-
Konflik Selat Hormuz mengancam pasokan pangan penting bagi negara-negara di Teluk Persia.
-
Kenaikan biaya pengiriman dan asuransi memicu potensi lonjakan harga pangan di kawasan Teluk.
-
Prioritas pengawalan militer pada tanker minyak menyulitkan distribusi kapal kargo pangan yang vital.
Retailer pangan mengonfirmasi adanya kekacauan pengiriman melalui jalur laut akibat konflik.
Kibsons International, retailer besar di UEA, kini sibuk mengatur ulang rute distribusinya.
Direktur Pengadaan Kibsons Daniel Cabral dikutip dari CNN pada Senin (23/3) menegaskan situasi ini.
"Saat ini, rantai pasok sangat menantang," kata Daniel Cabral.
UKMTO mencatat hampir dua lusin serangan kapal telah terjadi di kawasan ini sejak konflik pecah.
Kapal kargo di lepas pantai Oman pun tak luput dari serangan-serangan tersebut.
Kondisi ini membuat banyak perusahaan pelayaran enggan menembus Selat Hormuz.
Banyak kapal bermuatan makanan, termasuk pangan segar, kini tertahan di laut.
Biaya asuransi pun melonjak drastis seiring berlakunya klausul risiko perang.
Baca Juga: Spesifikasi Pesawat Tempur F-35, Jet Siluman Amerika Serikat Keok Ditembak Iran
Klausul ini memungkinkan kapal mengubah rute dan pelabuhan tujuan demi keamanan.
Kontainer Kibsons, misalnya, dialihkan ke India atau Sri Lanka, bukan lagi ke Dubai.
Namun, kedatangan barang di darat justru menimbulkan masalah logistik baru bagi perusahaan.
Daniel Cabral menggarisbawahi kebingungan yang dihadapi retailer terkait langkah selanjutnya.
Biaya tambahan logistik dan pengiriman di Timur Tengah juga melonjak hingga ribuan dolar.
Biaya pengiriman dari Eropa ke Arab Saudi, misalnya, meroket hingga lima kali lipat.
Semua kenaikan biaya logistik ini pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen akhir.
Kibsons memprediksi harga susu dan sayuran segar bisa naik hingga 20 persen.
Waktu penyimpanan produk segar di gudang juga menjadi semakin terbatas saat ini.
Alternatif pengiriman udara juga terganggu oleh penutupan Bandara Internasional Dubai akibat konflik.
Meskipun demikian, retailer lain seperti Spinneys optimistis dapat menjaga stok mereka.
Perusahaan ini yakin tidak akan terjadi kelaparan berkat diversifikasi rute.
"Tidak mungkin kami akan kekurangan makanan," kata Kepala Rantai Pasok Spinneys, Louis Botha.
Spinneys menjajaki jalur darat dari Inggris melalui Prancis dan Turki menuju kawasan Teluk.
Rute darat ini ternyata 40 persen lebih murah daripada pengiriman udara.
Konsumen tetap akan merasakan dampak melalui harga yang lebih tinggi dan pilihan produk terbatas.
Pemerintah negara-negara Teluk berupaya membuka koridor perdagangan baru untuk mengatasi kendala ini.
Koridor baru di Oman dan UEA diharapkan bisa mempercepat arus barang antar pelabuhan.
Masalah asuransi sebenarnya bukan kendala utama jika perusahaan bersedia membayar lebih.
Richard Meade dari Lloyd's List Intelligence menegaskan bahwa isu keamanan adalah prioritas yang belum teratasi.
Ia meragukan keefektifan pengawalan militer karena memerlukan banyak sumber daya.
Richard Meade memprediksi hanya 5-10 tanker minyak yang bisa dikawal setiap harinya.
Padahal sebelumnya, 60 tanker minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Ini menandakan bahwa meskipun ada operasi militer, distribusi barang penting seperti makanan masih menghadapi tantangan besar.
Pemerintah dan pelaku industri di Teluk Persia harus bekerja keras untuk mengamankan rantai pasok pangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
DPR Desak PLN Lindungi UMKM Terdampak Pemadaman Listrik, Minta Ada Kompensasi Kerugian
-
Desain Kawasan Suburban Dinilai Perparah Emisi, Mengapa?
-
Kronologi Munas Jelang Muktamar NU Ricuh, Pejabat Organisasi Pecah Pendapat
-
Massa Aksi di Balai Kota Depok Tuntut Kelanjutan Program MBG: Demi Sejahterakan Petani dan Nelayan
-
Arahan Prabowo ke Bahlil: Pastikan Pemadaman Listrik Bergilir di Pulau Jawa Tak Terulang
-
Perlawanan Terakhir Nadiem Makarim Jelang Putusan, Ini yang Akan Diungkap
-
Detik-detik Iran Batalkan Perundingan Gegara Trump Bikin Ulah, JD Vance Kena Getahnya
-
KPAI Sesalkan Pelibatan Siswa dalam Aksi Dukung MBG di Batam: Itu Eksploitasi dan Manipulasi Anak!
-
Prabowo ke Jawa Timur, Hadir Peresmian Jalan dan Penutupan Munas NU
-
Legislator PDIP Kritik Ekspansi Bioskop: Jangan Sampai Jadi Risiko Baru bagi Industri Film