- Amerika Serikat mengkonfirmasi sedikitnya 200 tentara luka akibat serangan rudal Iran selama Operasi Epic Fury.
- Sebanyak 13 anggota layanan AS tewas dalam perang, termasuk korban kecelakaan pesawat dan serangan drone di beberapa negara.
- Konflik ini menyebabkan lebih dari 1.300 warga Iran gugur, memicu kekhawatiran eskalasi regional dan kebijakan AS yang ambigu.
Tak hanya di Irak, serangan langsung juga menyasar fasilitas penting di negara sekutu.
Enam personel layanan AS tewas ketika pesawat tak berawak (drone) milik Iran menghantam pusat operasi di pelabuhan sipil di Kuwait.
Selain itu, satu anggota layanan AS ketujuh dinyatakan meninggal dunia setelah terluka dalam serangan di pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi.
Dampak Kemanusiaan dan Eskalasi Regional
Perang ini tidak hanya memakan korban dari pihak Amerika. Laporan dari duta besar Iran untuk PBB menyatakan bahwa lebih dari 1.300 warga Iran gugur hingga pekan lalu.
Angka ini belum termasuk ratusan warga sipil yang menjadi korban di Lebanon, serta 15 orang yang tewas di Israel akibat serangan balasan.
Tingginya angka kematian di kedua belah pihak memicu kekhawatiran global akan terjadinya perang regional yang tidak terkendali.
Lebanon, yang sering kali menjadi medan tempur proksi, kembali harus menelan pil pahit dengan jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar.
Di tengah situasi yang mencekam, peta politik domestik Amerika Serikat turut memanas. Presiden Donald Trump memberikan pernyataan yang dinilai banyak pihak sangat kontradiktif mengenai konflik ini.
Baca Juga: Hujan Rudal Iran Tak Kunjung Reda, Warga Israel Akui Tak Lagi Bisa Tidur Nyenyak
Satu sisi, Trump mendesak sekutu Barat untuk segera terjun ke medan perang demi melindungi Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan urat nadi distribusi minyak global yang terancam terganggu akibat peperangan.
Namun, di lain sisi, Trump secara mengejutkan menyarankan agar Amerika Serikat tidak perlu melakukan upaya militer berlebihan untuk melindungi selat tersebut.
Alasannya, Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat saat ini sudah memiliki "banyak minyak", sehingga ketergantungan pada jalur pasokan Timur Tengah dianggap tidak lagi krusial bagi ketahanan energi dalam negeri.
Pernyataan kontradiktif ini menimbulkan kebingungan di kalangan diplomat dan analis politik internasional.
Ketidakpastian arah kebijakan luar negeri AS, terutama menjelang pemilihan, menambah kompleksitas penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Para pengamat menilai bahwa tanpa strategi yang konsisten, risiko gangguan ekonomi global akibat terhambatnya distribusi minyak di Selat Hormuz akan tetap menghantui pasar internasional.
Berita Terkait
-
Hujan Rudal Iran Tak Kunjung Reda, Warga Israel Akui Tak Lagi Bisa Tidur Nyenyak
-
Detik-detik Rudal Iran Hantam Tel Aviv, Rezim Zionis Kocar-kacir
-
AS Selidiki Perdagangan RI Lewat Section 301, Pemerintah Ancang-ancang Siapkan Respons
-
Viral! Walkot Muslim Kebanggaan Netizen Indonesia Panen Hujatan Setelah Bertemu Komunitas Yahudi
-
Rapper Bobby Vylan Teriakan Kematian untuk Tentara Israel di London, Komunitas Yahudi Ketar-ketir
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
1.350 RTLH di Jakarta Barat Antre Program Bedah Rumah
-
Temui PM Singapura, Pramono Jual Potensi Investasi di Jakarta
-
Ingin Perkuat Komunikasi Publik, BGN Tunjuk Wakil Kepalanya Jadi Juru Bicara
-
Merasa Dibohongi, Elza Syarief Mundur sebagai Pengacara Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya
-
Bongkar Modus Mi Instan Isi 5,2 Kg Ganja! Bareskrim Tangkap Pengedar Sugiono di Malang
-
Kata-kata Donald Trump soal Dana Rekontruksi Iran Pasca Perang Rp4.900 Triliun dari AS
-
Bobby Nasution Larang Keras ASN dan Pegawai BUMD di Sumut Pakai Vape
-
Jokowi Resmi Berjaket PSI? Pengamat Sebut Bisa Jadi Ancaman Elektoral bagi PDIP
-
Bukan Sedotan, Penelitian Global Temukan Kemasan Makanan Jadi Penyumbang Utama Sampah Plastik Laut
-
Wapres AS Bocorkan Isi Perjanjian Damai, Iran Bakal Cuan Banyak