- Dinkes Yogyakarta mencatat enam kasus campak positif dari 45 suspek, menyatakan situasi terkendali tanpa KLB.
- Mayoritas pasien positif campak belum divaksinasi karena adanya penolakan dari orang tua meski vaksin gratis.
- Pengobatan campak bersifat suportif; komplikasi seperti pneumonia dapat terjadi dan meningkatkan risiko kematian fatal.
Suara.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta memastikan bahwa situasi penyebaran penyakit campak di wilayahnya masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali.
Tercatat sejuah ini hanya ada 6 kasus terkonfirmasi positif campak dari total 45 suspek yang diperiksa di Kota Yogyakarta. Pasien campak di Kota Yogyakarta itu terdiri dari rentang usia dari 1-28 tahun.
"Tahun 2026 kalau dari data dari kami itu untuk suspek ada 45, semuanya kita lakukan pemeriksaan laboratorium. Kemudian dari hasil itu yang positifnya 6 (orang)," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unawanah, Jumat (6/3/2026).
Angka ini menunjukkan perbedaan signifikan jika dibandingkan dengan tren lonjakan kasus yang terjadi di tingkat nasional.
Berdasarkan data nasional, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen).
Sementara pada tahun 2026 hingga Minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen).
Pada periode tersebut, terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Lana memastikan Kota Yogyakarta tidak menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak untuk sekarang. Apalagi enam kasus yang tercatat pada Januari-Februari kemarin sudah dinyatakan sembuh seluruhnya.
"Kasus meninggal nggak ada, nggak ada. Semuanya bisa kita tangani. Jadi masih relatif terkendali. Kita enggak KLB," ucapnya.
Baca Juga: Campak Bukan Teman Kencan, Jangan Diajak Jalan-Jalan ke Tempat Umum!
Masih Ada Anti-Vaksin
Berdasarkan hasil penelusuran terhadap 6 pasien positif tersebut, mayoritas ditemukan belum mendapatkan vaksinasi.
Lana mengakui masih ditemukan warga yang menolak untuk dilakukan vaksinasi. Meski fasilitas kesehatan seperti Puskesmas telah menyediakan vaksin secara gratis.
"Memang masih ada beberapa kasus yang dari pihak orang tuanya itu memang menolak (vaksin)," ujarnya.
Fenomena penolakan vaksin oleh orang tua masih menjadi kendala utama di lapangan.
"Ya kami dan teman-teman Puskesmas ya sudah mengedukasi gitu ya untuk supaya, melakukan vaksinasi," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL