- Presiden Kolombia, Gustavo Petro, sedang diselidiki jaksa Amerika Serikat terkait dugaan jaringan narkoba.
- Penyelidikan berfokus pada pertemuan dan dana kampanye Pemilu 2022 yang diduga berasal dari pengedar.
- Petro membantah tuduhan tersebut dan mengaitkan isu ini dengan dinamika politik menjelang pemilu mendatang.
Suara.com - Presiden Kolombia, Gustavo Petro, dilaporkan masuk dalam dua penyelidikan kriminal oleh jaksa di Amerika Serikat.
Kasus ini terkait dugaan jaringan penyelundupan narkoba di Amerika Latin.
Laporan awal menyebut jaksa di Brooklyn dan Manhattan menyelidiki kemungkinan Petro pernah bertemu pengedar narkoba dan menerima dana kampanye dari mereka pada Pemilu 2022.
Namun, hingga kini Petro belum didakwa dan penyelidikan masih tahap awal.
“Tidak ada satu pun penyelidikan di Kolombia terkait hubungan saya dengan pengedar narkoba, karena saya tidak pernah berbicara dengan mereka seumur hidup saya,” bantah Petro di media sosial seperti dilansir dari Aljazeera.
Ia juga menegaskan telah melarang tim kampanyenya menerima dana ilegal.
“Saya meminta manajer kampanye untuk tidak menerima sumbangan dari bankir maupun pengedar narkoba,” ujarnya.
Petro menilai isu ini bermuatan politik dan menyasar dirinya menjelang pemilu.
“Proses di AS justru akan membantu membongkar tuduhan dari kelompok sayap kanan Kolombia,” katanya.
Baca Juga: Jelang Kick Off Piala Dunia 2026, Meksiko Kembali Membara: Polisi Tangkap Bos Kartel Sinaloa
Ketegangan politik pun meningkat karena waktu kemunculan kasus ini berdekatan dengan pemilu presiden 31 Mei mendatang.
Analis menilai isu tersebut bisa memengaruhi dinamika politik nasional.
“Ini bisa menjadi sinyal bagaimana AS dapat memengaruhi hasil pemilu,” kata analis keamanan regional.
Ia menambahkan, jika terjadi lebih dekat hari pemungutan suara, hal itu bisa dianggap sebagai bentuk intervensi.
Hubungan Petro dengan Presiden AS Donald Trump juga diketahui tidak harmonis.
Keduanya kerap berselisih terkait kebijakan penanganan narkoba dan pendekatan militer di kawasan.
Berita Terkait
-
Jelang Kick Off Piala Dunia 2026, Meksiko Kembali Membara: Polisi Tangkap Bos Kartel Sinaloa
-
Tegas! Swiss Setop Ekspor Senjata ke AS hingga Langit Ikut 'Dikunci'
-
Berani! Tolak Mentah-mentah Permintaan AS, Sri Lanka Diam-diam Bantu 32 Awak Kapal Iran
-
Miguel Diaz-Canel Bakal 'Di-Maduro-kan', Pemerintah Kuba Tegas Melawan AS
-
Tantrum Harga Minyak Meroket, Trump Cap NATO Pengecut Karena Tak Mau Ikut Buka Selat Hormuz
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kelicikan Zionis Israel, Beirut Selatan Dibombardir Saat Gencatan Senjata
-
Warga Perumahan Taman Mangu Indah Bantah Isu Banyak Rumah Dijual Akibat Banjir
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!