- UU DKJ menetapkan budaya Betawi sebagai budaya utama, namun implementasinya perlu direspon aktif oleh pemuda.
- Pelestarian budaya Betawi saat ini terhambat karena minimnya penetrasi konten di algoritma media sosial.
- Para tokoh Betawi menekankan pentingnya literasi digital dan persatuan kolektif untuk menjaga eksistensi sosial budaya.
Suara.com - Pengesahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta (UU DKJ) membawa angin segar bagi pelestarian budaya lokal dengan menempatkan kebudayaan Betawi sebagai “budaya utama”.
Namun, bagi para pemuda dan tokoh Betawi, regulasi di atas kertas ini tidak akan berarti banyak jika masyarakatnya tidak segera “menjemput bola” dan beradaptasi dengan algoritma media sosial yang kian kompetitif.
Dalam diskusi virtual bertajuk “Betawi Revolusi: Anak Muda Betawi Bisa Apa?”, para tokoh muda dan praktisi hukum Betawi membedah realita di lapangan. Mereka sepakat bahwa selama ini pelestarian budaya masih terjebak pada ruang-ruang seremonial dan festival tahunan, sementara penetrasi di algoritma media sosial masih sangat minim.
Regulasi Ada, Dampak Belum Terasa
Ihsan Wildan, Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Betawi (KMB), salah satu narasumber, mengungkapkan bahwa meski payung hukum sudah tersedia, implementasinya masih terasa jauh dari keseharian warga.
Senada dengan itu, Revino Akbar, Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi (FKMB), menekankan bahwa masyarakat Betawi tidak boleh hanya menjadi penonton dalam transformasi Jakarta menuju kota global.
“Belum seutuhnya dirasakan… Tapi kalau saya sendiri, keyakinan saya, masih belum masif dari Undang-Undang tersebut,” ujar Ihsan kepada suara.com, Rabu (25/2/2026).
Perang Algoritma dan Identitas Digital
Tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar panggung festival fisik, melainkan bagaimana identitas Betawi mampu “menjajah” algoritma media sosial. Selama ini, konten Betawi sering terjebak pada stereotip lama, sementara konten bersifat intelektual kalah bersaing.
Baca Juga: Kaesang Pangarep: Kirab Budaya PSI Hidupkan UMKM dan Seniman
Ashari Asmat, salah satu peserta diskusi, menyoroti urgensi membangun strategi kolektif, seperti penggunaan tagar secara serentak, guna memperluas jangkauan dan menembus dominasi arus konten digital.
Menurutnya, tanpa literasi dan kesadaran digital yang kuat, eksistensi masyarakat Betawi berpotensi semakin terpinggirkan hingga hanya tercatat sebagai bagian dari sejarah Jakarta semata.
“Bisa nggak kita bikin satu tagar yang sama tentang Betawi? Sehingga tagar itu dipakai oleh kita semua, baik secara organisasi, pribadi, atau kelompok-kelompok lain, sehingga algoritmanya terbaca dengan baik,” ucap Asmat.
Visi Persatuan dan Langkah Hukum
Direktur Eksekutif LBH Pemuda Kaum Betawi, Abdullah Alhabsyi, menutup diskusi dengan mengingatkan bahwa perlindungan terhadap masyarakat adat sudah dijamin hingga level internasional melalui PBB. Namun, perlindungan hukum itu butuh objek yang hidup, yaitu masyarakat yang terus merawat adatnya.
“Jadi kita tidak perlu takut. Masalah kebetawian ini sudah dilindungi, bukan hanya oleh Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, tetapi juga oleh Undang-Undang Dasar 1945, bahkan PBB,” katanya kepada suara.com.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas