangkan.
  • Mentan khawatir barang bantuan sensitif ganggu stabilitas pasar domestik karena Indonesia merupakan eksportir komoditas tersebut.
  • Rapat koordinasi di Senayan pada 18 Februari 2026 membahas percepatan distribusi bantuan kemanusiaan ini.

Suara.com - Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad secara terbuka menolak usulan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkait penanganan bantuan dari diaspora Aceh di Malaysia untuk korban banjir dan tanah longsor di Aceh.

Inti persoalan bermula dari niat baik warga Aceh yang berdomisili di Malaysia, untuk mengirimkan bantuan bahan pokok berupa minyak goreng dan gula pasir.

Namun, prosedur birokrasi dan kekhawatiran akan stabilitas pasar domestik memicu perbedaan pendapat yang cukup tajam antara pimpinan legislatif dan eksekutif tersebut dalam rapat koordinasi yang digelar di Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Kekhawatiran Mentan Terkait Sensitivitas Komoditas

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kekhawatirannya jika bantuan dalam bentuk barang, khususnya minyak goreng dan gula pasir, masuk ke Indonesia tanpa regulasi yang ketat.

Menurutnya, komoditas tersebut sangat sensitif terhadap dinamika pasar domestik, terlebih Indonesia saat ini merupakan salah satu eksportir minyak goreng terbesar.

Amran mengusulkan agar bantuan fisik tersebut dikonversi atau diuangkan saja agar lebih mudah dikelola dan tidak mengganggu neraca pangan nasional.

"Kami usulkan, kalau bisa, beras ini kan sangat sensitif," ucap Amran saat memberikan argumennya.

Tapi, pernyataan ini segera diluruskan oleh Dasco bahwa bantuan tersebut bukanlah beras.

Baca Juga: Jembatan Darurat Penghubung Warga Terisolasi di Nagari Salareh Aia

"Tidak ada beras pak. Hanya minyak goreng dan gula pasir, itu juga sedikit," jawab Dasco memotong penjelasan Mentan.

Amran kemudian melanjutkan argumennya dengan menekankan posisi Indonesia sebagai negara eksportir.

Ia mengkhawatirkan adanya tumpang tindih kebijakan jika barang yang biasa diekspor justru masuk kembali sebagai bantuan dalam jumlah yang tidak terkontrol.

"Ya kalau masih bisa, kami mengusulkan. Karena kami juga kan ekspor minyak goreng ke sejumlah negara. Kalau memang bisa, bantuan itu diuangkan," kata Amran.

'Barang Sudah Dibeli, Jangan Dipersulit'

Mendengar usulan konversi menjadi uang, Sufmi Dasco Ahmad menunjukkan sikap tegas.

Load More