News / Internasional
Senin, 23 Maret 2026 | 13:04 WIB
Perang di Selat Hormuz mengancam pasokan pangan negara Teluk, memicu lonjakan biaya pengiriman dan harga.
Baca 10 detik
  • Konflik Selat Hormuz mengancam pasokan pangan penting bagi negara-negara di Teluk Persia.

  • Kenaikan biaya pengiriman dan asuransi memicu potensi lonjakan harga pangan di kawasan Teluk.

  • Prioritas pengawalan militer pada tanker minyak menyulitkan distribusi kapal kargo pangan yang vital.

Retailer pangan mengonfirmasi adanya kekacauan pengiriman melalui jalur laut akibat konflik.

Kibsons International, retailer besar di UEA, kini sibuk mengatur ulang rute distribusinya.

Direktur Pengadaan Kibsons Daniel Cabral dikutip dari CNN pada Senin (23/3) menegaskan situasi ini.

"Saat ini, rantai pasok sangat menantang," kata Daniel Cabral.

UKMTO mencatat hampir dua lusin serangan kapal telah terjadi di kawasan ini sejak konflik pecah.

Kapal kargo di lepas pantai Oman pun tak luput dari serangan-serangan tersebut.

Kondisi ini membuat banyak perusahaan pelayaran enggan menembus Selat Hormuz.

Banyak kapal bermuatan makanan, termasuk pangan segar, kini tertahan di laut.

Biaya asuransi pun melonjak drastis seiring berlakunya klausul risiko perang.

Baca Juga: Spesifikasi Pesawat Tempur F-35, Jet Siluman Amerika Serikat Keok Ditembak Iran

Klausul ini memungkinkan kapal mengubah rute dan pelabuhan tujuan demi keamanan.

Kontainer Kibsons, misalnya, dialihkan ke India atau Sri Lanka, bukan lagi ke Dubai.

Namun, kedatangan barang di darat justru menimbulkan masalah logistik baru bagi perusahaan.

Daniel Cabral menggarisbawahi kebingungan yang dihadapi retailer terkait langkah selanjutnya.

Biaya tambahan logistik dan pengiriman di Timur Tengah juga melonjak hingga ribuan dolar.

Biaya pengiriman dari Eropa ke Arab Saudi, misalnya, meroket hingga lima kali lipat.

Load More