-
Joe Kent memperingatkan pengerahan pasukan AS ke Pulau Kharg akan berujung bencana militer.
-
Konflik memanas setelah serangan AS-Israel menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan ribuan warga sipil.
-
Iran mengancam hancurkan infrastruktur energi kawasan jika pembangkit listrik mereka diserang Amerika Serikat.
Suara.com - Wacana pengiriman personel militer tentara Amerika Serikat menuju Pulau Kharg Iran kini memicu perdebatan panas di internal pemerintahan.
Joe Kent selaku mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS memberikan peringatan keras atas rencana strategi tersebut.
Menurut pandangannya, menempatkan pasukan di wilayah tersebut merupakan langkah yang sangat membahayakan keselamatan prajurit.
Ia menilai bahwa keberadaan tentara di pulau itu justru hanya akan memperburuk situasi keamanan nasional.
Kekhawatiran ini muncul seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran di Timur Tengah.
Eks pejabat kontraterorisme tersebut melihat adanya celah besar yang bisa dimanfaatkan oleh pihak lawan.
"Saya hanya berpikir itu akan menjadi bencana," kata Kent dalam sebuah wawancara dengan Washington Post.
Kent memprediksi bahwa posisi geografis pulau tersebut akan menyulitkan posisi pertahanan tentara Amerika Serikat.
Target serangan udara dari pihak Teheran diperkirakan akan sangat mudah menyasar posisi pasukan di sana.
Baca Juga: Perang AS-Israel vs Iran Tak Kunjung Selesai, China Kirim Pernyataan Tegas
"Pada dasarnya, itu akan memberikan Iran sejumlah sandera di sebuah pulau yang dapat mereka bombardir dengan drone dan rudal," tambahnya.
Laporan dari Axios menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump sedang menimbang opsi perebutan paksa Pulau Kharg.
Langkah berani ini diambil untuk menekan Teheran agar segera mengaktifkan kembali jalur pelayaran global.
Blokade di Selat Hormuz memang menjadi isu utama yang ingin diselesaikan oleh pihak Gedung Putih.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut memberikan pernyataan terkait kebijakan keras yang sedang disusun tersebut.
Bessent pada Minggu (22/3) mengkonfirmasi bahwa semua opsi tetap terbuka dan tidak mengesampingkan kemungkinan pengiriman pasukan AS ke pulau Iran tersebut.
Situasi di kawasan tersebut memang sudah memanas sejak dimulainya operasi militer besar-besaran akhir bulan lalu.
Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang target di Iran, termasuk Teheran, menyebabkan kerusakan dan korban sipil, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kematian tokoh tertinggi di negara tersebut memicu gelombang kemarahan besar dari rakyat dan militer setempat.
Tidak hanya fasilitas militer, sejumlah fasilitas publik dan sekolah juga dilaporkan terkena dampak serangan udara.
Di hari pertama serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur, sementara ratusan siswi sekolah dasar di Iran selatan tewas setelah sekolah mereka dihantam rudal.
Otoritas kesehatan setempat mencatat angka kematian yang terus bertambah akibat agresi militer gabungan tersebut.
Menurut otoritas Iran, korban jiwa serangan AS-Israel ke negaranya saat ini mencapai 1.300 orang.
Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel, serta target-target militer AS di Timur Tengah.
Aksi saling balas serangan ini membuat stabilitas keamanan di wilayah teluk menjadi sangat tidak menentu.
Washington kini harus menghadapi konsekuensi panjang dari operasi militer yang telah diluncurkan sejak Februari.
Iran mengancam akan membalas serangan terhadap infrastruktur energi ke negaranya dengan menyerang instalasi energi di seantero Timur Tengah yang berpotensi menyebabkan kenaikan harga minyak secara jangka panjang.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan posisi negaranya dalam menghadapi ancaman terbaru dari pihak Amerika.
"Seketika setelah pembangkit dan infrastruktur listrik negara kami diserang, semua infrastruktur vital di seantero kawasan, termasuk infrastruktur energi dan minyak, akan dianggap sebagai sasaran tembak yang sah," kata ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melalui media sosial X, Ahad.
Pernyataan ini merupakan balasan langsung atas ancaman Donald Trump terhadap pasokan energi nasional mereka.
Trump sebelumnya menuntut agar Teheran membuka akses Selat Hormuz dalam waktu 48 jam bagi pelayaran internasional.
Ghalibaf memperingatkan bahwa kehancuran fasilitas listrik tidak akan hanya dirasakan oleh satu pihak saja.
Ghalibaf mengatakan bahwa serangan balasan tersebut, jika terjadi, akan "menghancurleburkan" infrastruktur listrik di kawasan dan menyebabkan "harga minyak melonjak untuk waktu yang lama".
Dunia kini menanti bagaimana eskalasi ini akan berdampak pada ekonomi global dan pasar minyak mentah.
Iran hingga kini masih melanjutkan serangan ke target-target militer Amerika Serikat dan Zionis Israel sebagai balasan atas operasi militer gabungan kedua negara tersebut terhadap Iran pada 28 Februari.
Konflik bersenjata ini tampaknya masih jauh dari kata usai mengingat kedua belah pihak enggan untuk mundur.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara