News / Internasional
Rabu, 11 Maret 2026 | 09:07 WIB
Konflik Iran Israel 2026, Kekuatan Militer Iran, Strategi Amerika Serikat, Kondisi Ekonomi Global, Gencatan Senjata Timur Tengah. (tasnimnews)
Baca 10 detik
  • Iran mengklaim telah melumpuhkan pertahanan militer Amerika Serikat dan Israel pada Maret 2026.

  • Teheran memegang kendali atas ekonomi energi global dan menentukan durasi konflik bersenjata.

  • Gencatan senjata hanya akan dipertimbangkan jika ada jaminan keamanan absolut dari pihak lawan.

"Bahkan, jika mereka meminta gencatan senjata, hal itu hanya dapat dipertimbangkan ketika Iran yakin mereka tidak akan menyerang lagi," ujarnya.

Teheran tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan diplomasi tanpa adanya komitmen yang jelas dari pihak Amerika Serikat.

Pengakuan tanggung jawab atas agresi militer sebelumnya menjadi poin yang tidak bisa ditawar dalam meja perundingan.

Iran memandang bahwa permintaan gencatan senjata tidak bisa dilakukan secara sepihak tanpa adanya evaluasi mendalam.

"Mereka tidak bisa begitu saja meminta gencatan senjata lalu kami langsung menyetujuinya," tambah dia.

Aksi militer masif ini merupakan bentuk respons langsung atas serangan udara yang menimpa Iran pada akhir Februari.

Sejak tanggal 28 Februari tersebut, eskalasi kekerasan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada pekan pertama Maret.

Seluruh wilayah yang mengarah ke jantung pertahanan di ibu kota Tel Aviv diklaim telah mengalami kehancuran parah.

Rentetan proyektil rudal dilaporkan menghujani kawasan pesisir hingga menerangi langit di kota Netanya, Israel utara.

Baca Juga: Rudal Iran Hantam Tel Aviv, Dampak Ekonomi Mulai Guncang Negara Teluk

Serangan ini menunjukkan kemampuan jangkauan balistik Iran yang mampu menembus titik-titik krusial di wilayah Mediterania.

Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menjadi aktor utama di balik peluncuran berbagai senjata canggih ke pusat kekuasaan.

Pada awal Maret, kompleks pemerintahan yang menjadi pusat pengambilan keputusan di Tel Aviv menjadi sasaran utama rudal.

Tidak hanya pusat birokrasi, pangkalan militer dan keamanan di wilayah Haifa juga tidak luput dari serangan intensif.

Wilayah Yerusalem Timur turut menjadi saksi bisu atas kekuatan tempur yang dikerahkan oleh pasukan elit Iran tersebut.

Hingga saat ini, dunia internasional masih memantau dengan seksama perkembangan di zona konflik yang semakin memanas.

Kemampuan Iran dalam bertahan dari sanksi sekaligus melancarkan serangan balasan menjadi perhatian para pengamat militer global.

Teheran membuktikan bahwa mereka memiliki kesiapan logistik yang mumpuni untuk menghadapi konfrontasi jangka panjang dengan negara adidaya.

Dampak dari serangan rudal tersebut tidak hanya merusak infrastruktur fisik namun juga mengguncang moral pertahanan lawan.

Keberhasilan ini diklaim sebagai bentuk proteksi diri atas kedaulatan bangsa yang terus diganggu oleh kekuatan asing.

Kini, peta kekuatan di Timur Tengah diprediksi akan mengalami pergeseran besar seiring dengan dominasi yang ditunjukkan Iran.

Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Amerika Serikat dan Israel dalam menanggapi pernyataan keras dari Teheran ini.

Stabilitas di jalur perdagangan laut dan distribusi minyak dunia sangat bergantung pada bagaimana konflik ini akan berakhir.

Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur sedikitpun sebelum semua tuntutan kedaulatan mereka terpenuhi sepenuhnya.

Ketegangan ini menunjukkan bahwa diplomasi tradisional mungkin tidak lagi cukup untuk meredam ambisi militer di kawasan tersebut.

Masyarakat internasional berharap adanya solusi yang mampu mencegah kerusakan lebih lanjut bagi warga sipil di kedua belah pihak.

Load More