-
Iran mengancam sebar ranjau laut di Teluk Persia jika wilayah pesisirnya diserang musuh.
-
Blokade jalur maritim ini dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel pada Februari lalu.
-
Gangguan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan saat ini.
Dunia internasional kini menyoroti potensi penutupan jalur maritim yang bisa melumpuhkan perdagangan minyak secara global.
Situasi di Teluk Persia diprediksi akan menjadi sangat mencekam menyerupai kondisi kritis di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut memperingatkan bahwa dalam skenario seperti itu, seluruh Teluk Persia "akan menghadapi kondisi yang mirip dengan Selat Hormuz untuk jangka waktu yang lama," yang secara efektif menutup jalur maritim.
Teheran juga menegaskan bahwa mereka tidak akan bertanggung jawab atas kerusakan yang timbul nantinya.
Tanggung jawab atas hasil tersebut akan berada pada pihak yang memulai serangan, tambahnya.
Hanya ada satu mekanisme yang diizinkan bagi kapal-kapal asing untuk bisa berlayar dengan tenang.
Negara-negara yang dianggap tidak memiliki niat buruk harus patuh pada aturan main yang ditetapkan Iran.
Dewan tersebut juga mengatakan bahwa satu-satunya cara bagi "negara-negara non-agresif" untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman adalah "melalui koordinasi dengan Iran."
Tanpa adanya lampu hijau dari Teheran, risiko keselamatan di perairan tersebut menjadi sangat tinggi sekali.
Baca Juga: Profil Rudal AD-08 Majid Iran Penjatuh Pesawat Canggih F-35, Pantas Amerika Serikat Ketar-ketir
Hal ini mempertegas kontrol penuh Iran atas jalur sempit yang menjadi urat nadi energi dunia.
Sejak awal Maret, fungsi strategis Selat Hormuz memang sudah tidak berjalan normal akibat berbagai gangguan militer.
Padahal, secara historis terdapat aliran minyak mentah yang sangat masif setiap harinya lewat jalur ini.
Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati jalur tersebut setiap hari, dan gangguan yang ditimbulkannya telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
Lonjakan harga bahan bakar di pasar internasional kini menjadi ancaman nyata bagi ekonomi banyak negara.
Biaya logistik laut pun merangkak naik seiring dengan tingginya risiko keamanan yang harus dihadapi kapal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kemensos Bentuk Tim Khusus untuk Mendalami Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat
-
Kutuk Aksi Cabul Ashari di Ponpes Pati, Gus Ipul: Jangan Jadikan Pesantren Kedok!
-
Soroti Kasus Kiai Cabul di Pati, KSP Dudung: Lindungi Korban, Tindak Tegas Pelakunya!
-
Prabowo 'Pamer' Proyek 100 GW Surya RI di ASEAN, Ingatkan Ancaman Krisis Energi
-
Cegah Kelelahan dan Dominasi Elit, Titi Anggraini Desak Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah
-
Kepala Daerah dan PPPK Tak Perlu Khawatir, Pelaksanaan Pasal 146 UU HKPD Akan Diatur Melalui UU APBN
-
Prabowo di KTT ASEAN: Dunia Sedang Genting, BIMP-EAGA Harus Lebih Adaptif dan Berdampak
-
Dari Jombang hingga Pati: Mengapa Ponpes Terus Menjadi Titik Merah Predator Seks?
-
Sesumbar Donald Trump Usai 3 Kapal Perang AS Dibombardir Iran di Selat Hormuz
-
Skenario Jahat Zionis Israel Terkuak! Ciptakan Krisis Malnutrisi di Gaza