News / Internasional
Senin, 23 Maret 2026 | 21:35 WIB
Pemerintah Iran menyatakan siap membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal Jepang di tengah meningkatnya perang melawan AS dan Israel. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Iran, melalui Menlu Abbas Araghchi, menyatakan kesiapan membuka Selat Hormuz bagi kapal Jepang demi keamanan pelayaran.
  • Jepang merespons hati-hati, fokus pada keamanan bersama dan menolak negosiasi sepihak dengan Teheran mengenai selat tersebut.
  • Ketegangan meningkat setelah AS mengultimatum Iran soal navigasi, memicu ancaman balasan Iran terhadap infrastruktur energi AS.

Suara.com - Pemerintah Iran menyatakan siap membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal Jepang di tengah meningkatnya perang melawan AS dan Israel.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

“Kami tidak menutup selat itu. Dalam pandangan kami, Selat Hormuz tetap terbuka,” kata Araghchi dilansir dari Tokyo Weekender, Senin (23/3).

Araghchi menegaskan jalur tersebut hanya akan ditutup bagi negara yang dianggap sebagai musuh Iran.

Araghchi juga membuka peluang kerja sama dengan Jepang untuk menjamin keamanan pelayaran.

“Kami siap berkoordinasi untuk memberikan jalur aman jika mereka menghubungi kami,” ujarnya.

Harga minyak dunia terus naik akibat krisis di Teluk. Amerika Serikat mendesak negara-negara sekutunya dan China untuk mengerahkan kapal perang untuk membuka Selat Hormuz. [Suara.com/Iqbal]

Namun, pemerintah Jepang memilih berhati-hati dalam merespons tawaran tersebut.

Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menegaskan Tokyo tidak akan melakukan negosiasi sepihak dengan Teheran.

“Kami fokus pada kondisi di mana semua pihak bisa melintas dengan aman,” kata Motegi.

Baca Juga: Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab

Motegi juga menyebut opsi pengerahan pasukan untuk operasi penyapuan ranjau bisa dipertimbangkan jika terjadi gencatan senjata.

Selat Hormuz memiliki arti vital bagi Jepang, dengan sekitar 93 persen impor minyak mentahnya melewati jalur ini.

Ketidakpastian keamanan di kawasan tersebut telah memicu kenaikan harga energi dan tekanan inflasi di dalam negeri Jepang.

Di tengah situasi ini, Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk menjamin kebebasan navigasi.

Jika tidak dipenuhi, Washington mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran.

Merespons ancaman itu, militer Iran memperingatkan akan membalas dengan menargetkan infrastruktur energi Amerika Serikat di kawasan.

Load More