News / Internasional
Selasa, 24 Maret 2026 | 08:33 WIB
Presiden AS Donald Trump menuding NATO sebagai pengecut dan macan kertas karena tak mau membantu membuka Selat Hormuz. [X/Potus]
Baca 10 detik
  • Donald Trump mengancam hancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.

  • Pihak militer Iran mengejek ancaman Trump dengan menggunakan kalimat ikonik 'You're Fired'.

  • AS memutuskan menunda serangan selama lima hari setelah adanya dialog produktif dengan Iran.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran terkait jalur pelayaran internasional.

Pemimpin Negeri Paman Sam tersebut menuntut pembukaan total akses Selat Hormuz dalam waktu sangat singkat.

Trump memberikan batas waktu selama dua hari agar lalu lintas laut di kawasan tersebut kembali normal.

Jika tuntutan ini diabaikan, Amerika Serikat mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur energi milik negara tersebut.

Target utama dari serangan udara yang direncanakan adalah sektor kelistrikan di berbagai wilayah Iran.

Melalui akun media sosial pribadinya, Trump menegaskan keseriusannya untuk melumpuhkan fasilitas pembangkit listrik Iran.

Konflik bersenjata ini sendiri berakar dari perselisihan yang melibatkan Israel sejak akhir Februari lalu.

Iran memutuskan untuk mengunci jalur strategis tersebut sebagai bentuk perlawanan atas serangan yang mereka terima.

Langkah penutupan jalur laut ini berdampak sangat fatal bagi stabilitas ekonomi dan keamanan dunia.

Baca Juga: Ngaku Mau Damai, Donald Trump Masih Mau Iran Ganti Rezim

Perlu diketahui bahwa sekitar seperlima dari total pasokan gas dan minyak dunia bergantung pada selat ini.

Banyak negara konsumen energi kini terpaksa memutar otak untuk mencari rute pengiriman alternatif yang lebih jauh.

Beberapa pemerintahan di dunia bahkan mulai menguras cadangan energi nasional mereka demi menjaga kestabilan dalam negeri.

Hambatan distribusi ini memicu lonjakan harga bahan bakar yang sangat signifikan di pasar internasional.

Kenaikan harga energi tersebut membawa ancaman inflasi besar bagi negara-negara yang bergantung pada minyak Teluk.

Menanggapi ancaman penghancuran infrastruktur tersebut, pihak militer Iran justru menunjukkan sikap yang sangat santai.

Ebrahim Zolfaghari selaku perwakilan markas pusat Khatam al-Anbiya melontarkan sindiran tajam kepada Presiden Amerika Serikat.

Ejekan tersebut menggunakan frasa populer yang sering digunakan Trump saat masih menjadi bintang acara televisi.

"Hey Trump, YOU'RE FIRED! Anda sudah familiar dengan kalimat ini. Terima kasih atas perhatian Anda pada masalah ini," kata Zolfaghari.

Pernyataan ini menjadi simbol keberanian Teheran dalam menghadapi tekanan militer dari pihak luar negeri.

Meskipun tensi sempat memuncak, kabar terbaru menunjukkan adanya sedikit pelonggaran dalam konfrontasi bersenjata tersebut.

Trump menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi yang intens dengan pemerintah Iran selama beberapa hari.

Ia mengklaim telah terjadi diskusi yang cukup berbobot untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan ini.

Oleh karena itu, rencana penghancuran pembangkit listrik Iran diputuskan untuk ditunda selama lima hari ke depan.

Keputusan penundaan ini diambil setelah Trump melihat adanya perubahan sikap dalam proses negosiasi tersebut.

"Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat, dan negara Iran, telah mengadakan, selama dua hari terakhir, percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian lengkap dan total atas permusuhan kita di Timur Tengah," kata Trump.

Presiden AS tersebut menekankan bahwa penundaan serangan tetap memiliki syarat yang sangat ketat dan mengikat.

"Berdasarkan sentuhan dan nada dari percakapan mendalam, rinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu ini, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan syarat keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung," lanjutnya.

Sebelumnya, Trump sempat bersikeras tidak akan memberikan ruang bagi gencatan senjata dengan pihak Teheran.

Ia hanya membuka peluang untuk dialog tanpa harus menghentikan operasi militer yang sedang berlangsung saat itu.

"Kita bisa berdialog, tetapi saya tidak ingin melakukan gencatan senjata," tegasnya pada akhir pekan lalu.

Dunia kini menanti apakah negosiasi singkat ini mampu meredakan krisis energi yang sedang mencekik global.

Selat Hormuz tetap menjadi kunci utama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas harga komoditas minyak mentah.

Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam posisi siaga tinggi sembari menunggu hasil diplomasi lanjutan.

Ketidakpastian di Timur Tengah ini diperkirakan masih akan terus memengaruhi pergerakan pasar saham internasional.

Setiap perkembangan di Selat Hormuz akan menjadi penentu masa depan ekonomi banyak negara berkembang.

Load More