News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 10:50 WIB
Harga minyak dunia (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia melonjak tajam menyusul konflik bersenjata antara Iran, AS, dan Israel.

  • Produksi minyak Irak anjlok drastis 70 persen akibat penuhnya penyimpanan dan hambatan distribusi.

  • Analis memperingatkan potensi harga bahan bakar mahal akibat gangguan keamanan di Timur Tengah.

Suara.com - Ketegangan militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu guncangan hebat pada sektor energi global, salah satunya harga minyak dunia.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada nilai tukar komoditas minyak yang melonjak drastis pada perdagangan Senin.

Lonjakan ini membawa harga minyak dunia kembali ke titik tertinggi yang belum pernah terlihat sejak pertengahan 2022.

Berdasarkan data terbaru, minyak mentah Brent mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 16,4 persen atau sekitar 15,24 dolar AS.

Angka tersebut menempatkan harga Brent pada posisi 107,93 dolar per barel setelah sempat menyentuh level 111,04 dolar AS.

Tren serupa juga terjadi pada kategori West Texas Intermediate atau WTI yang diperdagangkan di Amerika Serikat.

Minyak jenis WTI mengalami kenaikan harga sebesar 16,50 dolar AS atau setara dengan 18,2 persen di pasar internasional.

Kini harga WTI bertengger di angka 107,40 dolar AS per barel meskipun sebelumnya sempat melesat hingga 111,24 dolar AS.

Pergerakan harga yang sangat agresif ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak pekan sebelumnya secara konsisten.

Dalam kurun waktu tujuh hari terakhir saja, harga Brent sudah terakumulasi naik hingga 27 persen.

Sementara itu, minyak mentah jenis WTI menunjukkan penguatan yang jauh lebih tajam dengan persentase 35,6 persen.

Pasar saat ini sedang dilanda kekhawatiran besar mengenai stabilitas distribusi minyak dari wilayah Timur Tengah.

Konflik yang kian meluas di kawasan tersebut memaksa sejumlah negara produsen utama untuk membatasi hasil produksi.

Fokus perhatian para pelaku pasar saat ini tertuju pada keamanan navigasi di wilayah Selat Hormuz.

Jalur pelayaran strategis ini sangat krusial karena menjadi urat nadi utama perdagangan energi dunia setiap harinya.

Load More