- Peperangan berevolusi dari konflik darat tradisional menjadi smart war multidimensi mencakup siber.
- Era siber ditandai dengan penggunaan AI, sistem otonom, dan drone sebagai ciri utama perang modern.
- Penguasaan teknologi pertahanan udara, seperti sistem berlapis, menjadi faktor penting penentu keamanan negara saat ini.
Kombinasi teknologi tersebut membuat peperangan tidak lagi semata-mata bergantung pada jumlah persenjataan atau kekuatan militer konvensional.
“Sehingga berubah lagi perang tuh menjadi tidak hanya perang total, tapi saya mengatakannya sebagai perang smart,” ujarnya.
Menurut Chappy, di era ini kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah pesawat tempur atau senjata yang dimiliki suatu negara.
“Tidak jadi jaminan bahwa sebuah negara punya pesawat banyak kemudian dia bisa menang. Tunggu dulu, karena sekarang udah di cyber space udah di cyber world era. Ada yang automation di situ, ada data link, ada segala macam, ada network centric system,” kata Chappy.
Pertahanan Udara Jadi Faktor Penentu
Dalam konteks perang modern, penguasaan wilayah udara menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keamanan negara. Sistem pertahanan udara berlapis kini menjadi tulang punggung strategi pertahanan banyak negara.
Chappy mencontohkan sistem pertahanan udara yang dimiliki Israel, seperti Iron Dome dan Arrow 3.
Menurutnya, konsep pertahanan tersebut sebenarnya merupakan turunan dari program pertahanan Amerika Serikat pada era Perang Dingin yang dikenal sebagai Strategic Defense Initiative (SDI).
“Itu sebenarnya turunan dari SDI… Dia membendung serangan-serangan rudal dari luar sehingga dia bisa jaga,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mulai Meroket, BBM Indonesia Kapan Naik?
Persaingan Teknologi Sejak Perang Dingin
Chappy juga menyinggung bagaimana perlombaan teknologi militer berkembang pesat sejak rivalitas antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin (Cold War).
Persaingan tersebut memicu percepatan inovasi di bidang teknologi militer, terutama dalam sektor penerbangan dan ruang angkasa.
“Di era Perang Dingin itulah perlombaan senjata yang memicu orang meningkatkan kualitas persenjataan, teknologi perang, terutama teknologi penerbangan itu maju sangat pesat,” jelasnya.
Perang Modern dan Ketidakpastian Global
Menurut Chappy, dinamika geopolitik global saat ini semakin sulit diprediksi. Kepentingan nasional masing-masing negara, ditambah perubahan kepemimpinan politik dunia, membuat situasi internasional semakin kompleks.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi
-
AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional
-
Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
-
Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP
-
Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April