- Kerusakan infrastruktur Israel akibat serangan Iran adalah nyata, terungkap melalui kesaksian warga asing meski pemerintah menerapkan sensor informasi ketat.
- Eskalasi konflik memicu kepanikan AS terindikasi dari peringatan keluar dari Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia hingga \$150 per barel.
- Iran memenangkan perang informasi dan menguasai posisi tawar geopolitik signifikan dengan mengancam penutupan jalur vital Selat Hormuz.
Suara.com - Di tengah simpang siurnya video yang beredar di media sosial, teka-teki mengenai seberapa parah kerusakan di Israel akibat serangan Iran akhirnya mulai terkuak.
Pemerintah Israel diketahui menerapkan media blackout atau sensor ketat terkait informasi kerusakan, namun kesaksian dari warga negara asing yang keluar dari negara tersebut membuktikan sebaliknya.
Fakta ini diungkapkan oleh Mantan Pilot Tempur F-16 TNI AU, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati. Menurutnya, meski ada sebagian video yang direkayasa, kerusakan infrastruktur di Israel adalah nyata.
"Kerusakan itu sebagian riil. Memang ada media blackout di sana karena ancaman hukuman. Tapi sekarang sudah mulai keluar kesaksian-kesaksian, misalnya dari orang India yang pulang ke negerinya," ungkap Agung dalam sebuah wawancara podcast, baru-baru ini.
“Kerusakan itu sebagian real, sebagian lagi mungkin buatan ya. Tetapi memang ada media blackout di sana yang membuat tidak bisa orang mendapatkan data atau mengirim data karena ancaman hukuman,” ungkap Agung dalam kanal Youtube Forum Keadilan TV, Kamis (12/3/2026).
Agung juga membeberkan taktik militer Israel yang sengaja menyembunyikan fasilitas vital mereka. Ia menegaskan bahwa rudal-rudal Iran sejatinya hanya menargetkan fasilitas militer atau pejabat.
“Rupanya banyak dari bunker--bunker itu bunker--bunker pemerintah ya khususnya atau pemiliter itu di letak di tengah-tengah tempat penduduk. Mungkin tujuannya untuk deception ya biar orang enggak mau menyangka apa,” ujarnya.
Kepanikan Amerika Serikat dan Naiknya Harga Minyak
Eskalasi konflik ini ternyata memukul telak Amerika Serikat (AS) dari berbagai sisi: diplomasi, militer, hingga ekonomi. Indikasi kepanikan AS terlihat jelas ketika Kementerian Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan via media sosial X, meminta seluruh warga sipilnya segera keluar dari Timur Tengah.
Baca Juga: Iran Mundur dari Piala Dunia 2026, Eks Pejabat FIFA Beberkan Aturan Mengejutkan Soal Tim Pengganti
“Artinya dia nggak menjamin keamanan warga negaranya. Negara ini tidak sanggup menjamin warga negaranya keluar dari Timur Tengah di mana pun itu padahal ya situasinya baik-baik saja,” ungkap Agung.
Di sektor ekonomi, serangan presisi di Timur Tengah langsung memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus angka 150 per barel. Efek domino ini langsung memukul harga BBM di dalam negeri AS dan memicu ketidakpuasan rakyat.
Menurut Agung, situasi ini menjadi simalakama bagi para politisi di AS, terutama menjelang Pemilu November mendatang. Para senator dan politisi kini terjepit antara terus mendukung Israel karena dorongan donor politik, atau mendengarkan konstituen mereka yang marah akibat meroketnya biaya hidup.
Perang Informasi dan Kartu Truf di Selat Hormuz
Kegagalan Israel membuka informasi justru menjadi bumerang. Iran memenangkan "perang informasi" dengan leluasa menyebarkan narasi ke dalam negeri Israel, menghasut rakyat Israel agar menekan pemerintah mereka sendiri untuk segera menghentikan perang.
Tak hanya itu, secara geopolitik, AS makin terisolasi. Negara-negara Teluk menolak bergabung dengan AS, sementara kekuatan besar seperti Rusia, China, dan Pakistan secara terang-terangan merapat ke kubu Iran.
Berita Terkait
-
Iran Mundur dari Piala Dunia 2026, Eks Pejabat FIFA Beberkan Aturan Mengejutkan Soal Tim Pengganti
-
Menghitung Amunisi Perang AS, Israel dan Iran, Siapa Duluan Habis?
-
Rudal Kiamat Iran Tembus Israel, Kecepatan Hipersonik Fattah dan Sejjil Jadi Ancaman Utama
-
Dari Kilang ke Meja Makan: Bagaimana Konflik Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Pangan
-
Eks Pilot F-16 Bongkar Skenario Kudeta CIA dan Mossad di Iran
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
Rio Fahmi Yakin Persija Berkembang Usai Kalah dari Persebaya di Piala Presiden 2026
-
Tito Mohon-mohon ke Purbaya Minta Cairkan Tambahan Anggaran Rp 6 T buat Pemulihan Sumatra
-
Viral Kasus Pelecehan Seksual Konsumen Paylater, Kredivo Putus Kerja Sama Debt Collector
-
Shin Tae-yong Maklumi Persija Kalah di Laga Perdana Piala Presiden 2026
-
Industri Kreatif Bergeser, Strategi Kampanye Tak Lagi Cukup
-
Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran 'Orang Jokowi' di Balik Mundurnya Gubernur BI
-
RI Lobi AS Agar Sawit Bebas Tarif Section 301, Airlangga: Kami Minta Dikecualikan
-
KPK Periksa SF Hariyanto, Eks Ketua KPID Riau hingga Anggota Dewan
-
Teka-teki Kematian Sutrimo, DPR Minta Polisi Tak Sisakan Spekulasi
-
Ketimpangan Relasi Kerja: Mengapa Loyalitas Hanya Berlaku Satu Arah?