- Iran meluncurkan serangan rudal ke Tel Aviv dan kota lain sehari setelah Trump mengklaim pembicaraan damai berjalan baik.
- Serangan tersebut mengakibatkan beberapa korban luka serta kerusakan bangunan dan kendaraan di area permukiman Israel.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu suplai minyak dunia, memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
Suara.com - Ketegangan Timur Tengah kembali membara setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Tel Aviv, hanya sehari setelah Presiden Donald Trump menyebut pembicaraan damai berjalan baik dan konstruktif.
Serangan terjadi dalam beberapa gelombang dan memicu sirene darurat di berbagai wilayah Israel.
Ledakan terdengar di Tel Aviv akibat intersepsi sistem pertahanan udara.
Polisi Israel melaporkan sedikitnya enam orang terluka, sementara sebuah munisi dengan sekitar 100 kilogram bahan peledak menghantam area permukiman dan merusak bangunan serta kendaraan.
Melansir dari laporan Dailymail, erangan juga menyasar kota Eilat, Dimona, dan Yeruham. Warga di sekitar Yerusalem melaporkan dentuman keras sepanjang malam.
Sumber Iran sebelumnya memperingatkan akan ada peristiwa khusus yang menghapus harapan negosiasi dari benak para agresor.
Pernyataan itu disampaikan melalui media pemerintah dan menjadi sinyal eskalasi lanjutan.
Di sisi lain, Trump bersikeras bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan positif.
“Kami melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif untuk menyelesaikan konflik secara total,” tulisnya.
Baca Juga: Ledakan Dahsyat Guncang Kilang Minyak Texas AS, Diserang Rudal Iran?
Namun klaim tersebut dibantah keras oleh Teheran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan, “Tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat. Ini berita palsu untuk memanipulasi pasar.”
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan operasi militer akan terus berlanjut.
“Kami menghancurkan program rudal dan nuklir, serta terus memberi pukulan keras,” ujarnya.
Konflik yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang ini juga berdampak global.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, memicu kekhawatiran krisis energi internasional.
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mendesak penghentian segera konflik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
Terkini
-
Terintegrasi Banyak Tempat Wisata dan Pusat Perbelanjaan, LRT Bisa Jadi Solusi Libur Lebaran
-
Sindiran Satire ke KPK, Panen Penghargaan Buntut Yaqut Jadi Tahanan Rumah Saat Lebaran
-
Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Hari Ini, One Way Nasional Diberlakukan
-
Arus Balik Lebaran Semakin Padat di Terminal Kampung Rambutan
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Pesepeda Lansia Masuk Tol Jogja-Solo, Ngaku Bingung karena Jalan Baru
-
Ucapan Trump Dibayar Kepulan Asap oleh Iran: Tel Aviv Hancur, Warga Panik
-
2 Warga Yerusalem Membelot, Kirim Data Penting Israel ke Iran
-
Ledakan Dahsyat Guncang Kilang Minyak Texas AS, Diserang Rudal Iran?
-
Kapal Induk AS Mundur dari Palagan Perang Timur Tengah