Suara.com - Di balik gelombang laut dan hamparan padang lamun di Asia Tenggara, tersimpan salah satu kekuatan alam paling tangguh dalam melawan krisis iklim: karbon biru. Apa itu karbon biru?
Karbon biru adalah karbon yang tersimpan di dalam ekosistem pesisir dan laut. Istilah ini mengacu pada karbon yang ditangkap oleh organisme laut dan disimpan dalam sedimen laut serta vegetasi pantai.
Ekosistem karbon biru utama meliputi mangrove (hutan bakau), padang lamun, dan rawa pasang surut termasuk gambut pesisir.
Lamun (seagrass) merupakan tumbuhan berbunga yang hidup sepenuhnya di bawah air laut dan memiliki kemampuan tinggi menyerap karbon melalui fotosintesis.
Sementara gambut pesisir adalah jenis lahan basah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik kaya karbon, yang dapat menyimpan karbon hingga ribuan tahun jika tidak terganggu.
Menariknya, ekosistem karbon biru ini justru lebih efisien dalam menyerap dan menyimpan karbon dibandingkan hutan daratan. Namun, potensi besar ini masih tertahan oleh tantangan klasik yang tak kunjung tuntas, kesenjangan akses pembiayaan.
Hal itulah yang disoroti oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dalam peluncuran ASEAN Blue Carbon and Finance Profiling (ABCF) yang digelar di Jakarta, Rabu (21/5/2025).
“Persoalan pembiayaan selalu menjadi tantangan. UNDP telah bekerja di kawasan ini untuk mempromosikan cara-cara inovatif dalam menggalang pendanaan, baik dari pasar maupun pemerintah,” ujar Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura, dilansir ANTARA.
Lamun dan Lahan Gambut Penyerap Karbon
Baca Juga: Sirine Bahaya Krisis Iklim Berbunyi Keras: Saatnya Pendidikan Jadi Garda Terdepan!
Ekosistem pesisir dan perairan tawar—termasuk padang lamun, hutan mangrove, dan lahan gambut—dianggap sebagai “sekutu tangguh” dalam menyerap karbon dioksida. Namun, perhatian terhadap mereka masih kalah dibanding hutan tropis daratan.
Padahal, lamun mampu menyerap karbon hingga 35 kali lebih cepat dibandingkan hutan hujan tropis. Sementara lahan gambut menyimpan dua kali lebih banyak karbon dibanding seluruh hutan di dunia. Dan kawasan ASEAN menjadi rumah bagi sepertiga padang lamun global dan hampir 40 persen lahan gambut tropis yang telah teridentifikasi.
Namun ironisnya, menurut Norimasa, kerusakan pada ekosistem ini justru menyumbang emisi dalam jumlah signifikan.
“Padang lamun yang rusak melepaskan emisi setara 3 persen dari deforestasi global, sementara lahan gambut yang terdegradasi menyumbang 4 persen dari emisi yang dihasilkan manusia secara global,” ujarnya.
Blue Carbon Profile
Melihat urgensi tersebut, UNDP bersama Pemerintah Jepang dan ASEAN Coordinating Task Force on Blue Economy meluncurkan proyek ASEAN Blue Carbon and Finance Profiling (ABCF). Inisiatif ini bertujuan menyusun Blue Carbon Profile dan Blue Finance Profile bagi negara-negara ASEAN.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Malaysia dan Brunei Pakai Mekansime ASEAN Atasi Karhutla Kalimantan, Indonesia Gak Diajak?
-
Pemilu 2029 Jadi Pertaruhan Dinasti Politik Jokowi? Ini Analisis Pengamat
-
Muka Tegang Prabowo dan Gesture Tangan Jokowi Saat Jadi Saksi Pernikahan Rizky Irmansyah
-
Rahasia Bisnis Orang Cina, Arab, dan India: Dagang itu Gak Mudah Lho!
-
Dugaan Markup Harga Telur hingga Judi Online, BGN Mulai Bersih-Bersih SPPG
-
Cari Laptop Rp5 Jutaan? Infinix XBOOK B15 Punya Banyak Kejutan dan Layak Dilirik
-
Prediksi Indonesia vs Thailand Malam Ini, Siapa Lebih Berpeluang Juara?
-
Dapat Perlawanan Sengit, Timnas Indonesia Sikat Kazakhstan 3-0
-
Gabah Makin Mahal, Produsen Beras Berdarah-darah: Jual Mahal Kena HET, Jual Murah Nombok
-
PDIP Jatim Bidik Rebut Kursi Gubernur 2029