-
IRGC menetapkan perusahaan Amerika Serikat sebagai target militer sah di wilayah Timur Tengah.
-
Sektor teknologi, energi, dan finansial diminta segera mengosongkan fasilitas industri demi keamanan sipil.
-
Eskalasi terjadi pasca tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS dan Israel.
Suara.com - Iran berencana serang sumber ekonomi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Ini membuat kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah kini memasuki fase yang sangat kritis dan sangat mengkhawatirkan.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC telah merilis pernyataan yang sangat tegas kepada pemerintah Amerika Serikat.
Teheran menuntut agar Washington segera mengosongkan seluruh fasilitas industri mereka yang tersebar di wilayah Timur Tengah.
Langkah ini diambil karena Iran secara resmi memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar target militer.
Status target militer yang sah kini melekat pada aset-aset ekonomi Amerika Serikat di seluruh kawasan tersebut.
IRGC mendesak warga sipil untuk menjauh dari lokasi.
Instruksi evakuasi ini ditujukan bagi penduduk yang tinggal di area sekitar fasilitas industri milik Amerika.
Tujuannya adalah untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil saat serangan balasan dilakukan nanti.
Teheran menegaskan bahwa kehadiran perusahaan tersebut kini menjadi bagian dari medan perang melawan pihak AS-Israel.
Baca Juga: Wujudkan Ekonomi Hijau, Portofolio Green Loans BRI Tembus Rp93,2 Triliun
Ancaman ini merupakan respons langsung terhadap eskalasi militer yang terus memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Melansir informasi dari Anadolu, daftar panjang target tersebut mencakup sektor energi, finansial, hingga teknologi digital.
Beberapa lokasi yang disebut secara spesifik berada di kota Amman, Abu Dhabi, serta wilayah Dubai.
Nama-nama besar seperti Lockheed Martin dan Boeing masuk dalam jajaran sektor teknologi dan juga pertahanan.
Raksasa teknologi dunia seperti Microsoft, Oracle, hingga Amazon Web Services turut menjadi incaran utama militer.
Bahkan perusahaan keamanan digital seperti NSO Group juga masuk dalam daftar hitam yang dirilis Teheran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Henri Curiga Kasus Roy Suryo Dikebut, Sebut Ada Upaya Cegah Ijazah Jokowi Diuji di Pengadilan
-
Di Tengah Sorotan Ekonomi, Prabowo Minta Rosan Buka Data Masuknya Investasi Asing ke Indonesia
-
Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi
-
Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan