- Direktur GIF Teuku Rezasyah dukung ide mediasi Indonesia atas konflik Iran-AS-Israel berdasar landasan filosofis UUD 1945.
- Rezasyah menyoroti kompleksitas konflik dan menyebut lima kesulitan utama bagi upaya mediasi Indonesia yang dilakukan Presiden Prabowo.
- Kesulitan utama termasuk posisi kuat Iran dan AS-Israel, ketidakstabilan politik pasca-kematian pemimpin Iran, serta kurangnya cetak biru negosiasi RI.
Suara.com - Direktur Eksekutif Global Insight Forum (GIF), Teuku Rezasyah menilai ide pemerintah Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel patut dihargai.
Sebab, kata Rezasyah, gagasan tersebut memiliki landasan filosofis dalam UUD 1945. Apalagi, Indonesia berpengalaman dalam memediasi krisis di Filipina Selatan dan Thailand Selatan.
Meski demikian, Rezasyah memberikan sejumlah catatan atas ide Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi juru damai bagi Iran dan AS-Israel.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (Unpad) ini mengingatkan bahwa krisis yang terjasi di Iran dalam menghadapi AS dan Israel, sangatlah kompleks, serta membutuhkan kesiapan yang sangat mendalam dari pihak Indonesia.
Ia mengungkapkan kesulitan pertama adalah posisi AS-Israel dan Iran yang prediksi tidak mungkin mengurangi komitmen mereka.
"Bagi AS dan Israel, pemerintahan di Teheran harus berganti, dan penguasaan nuklir dan rudal balistik agar ditutu," kata Rezasyah kepada Suara.com, Selasa (3/2/2026).
Sementara bagi Iran, posisi mereka untuk bertahan adalah mutlak karena keamanan hukum internasional wilayah dan kedaulatan mereka telah dihancurkan.
"Juga mereka wajib membalas serangan tersebut secara militer, karena dibenarkan secara hukum internasional," kata Rezasyah.
Gugurnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sangat mempengaruhi psikologi masyarakat Iran. Hal ini yang menjadi kesulitan kedua.
Baca Juga: Trump Peringatkan 'Gelombang Besar' Serangan ke Iran Segera Datang
"Dalam masa perkabungan 40 hari ini, pemerintah Iran tak berani mengusik suasana hati masyarakat Iran, yang menganggap AS sebagai Setan Besar, dan Israel sebagai Setan Kecil," kata Rezasyah.
Ia mengatakan pemerintahan Iran yang belum sepenuhnya stabil cenderung bersikap tenang dan tidak membuat kebijakan yang terburu-buru.
"Kesulitan ketiga. Apakah RI telah memiliki 'Negotiation Blue Print?' Iran sangat ingin mengetahuinya karena dari sikap RI selama perang ini, RI belum memberikan status Iran sebagai korban, serta AS dan Israel selaku perusak perdamaian dan keamanan dunia," kata Rezasyah.
"RI cenderung menggunakan kalimat yang diplomatis, seperti 'gagalnya perundingan' dan perlunya 'menahan diri', Kebijakan RI tersebut perlu dipertegas sehingga menempatkan Iran sebagai korban," sambungnya.
Kesulitan keempat adalah sikap RI yang hingga kini belum mengerakkan ASEAN, GNB, OKI, Liga Arab, yang sebenarnya merupakan rumah bagi diplomasi RI.
"Belum terlihat upaya KTT maupun pertemuan tingkat Menlu yang difasilitasi RI. Dengan demikian, sangatlah sulit bagi RI meyakinkan Iran," kata Rezasyah.
Berita Terkait
-
Trump Peringatkan 'Gelombang Besar' Serangan ke Iran Segera Datang
-
Apakah Selat Hormuz Penting Bagi Amerika Serikat?
-
Malam Ini! Prabowo Kumpulkan Mantan Presiden-Wapres di Istana, Jokowi Dipastikan Hadir
-
Selat Hormuz Milik Siapa? Jalur Sempit Banyak Negara Tapi Iran Bisa Buka Tutup Aksesnya
-
10 Panduan Pertolongan Pertama dari Serangan Nuklir untuk Kamu Pahami
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
Pilihan
-
Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
-
Bakal Gelap Gulita! Pemkot Solo Stop Sementara Pembayaran Listrik Keraton Surakarta ke PLN
Terkini
-
Di Mana Netanyahu saat Perang Israel vs Iran? Wing of Zion di Berlin, Keberadaannya Dipertanyakan
-
Bukan Cuma Bupati! KPK Masih Kejar Sosok Penting Lain Terkait OTT Pekalongan
-
Waspada! 3 Bibit Siklon Tropis Muncul Kepung Indonesia, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem
-
FSPMI dan Partai Buruh Bakal Gelar Aksi di Kemenaker, Tolak Impor Mobil Pikap dari India
-
Menlu AS Sebut Amerika Serikat Serang Iran Karena 'Pengaruh' Israel
-
Seskab Teddy: THR ASN dan TNI-Polri Cair 100 Persen, Swasta Dilarang Mencicil
-
OTT KPK Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Golkar Sesalkan Kader Terjerat Kasus Korupsi
-
Korlantas Berlakukan Pembatasan Angkutan Barang Mulai 13 Maret 2026 Jelang Mudik Lebaran
-
Densus 88 Kencangkan Pengawasan Jaringan Teror! Antisipasi Dampak Perang ASIsrael vs Iran
-
AMPHURI DIY Pastikan Penerbangan Umrah Yogyakarta Tetap Normal, Maskapai Kembali Beroperasi