- Geopolitik 2026 menunjukkan perdamaian memerlukan empati dan penghormatan terhadap perbedaan budaya dan keyakinan.
- Rendahnya literasi budaya memperburuk risiko konflik global yang dipicu oleh kesenjangan teknologi dan ujaran kebencian digital.
- Redea Institute menyelenggarakan program rutin tahunan PTR sejak 2004 untuk menanamkan toleransi bagi siswa SD hingga SMA.
Suara.com - Di tengah dinamika geopolitik global tahun 2026 yang semakin rumit, tantangan dalam menjaga perdamaian antarbangsa kini melampaui sekadar diplomasi politik di meja perundingan.
Polarisasi ideologi, sengketa wilayah, dan kesenjangan akses teknologi antarnegara seringkali memicu sentimen eksklusivitas yang merambat hingga ke akar rumput melalui ruang digital tanpa batas.
Sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika setiap individu memiliki pondasi empati dan penghormatan terhadap perbedaan bangsa, budaya, maupun keyakinan.
Tanpa pondasi rasa hormat dan sikap menghargai perbedaan sejak dini, rendahnya literasi lintas budaya dapat dengan mudah mengubah konflik global yang tampak jauh menjadi ketegangan sosial yang nyata di lingkungan kita sendiri.
Hal ini sejalan dengan Laporan Risiko Global 2026 yang menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai salah satu risiko utama global, serta data UNESCO yang menunjukkan bahwa dua dari tiga orang di dunia kini terpapar ujaran kebencian di ruang digital—sebuah ancaman nyata bagi kerukunan lintas bangsa.
Kondisi ini diperparah oleh laju perkembangan teknologi yang tidak selalu diiringi oleh kematangan karakter. Tanpa fondasi etika yang kuat, perbedaan pandangan di dunia maya dapat dengan mudah bereskalasi menjadi konflik nyata di masyarakat.
Hal inilah yang mendasari urgensi untuk menanamkan nilai-nilai toleransi sebagai “imunitas sosial” bagi Generasi Alpha—generasi yang lahir dan tumbuh di era dominasi teknologi.
Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan globalisasi, kurangnya pemahaman terhadap keberagaman bukan hanya memicu konflik antarkelompok, tetapi juga mengancam keberlangsungan perdamaian di masa depan.
Melalui pendidikan yang inklusif, siswa diajak untuk melihat perbedaan bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai kekayaan yang memperkuat tatanan sosial.
Baca Juga: Goldman Sachs Ramal Harga Minyak Tembus USD100 Pekan Depan
Dengan menumbuhkan sikap saling menghargai sejak usia dini, kita sesungguhnya sedang berinvestasi pada masa depan Indonesia dan dunia yang lebih damai, harmonis, dan demokratis.
Sejak didirikan pada tahun 1996, HighScope Indonesia Institute, yang berevolusi menjadi Research & Development for Advancement (Redea) Institute berkomitmen untuk menanamkan dan menerapkan nilai-nilai toleransi serta menghargai perbedaan dari sejak dini kepada seluruh siswa-siswi di Sekolah HighScope Indonesia (yang akan berganti nama menjadi Sekolah Eco Socio Tech di bulan Juli 2026).
Berpijak pada keyakinan bahwa pendidikan terbaik adalah yang mensimulasikan kehidupan nyata (real-life), Redea Institute menyelenggarakan sebuah kegiatan lintas agama yang bertajuk PTR (Peace, Tolerance, Respect) di Sekolah HighScope Indonesia.
Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan sekolah, yang bertujuan membangun sikap menghormati sesama manusia dan makhluk hidup untuk menciptakan kehidupan yang damai dan berkelanjutan.
Tahun ini, PTR mengusung tema “Membangun Sikap Menghormati Sesama Manusia dan Makhluk Hidup untuk Menciptakan Kehidupan yang Damai dan Berkelanjutan.”
Tema itu dipilih untuk menginspirasi siswa agar menerapkan sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari, serta berkontribusi dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.
Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan membawa dampak positif bagi seluruh umat beragama dalam masyarakat.
Program PTR merupakan manifestasi nyata upaya mempromosikan kehidupan madani melalui internalisasi sikap toleransi serta apresiasi terhadap kontribusi luhur setiap agama bagi kemanusiaan.
Sejak 2004, PTR diselenggarakan secara konsisten setiap bulan Ramadhan dengan merangkul keberagaman dan melibatkan seluruh siswa, baik Muslim maupun pemeluk agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha.
Melalui pendekatan yang inklusif, kurikulum kegiatan ini dirancang secara proporsional dengan menggabungkan aktivitas pendalaman iman sesuai latar belakang masing-masing serta sesi kolaborasi lintas keyakinan yang bertujuan mempererat persaudaraan universal.
Rangkaian kegiatan PTR ini diselenggarakan di seluruh jaringan sekolah, dimulai dari siswa kelas 4 (empat) Sekolah Dasar hingga tingkat Sekolah Menengah Atas.
