- Pakar Asep Kususanto (Rabu, 11/3/2026) menyatakan impor pick-up India adalah otokritik praktik kartel kendaraan nasional.
- Perbedaan harga signifikan menunjukkan pasar dikuasai kesepakatan tidak adil, bukan mekanisme pasar alami seharusnya.
- Kekuasaan kartel yang dipertahankan berpotensi menjadi jebakan, terungkap melalui isu impor mobil India.
Suara.com - Pakar Kebijakan Publik dari Well-Being Institute, Asep Kususanto menilai kasus impor pick-up dan pick-up truck dari India bukan hanya sekadar isu perdagangan atau persaingan usaha semata.
Menurut Asep, impor pick up dari India telah bertransformasi menjadi bentuk otokritik yang tidak disengaja terhadap praktik kartel yang diyakini telah menguasai pasar kendaraan di Indonesia.
"Secara substansial, kasus impor kendaraan dari India tidak hanya muncul sebagai isu ekonomi atau perdagangan belaka. Lebih dari itu, impor tersebut berfungsi sebagai otokritik yang tak terduga terhadap kartel yang diduga telah menguasai dan mengendalikan pasar kendaraan nasional," ujar Asep kepada wartawan, Rabu (11/3/2026).
Asep mengatakan, proses yang dimulai dari kebijakan impor yang diperdebatkan ini secara tidak sengaja mengekspos ketidakadilan yang terbangun dalam sistem, sekaligus menjadi cermin yang memantulkan kekuasaan kartel yang telah lama mengakar.
Menurut dia, impor mobil India secara tak terduga menjadi alat yang memantulkan realitas bahwa pasar kendaraan di Indonesia telah dikuasai oleh praktik yang tidak adil.
"Harga kendaraan lokal yang hampir dua kali lipat dibandingkan harga impor menjadi bukti nyata bahwa mekanisme pasar yang seharusnya bekerja secara alami telah digantikan oleh kesepakatan antarprodusen. Impor ini tidak sengaja "mengkritik" dengan menunjukkan bahwa kekuasaan kartel telah membuat harga menjadi tidak wajar dan menjauhkan akses masyarakat terhadap kendaraan dengan harga terjangkau," jelas Asep.
Menurut Asep, kartel yang diduga ada, ternyata telah membangun sistem yang menguntungkan diri mereka sendiri. Hanya saja, kata dia, secara tidak sengaja menjadi korban dari kekuasaan yang mereka bangun sendiri.
"Ketakutan mereka untuk tidak memberikan diskon atau menurunkan harga adalah bentuk dari otokritik yang muncul dari struktur kekuasaan mereka sendiri—ketika mereka mencoba mengamankan pangsa pasar dan harga tinggi melalui kesepakatan, justru mekanisme yang mereka ciptakan itu sendiri yang akhirnya mengungkapkan kelemahan sistem yang mereka kendalikan," jelas dia.
Asep mengingatkan kekuasaan yang mereka miliki melalui struktur oligopoli dan dugaan kartel justru menjadi jebakan bagi diri mereka.
Dia bilang, setiap upaya untuk mempertahankan dominasi tersebut membuat mereka semakin terjebak dalam siklus kontrol yang berbahaya, hingga akhirnya impor mobil India yang mereka jadikan isu politik justru menjadi alat yang mengungkapkan segala manipulasi yang telah mereka lakukan.
"Praktik kartel tidak hanya merugikan masyarakat dengan harga yang tidak adil, tetapi juga menunjukkan bahwa kekuasaan yang mereka pegang bukanlah hasil dari keunggulan produk atau efisiensi operasional, melainkan dari kesepakatan yang dibuat untuk menguasai pasar," tutur Asep.
Baca Juga: DPR Segera Panggil PT Agrinas Terkait Impor 105 Ribu Mobil Pickup India
"Impor mobil India yang awalnya mereka jadikan senjata politik untuk menekan pemerintah, justru berbalik menjadi cermin yang memperlihatkan betapa jauh mereka telah menyimpang dari prinsip persaingan yang sehat dan bagaimana kekuasaan yang berlebihan telah membuat mereka melupakan tujuan utama industri kendaraan yaitu memberikan akses yang luas bagi masyarakat," Asep menambahkan.
Berita Terkait
-
DPR Segera Panggil PT Agrinas Terkait Impor 105 Ribu Mobil Pickup India
-
Anggota Komisi VI Kaget Tahu Impor Mobil India dari Media: Semestinya Dibahas Dulu di DPR
-
PDIP Soroti Rencana Impor 105.000 Mobil Pickup dari India: Jangan Rugikan Pabrikan Dalam Negeri
-
Golkar Dukung Langkah Sufmi Dasco Tunda Impor 105 Ribu Mobil Niaga India
-
Sepakat Ditunda, Impor Mobil Pick Up dari India Ternyata Sudah Tiba di Jakarta
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- 5 Rekomendasi Body Lotion Terbaik Mencerahkan Kulit di Indomaret
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
- Pelatih asal Spanyol Sebut Persib Bandung Kandidat Juara, Kedalaman Skuad Tak Tertandingi
Pilihan
-
Yaqut Diperiksa KPK Pekan Ini Usai Praperadilannya Ditolak, Langsung Ditahan?
-
Dua Kali Blunder Kiper Tottenham Antonin Kinsky Bikin Igo Tudor Kehabisan Kata-kata
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
Terkini
-
Kapolri Ungkap Pesan Prabowo: TNI-Polri Harus Bersatu, Jangan Sampai Terpecah
-
HUT ke-12 Suara.com Luncurkan Aura Research, Platform AI untuk Analisis Data dan Monitoring Isu
-
Gedung Tinggi Dilarang Sedot Air Tanah, PAM Jaya Ingatkan Ancaman Sinkhole Hantui Jakarta
-
Menhan Banyak Urusan, Gian Kasogi: Isu Keamanan Jangan Jadi Instrumen Politik Menuju 2029
-
Praperadilan Direktur PT WKM, Haris Azhar: Perkara Ini Tidak Memenuhi Hak Asasi Manusia
-
Rayakan Hari Jadi ke-12, Suara.com Perkokoh Posisi Pemimpin Media Digital Berbasis Komunitas
-
Alarm Merah Timur Tengah: Mengapa Perang Iran-AS Bisa Ancam Dapur WNI Susah Ngebul?
-
Dirumorkan Tewas Dibom Iran, Benjamin Netanyahu Terakhir Terlihat di Lokasi Ini
-
Praperadilan Direktur PT WKM, Ahli: Laporan Keterangan Palsu di Sidang Hanya Bisa Lewat Hakim
-
Beri Ucapan Selamat Ultah ke-12, Rocky Gerung: Suara.com Selalu Memperlihatkan Kecerdasan