- Ekosistem padang lamun di Indonesia terancam reklamasi, sedimentasi, pencemaran, dan kenaikan suhu laut.
- Lamun adalah penyimpan karbon biru bernilai besar dan menjadi habitat penting bagi biota laut serta penopang perikanan.
- KKP telah memetakan 660 ribu hektare lamun nasional sebagai dasar pengelolaan konservasi dan restorasi habitat.
Suara.com - Ekosistem padang lamun di Indonesia menghadapi tekanan serius. Reklamasi dan pembangunan pesisir mengubah bentang alam perairan dangkal tempat lamun tumbuh. Sedimentasi dari wilayah hulu—akibat konversi lahan dan aktivitas darat—mengalir ke laut dan menutup habitatnya.
Pencemaran lingkungan serta praktik penangkapan ikan yang destruktif memperparah kerusakan. Di saat yang sama, kenaikan suhu permukaan laut akibat krisis iklim turut mengganggu daya tahan ekosistem ini.
Padahal, menurut Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Hidayat, lamun merupakan bagian penting dari karbon biru Indonesia. Potensinya diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta ton karbon. Ketika ekosistem ini rusak, bukan hanya keanekaragaman hayati yang hilang, tetapi juga cadangan karbon yang berisiko terlepas ke atmosfer.
Lamun bukan sekadar tumbuhan laut. Ia menjadi habitat bagi berbagai spesies, termasuk dugong dan kuda laut, sekaligus lokasi pemijahan ikan, kepiting, dan kerang. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Prof. Nurul Dhewani, menekankan bahwa padang lamun menopang perikanan pesisir dan menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Dengan kata lain, kerusakan lamun berdampak ganda: terhadap iklim dan terhadap ekonomi warga. Di satu sisi ia adalah aset mitigasi perubahan iklim, di sisi lain ia adalah penopang kehidupan pesisir.
Upaya perlindungan mulai diarahkan pada pendekatan berbasis data. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah merilis Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025, yang mencatat luasan padang lamun sekitar 660 ribu hektare secara nasional. Pemetaan ini menjadi fondasi untuk pengelolaan yang lebih terarah.
Para peneliti mendorong penguatan kawasan konservasi lamun, restorasi habitat yang rusak, serta peningkatan kesadaran publik tentang peran karbon biru. Langkah-langkah ini tidak hanya bertujuan menjaga ekosistem, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dan fungsi mitigasi iklimnya tetap berkelanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Tak Punya SPPG, Sudaryono Minta Publik Laporkan Oknum Ngaku Kerabat Kepala BGN
-
5 Merek Parfum Lokal Paling Populer di Indonesia 2026, Laris Manis Dibeli Lewat Shopee
-
Dugaan Kekerasan Oknum Polisi di Rupat Utara Dilaporkan ke Komnas HAM dan LPSK
-
Investor Banyak Jual Saham, IHSG Akhirnya Terkoreksi Setelah 10 Hari Menguat
-
11 Malam Perang AS-Iran Bikin Harga Minyak Dunia Terus Melonjak
-
BI Batal Naikan Suku Bunga Acuan, Rupiah Melemah Lagi
-
MRT Jakarta Fase 2A Tembus 61,8%, Uji Coba HI-Monas Dibidik 2027
-
Membaca Jadi Privilese Mewah: Mengapa Harga Buku Makin Tak Terjangkau?
-
Prabowo Resmi Tunjuk Kuntadi Jadi Jampidsus, Gantikan Febrie Adriansyah
-
Tersangka Pengeroyokan Anggota TNI hingga Tewas di Kelapa Dua Bertambah Jadi 7 Orang