-
Intelijen Amerika meragukan serangan militer mampu menggulingkan rezim kuat di pemerintahan Iran.
-
Institusi agama dan militer Iran memiliki mekanisme transfer kekuasaan yang mencegah sistem runtuh.
-
Kondisi oposisi Iran yang terpecah membuat pergantian kekuasaan melalui perang sulit terwujud.
Rezim Iran diklaim memiliki sistem organisasi yang sangat solid untuk mempertahankan keberlangsungan kursi kekuasaan.
Kematian pemimpin tertinggi sekalipun dianggap tidak akan otomatis mengakhiri stabilitas politik di negara tersebut.
Sejumlah sumber anonim membeberkan detail laporan ini kepada media ternama The Washington Post baru-baru ini.
Keyakinan intelijen Amerika berdasar pada adanya kesepakatan internal mengenai prosedur alih kekuasaan yang cepat.
Lembaga keagamaan dan keamanan Iran memiliki protokol khusus untuk mencegah terjadinya kekosongan kepemimpinan mendadak.
Mekanisme transfer kekuasaan yang sigap ini menjadi penghalang utama bagi upaya penggulingan rezim melalui senjata.
Sistem keamanan Iran sengaja dirancang agar mampu merespons situasi darurat demi menjaga integritas negara.
Selain faktor internal rezim, kondisi kelompok oposisi juga menjadi catatan penting bagi intelijen Amerika.
Kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pemerintah Iran saat ini dinilai tidak memiliki persatuan yang kuat.
Baca Juga: Teheran Tak Lagi Aman, Warga Iran Panik Usai Serangan ASIsrael: Kami Akan Mati di Sini
Perpecahan di tubuh oposisi membuat mereka sulit dipandang sebagai alternatif pemimpin jika perang terjadi.
Ketidaksiapan oposisi untuk memimpin menjadi salah satu alasan mengapa perubahan rezim sangat sulit dicapai.
Laporan tersebut menekankan bahwa skenario perang panjang maupun singkat tidak akan mengubah peta kekuatan.
Secara teknis, Amerika Serikat menyadari bahwa kekuatan militer saja tidak cukup untuk mengubah tatanan.
Efektivitas operasi militer gabungan dengan Israel kini berada di bawah bayang-bayang keraguan besar.
Bocoran intelijen ini memberikan gambaran nyata betapa rumitnya struktur pertahanan politik yang dimiliki Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi
-
AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional
-
Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
-
Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP
-
Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April