Sekolah mewajibkan siswa sekolah dasar dan menengah pertama untuk mengikuti kegiatan ini selama 2 (dua) hari 1 (satu) malam di sekolah.
Sementara itu, siswa Sekolah Menengah Atas mengikuti PTR selama satu hari penuh, dimulai dari pagi hingga setelah pelaksanaan shalat tarawih.
Implementasi PTR terbagi menjadi dua rangkaian acara. Dalam sesi lintas agama, siswa dipertemukan untuk menggali nilai-nilai universal yang menjadi benang merah seluruh keyakinan—seperti manifestasi ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui penghormatan terhadap harkat sesama makhluk hidup.
Setelahnya, siswa beralih ke sesi agama masing-masing untuk penguatan spiritual yang lebih spesifik. Sebagai gambaran, saat siswa Muslim melaksanakan ibadah salat Isya dan Tarawih berjamaah, siswa beragama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha mengikuti sesi pendalaman iman di ruang terpisah bersama pemuka agama masing-masing.
Di sini, diskusi difokuskan pada pengamalan nilai keimanan dalam tindakan nyata, terutama dalam merawat semangat toleransi dan solidaritas di tengah kompleksitas interaksi digital saat ini.
Kegiatan PTR di Sekolah HighScope Indonesia diadakan secara bertahap selama bulan Ramadhan, sesuai dengan jadwal masing-masing sekolah.
Di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang, kegiatan PTR dibuka dengan sesi Opening, Hopes & Dreams, dan Ice Breaking yang diikuti oleh seluruh siswa.
Kemudian dilanjutkan dengan sesi talkshow dengan Rizkiana Alba M.Ed (Wahid Foundation), KH. Julian Lukman Lc (Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jakarta Selatan), dan Suraji (Jaringan Gusdurian).
Pembicara tamu lainnya meliputi Founder Yayasan Angel Heart, Linda Anugrah (Sekolah HighScope Indonesia Denpasar), Wakil Ketua Baznas Kota Palembang, Muhammad Syukri Soha, S.Ag, S.H, M.H (Sekolah HighScope Indonesia Palembang).
PTR juga menjadi kesempatan bagi para siswa untuk berbagi dengan komunitas di sekitar sekolah. Di Sekolah HighScope Indonesia Medan dan Denpasar, siswa kelas 4–9 bekerja sama mempersiapkan takjil dan membagikannya kepada warga sekitar.
Sambil menunggu waktu berbuka puasa, para siswa Sekolah HighScope Indonesia Palembang menampilkan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan musik oleh band, pantun toleransi, serta storytelling yang menyampaikan pesan-pesan kebaikan.
“Sekolah HighScope Indonesia teaches students to respect differences, to allow differences, to Encourage differences, until differences no longer make a difference”
Berita Terkait
-
Goldman Sachs Ramal Harga Minyak Tembus USD100 Pekan Depan
-
Krisis Geopolitik Memanas, Boni Hargens Dukung Pernyataan Dasco Soal Persatuan Nasional
-
Doa Bersama dan Petisi Solidaritas untuk Iran Digelar di Jakarta
-
Ketegangan AS-Iran Memuncak, Aset Bitcoin 'To The Moon' dan Langsung Jadi Buruan
-
APBN Jadi 'Bemper', Menko Airlangga: MBG Itu Investasi 1 Dolar Menghasilkan 7 Dolar
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
-
Harga Minyak Mulai Turun Usai Beredar Kabar G7 Lepas Cadangan 400 Juta Barel
-
Rusia Kasih Data Aset Militer AS ke Iran untuk Dihancurkan, Termasuk Lokasi Kapal dan Jet Tempur
Terkini
-
Viral! Penumpang Muslim Ditangkap Tim Taktis AS Bersenjata Lengkap Gara-Gara Timer Salat
-
Situasi Terkini Iran Jelang Baiat untuk Pemimpin Baru Ayatollah Mojtaba Khamenei
-
5 Fakta Mojtaba Khamenei: Jebolan Perang Iran-Irak, Nikahi Anak Politisi Senior Iran
-
Bawa Ayam Saat Jalan-jalan Bisa Bikin Stres Anda Berkurang, Profesor Ini Sudah Membuktikan
-
Duduk Perkara Kasus Bibi Kelinci: dari Nabilah O'Brien jadi Tersangka Hingga Berakhir Damai
-
Sempat Live Bareng Bigmo Saat Penetapan Tersangka, Ini Kata Wali Kota Solo
-
Aneh tapi Nyata! Tren di Jepang, Meditasi di Dalam Peti Mati Demi Kesehatan Mental
-
Kisah Punch, Bayi Monyet Viral Kini Mulai Punya Teman di Kebun Binatang Jepang
-
Cara Iran Acungkan 'Jari Tengah' ke Trump: Pilih Mojtaba Khamenei Jadi Ayatollah
-
Kejaksaan Agung Panggil 9 Saksi Kasus Korupsi Ekspor POME, Siapa Saja?