Bisnis / Makro
Senin, 23 Maret 2026 | 17:00 WIB
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani. [LPEI]
Baca 10 detik
  • LPEI memperkirakan dampak langsung konflik Timur Tengah pada perdagangan Indonesia terbatas karena eksposur perdagangan langsungnya kecil.
  • Risiko utama berasal dari dampak tidak langsung seperti kenaikan energi dan volatilitas nilai tukar terhadap mitra dagang utama.
  • Kinerja ekspor jangka pendek berpotensi ditopang kenaikan harga komoditas energi dan agro, meski harus waspada volatilitas sektor logam.

Suara.com - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memperkirakan dampak langsung konflik di Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia masih relatif terbatas.

Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani beralasan kalau eksposur perdagangan Indonesia dengan kawasan Timur Tengah yang terdampak perang Amerika Serikat vs Iran masih kecil.

"Risiko utama justru muncul melalui kanal tidak langsung, terutama kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama yang dapat memengaruhi dinamika ekspor Indonesia," katanya, dikutip dari siaran pers, Senin (23/3/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank Institute menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional.

Adapun komoditas utama ekspor tersebut meliputi minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703).

Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9 persen dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak.

"Struktur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas," lanjut dia.

Rini memaparkan, sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain seperti Asia Timur (36,4 persen), Asia Tenggara (20,8 persen), Amerika Utara (11,5 persen), Asia Selatan (9,6 persen), dan Eropa Barat
(5,7 persen).

Berdasarkan data itu, ia menyebut dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor yang menentukan bagi kinerja ekspor nasional.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat

Di sisi lain, beberapa komoditas ekspor Indonesia justru mengalami kenaikan harga seiring kenaikan harga energi global. Batubara, yang memiliki kontribusi sekitar 8–9 persen terhadap total ekspor nasional, berpotensi mendapatkan dorongan harga.

Sementara itu, harga minyak kelapa sawit (CPO) juga menunjukkan tren yang relatif kuat seiring masih solidnya permintaan global terhadap komoditas agro.

Kemudian sejumlah komoditas dengan bahan baku lokal di tengah tren penurunan suku bunga sebelumnya turut menekan biaya produksi sehingga membuka ruang bagi peningkatan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global.

“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” tambah Rini.

Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas serta kondisi perdagangan global, Rini memperkirakan ekspor Indonesia pada 2026 masih dapat tumbuh pada kisaran 4–5 persen, dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 5–6 persen pada 2027. Tapi dengan catatan, permintaan global pulih secara bertahap dan meredanya tensi geopolitik.

Load More