News / Internasional
Senin, 23 Maret 2026 | 18:39 WIB
Tentara Amerika (Antara)
Baca 10 detik
  • Personel militer Amerika Serikat mulai memprotes kebijakan perang karena enggan mati demi Israel.

  • Mental prajurit jatuh akibat ketidakjelasan tujuan politik dalam agresi militer melawan kekuatan Iran.

  • Pentagon tengah menyiapkan rencana pengerahan pasukan darat meskipun moral anggota militer sedang terpuruk.

Suara.com - Gejolak internal kini mulai melanda jajaran angkatan bersenjata tentara Amerika Serikat di tengah meningkatnya tensi pertempuran melawan Iran.

Sejumlah personel militer dilaporkan merasa sangat kecewa dengan arah kampanye serangan udara yang melibatkan kekuatan Pentagon di wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan terbaru dari media HuffPost, banyak prajurit mulai menyuarakan ketidakpuasan mereka secara terbuka melalui berbagai kanal informasi.

Keresahan ini muncul seiring dengan meningkatnya intensitas kontak senjata yang melibatkan aliansi strategis antara Amerika Serikat dan pihak Israel.

Fenomena ini mencerminkan adanya keretakan moral yang serius di dalam struktur organisasi militer yang sedang bertugas di lapangan.

Banyak anggota militer aktif maupun pasukan cadangan mengeluhkan kondisi keamanan mereka yang semakin rentan di zona konflik yang panas.

Mereka dilaporkan mengalami tingkat stres yang luar biasa tinggi akibat tekanan psikologis yang datang secara bertubi-tubi setiap hari.

Rasa frustrasi yang mendalam membuat beberapa di antara mereka mulai berpikir serius untuk mengakhiri masa pengabdian di dunia militer.

Kondisi mental para prajurit ini menjadi sorotan utama bagi organisasi hak asasi manusia yang mendampingi personel keamanan negara tersebut.

Baca Juga: Dunia Hadapi Krisis Energi Global! Direktur IEA Sebut Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970

Narasi yang berkembang di barak militer menunjukkan adanya penolakan terselubung terhadap kebijakan luar negeri pemerintah yang dianggap merugikan.

"Saya mendengar dari mulut para anggota militer kata-kata, 'Kami tidak ingin mati untuk Israel — kami tidak ingin menjadi pion-pion politik,'" kata seorang pasukan cadangan dan mentor prajurit muda seperti dikutip dalam laporan tersebut.

Informasi mengenai merosotnya mentalitas tempur ini juga dikonfirmasi oleh anggota pasukan cadangan lain yang terus memantau situasi rekan mereka.

Kecenderungan untuk mempertanyakan tujuan perang semakin kuat di kalangan prajurit yang berada di garis depan maupun pendukung.

Publikasi tersebut memberikan penekanan bahwa ketidakpuasan massal ini dapat mengancam keberhasilan seluruh operasi Washington di kawasan Timur Tengah.

Moral yang rendah dianggap sebagai faktor krusial yang dapat menggagalkan strategi militer jangka panjang yang telah disusun pemerintah.

Banyak pihak menilai bahwa kegagalan menjaga mental prajurit akan berdampak sistemik pada efektivitas serangan terhadap target-target strategis di Iran.

Ketidakjelasan narasi dari pemerintah pusat menjadi pemicu utama mengapa banyak tentara merasa kehilangan pegangan dalam menjalankan tugas negara.

Faktor utama yang menurunkan semangat tempur adalah ketiadaan pembenaran yang konsisten mengenai agresi militer yang dilakukan bersama pihak Israel.

Para prajurit merasa tidak mendapatkan alasan logis mengapa mereka harus terlibat jauh dalam konfrontasi langsung melawan kekuatan militer Iran.

Di sisi lain, laporan dari CBS News mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai persiapan skala besar yang sedang digarap oleh pihak Pentagon.

Pentagon dikabarkan telah merancang skema yang sangat mendalam mengenai potensi pengiriman pasukan angkatan darat secara langsung ke wilayah Iran.

Langkah berisiko tinggi ini diambil guna menyediakan berbagai pilihan tindakan bagi pemerintahan Trump di tengah situasi yang makin keruh.

Berbagai skenario militer kini telah tersedia di meja pengambil kebijakan sebagai respons atas dinamika keamanan di wilayah Teluk.

Konflik ini sendiri diketahui telah pecah sejak akhir Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terkoordinasi.

Iran tidak tinggal diam dan segera meluncurkan berbagai serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta pangkalan militer milik Amerika.

Fasilitas militer Amerika Serikat di seantero Timur Tengah kini berada dalam posisi siaga tertinggi akibat ancaman roket dan drone.

Kondisi saling serang ini menciptakan lingkaran kekerasan yang membuat personel militer di lapangan merasa nyawa mereka sedang dipertaruhkan.

Ketegangan yang tidak kunjung mereda ini semakin memperburuk kesehatan mental para prajurit yang harus bersiaga selama dua puluh empat jam.

Tanpa adanya kepastian politik, gelombang pengunduran diri dari kedinasan militer diprediksi akan menjadi kenyataan pahit bagi pihak Departemen Pertahanan.

Para pengamat militer memperingatkan bahwa tanpa dukungan moral dari prajurit sendiri, setiap rencana invasi darat akan menghadapi kendala yang sangat besar.

Kini publik menunggu bagaimana langkah pemerintah dalam menanggapi protes sunyi dari para serdadu yang menolak menjadi tumbal politik luar negeri.

Persoalan ini bukan lagi sekadar strategi perang, melainkan menyangkut nurani para manusia yang berada di balik seragam militer Amerika Serikat.

Load More