- Menko PMK Pratikno menyebutkan paparan layar anak mencapai tujuh setengah jam, mengurangi waktu aktivitas luar ruang mereka.
- Penggunaan digital berlebih memicu masalah kesehatan mental remaja seperti FOMO, flexing, dan potensi cyberbullying.
- Ketergantungan teknologi dikhawatirkan melemahkan aktivitas otak serta kemampuan kognitif dan kritis siswa.
Suara.com - Pemerintah menyoroti dampak penggunaan teknologi digital yang tidak terkontrol terhadap kondisi mental anak dan remaja. Paparan layar yang terlalu lama disebut berpotensi memicu berbagai masalah, mulai dari gangguan kesehatan mental hingga munculnya budaya pamer atau flexing di media sosial.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengungkapkan bahwa tingkat paparan teknologi digital pada anak saat ini sudah sangat tinggi. Sehingga membuat waktu anak untuk beraktivitas di luar ruang atau green time semakin berkurang.
“Exposure terhadap teknologi digital sudah tinggi, bahkan sudah sekitar tujuh setengah jam screen time-nya. Artinya green time-nya makin kecil,” kata Pratikno saat sambutan dalam penandatanganan SKB 7 menteri soal pedoman pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau AI di dunia pendidikan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Pratikno mengatakan, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital yang tidak terkendali dapat berkontribusi terhadap meningkatnya masalah kesehatan mental pada remaja.
Salah satu dampak yang terlihat adalah munculnya fenomena fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal tren di media sosial.
“Remaja menjadi makin FOMO, takut ketinggalan. Jadi ingin mengikuti tren, ingin pamer, flexing, dan seterusnya,” ujarnya.
Selain itu, penggunaan media digital juga membuka ruang bagi berbagai bentuk perundungan daring (cyberbullying) yang dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Dampak lainnya juga dirasakan dalam dunia pendidikan. Ketergantungan terhadap teknologi digital dikhawatirkan dapat melemahkan aktivitas otak siswa.
“Dampaknya ke dunia pendidikan juga cukup dikhawatirkan, misalnya melemahkan aktivitas otak karena terlalu tergantung pada alat bantu teknologi digital,” imbuhnya.
Ia menambahkan kondisi tersebut juga berpotensi mengurangi kemampuan berpikir kritis serta kemampuan kognitif dan reflektif pelajar.
Baca Juga: Teror di Olympus High School: Review Novel Ada Zombie di Sekolah
Oleh sebab itu, Pratikno menegaskan pengaturan penggunaan teknologi digital di lingkungan sekolah saja tidak cukup untuk melindungi anak. Menurutnya, keluarga dan orang tua harus menjadi benteng pertama dalam mendampingi anak menggunakan teknologi digital secara sehat.
Ia menyebutkan bahwa saat ini muncul fenomena baru di mana gawai kerap dijadikan sebagai “pengasuh” anak oleh sebagian orang tua.
“Orang tua menghadapi fenomena di mana smartphone sudah menjadi nurse, sudah menjadi pengasuh anak. Ini jangan sampai terjadi,” kata Pratikno.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak menggunakan teknologi digital.
Menurutnya, orang tua tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai mentor yang membantu anak menggunakan teknologi secara bijak.
“Parental concern dan kontrol menjadi sangat penting. Orang tua harus menjadi pendamping yang aktif agar anak-anak kita bisa menggunakan teknologi secara bijak,” tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Jadwal Pasar Murah di Kampar dan 4 Kecamatan Wilayah Pekanbaru
-
Debut Gemilang Mitchell Baker, Cetak Hattrick untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
-
Agustiar Sabran Resmi Pimpin PB Percasi 2026-2030, Ini Targetnya
-
Usut Etik Kasat Narkoba Tangsel, Polda Metro Tegaskan AKP Pardiman Tak Terkait Kasus Etomidate
-
Bukan Sekadar Angkat Beban, Ini Wajah Baru Tren Gym Modern yang Wajib Kamu Tahu!
-
Komplotan Buzzer Diciduk Polda Metro Jaya, Rp220 Juta Hasil Pembayaran Disita
-
Hasil Babak Pertama: Mitchell Baker Gemilang, Timnas Indonesia Unggul 3-0
-
Kronologi CR-V Terguling di Depan Kejari Palembang, Tabrak Dua Mobil Parkir Usai Hindari Motor
-
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Airlangga Tak Ambil Pusing: Yang Penting Institusi Berjalan
-
Kronologi Komplotan Curanmor Bersenpi di Gandus Terbongkar, Satu Ditangkap dan Dua Masih Buron