-
Yousef Pezeshkian membantah kabar bahwa Mojtaba Khamenei terluka parah akibat serangan militer.
-
Media internasional melaporkan Mojtaba mengalami cedera kaki dalam serangan yang menewaskan ayahnya.
-
Konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran memicu kekhawatiran akan stabilitas keamanan global.
Hingga saat ini, pihak Teheran belum merinci secara detail bagian tubuh mana yang terdampak ledakan tersebut.
Informasi yang simpang siur ini menciptakan narasi ganda yang cukup membingungkan bagi pengamat politik luar negeri.
Laporan dari media Barat justru menyajikan data yang jauh lebih spesifik mengenai kondisi kesehatan Mojtaba sesungguhnya.
Berdasarkan data intelijen yang dihimpun secara mendalam, terdapat dugaan kuat mengenai lokasi persis kejadian tersebut berlangsung.
Insiden tersebut terjadi ketika operasi militer besar-besaran mulai menyasar titik-titik vital di jantung pertahanan Teheran.
"Khamenei menderita luka di kakinya pada hari pertama perang, 28 Februari, ketika ayahnya, pemimpin tertinggi Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara," tulis laporan The New York Times.
Kejadian ini menggambarkan betapa dekatnya serangan tersebut dengan pusat kekuasaan tertinggi di negara para mullah itu.
Dampak dari ledakan di hari pertama invasi tersebut ternyata meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi keluarga pemimpin.
Upaya AS dan Israel untuk melumpuhkan struktur komando tertinggi nampaknya dilakukan dengan sangat terukur dan presisi.
Baca Juga: Nyawa Donald Trump Terancam, Keamanan Gedung Putih Jebol Diteror Mobil Van
Hal ini menjadi bagian dari strategi militer untuk menciptakan disorientasi kepemimpinan di tengah situasi perang terbuka.
Perseteruan yang melibatkan poros Amerika-Israel melawan Iran ini sebenarnya memiliki akar permasalahan yang sangat kompleks.
Program nuklir Teheran yang terus dikembangkan menjadi salah satu pemicu utama kemarahan negara-negara Barat selama ini.
Selain itu, pengaruh milisi yang berafiliasi dengan Iran di kawasan Timur Tengah dianggap mengancam stabilitas regional.
Hubungan diplomatik yang telah lama retak akhirnya mencapai titik didih yang paling berbahaya dalam sejarah modern.
Operasi militer langsung ini merupakan jawaban atas serangkaian serangan balasan yang dilakukan oleh berbagai proksi regional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Agar MBG Tak Berhenti Usai Ganti Presiden, APPMBGI Dorong Payung Hukun Setingkat UU
-
Maling Motor di Tanjung Duren Diamuk Warga saat Kepergok Beraksi, Tangan Diikat Kepala Diinjak!
-
Belajar dari Kasus Daycare Little Aresha, KPAI: Ortu Wajib Cek Izin dan Latar Belakang Pengasuh!
-
BNI Pastikan Koperasi Swadharma Berdiri Sendiri di Luar Struktur Bank
-
BRIN dan Wanadri Siapkan Misi Selamatkan Terumbu Karang Pulau Buru yang Hancur Akibat Bom Ikan
-
Belajar dari Kasus Little Aresha, Ini 3 Cara Cek Legalitas Daycare dan PAUD Agar Anak Aman
-
Kebakaran Maut di Lubang Buaya: Wanita 53 Tahun Pengidap Stroke Tewas Terjebak Dalam Rumah
-
Gus Ipul: Persiapan Muktamar NU Terus Berjalan, Tim Panel Tuntaskan SK Sebelum Agustus
-
Niat Lindungi Anak dari Amukan Ibu, Anggota TNI Berpangkat Peltu Malah Dikeroyok di Stasiun Depok
-
Skandal Kekerasan Daycare Little Aresha Yogyakarta: 103 Anak Jadi Korban, DPR Desak Hukuman Maksimal