- Serangan AS-Israel ke Iran menutup Selat Hormuz, menghentikan 20 juta barel minyak harian.
- Harga minyak Brent melonjak signifikan dari 66 dolar menjadi di atas 100 dolar per barel.
- IEA merilis cadangan strategis, namun ahli khawatir potensi kekurangan pasokan global jangka panjang.
Suara.com - Krisis minyak global kembali mengguncang dunia, bahkan disebut lebih besar dibanding embargo minyak tahun 1973.
Gangguan pasokan saat ini dipicu serangan AS-Israel ke Iran yang berdampak langsung pada jalur vital Selat Hormuz.
Menurut International Energy Agency, penutupan jalur tersebut menghentikan lebih dari 20 juta barel minyak per hari.
Angka ini jauh melampaui krisis 1973 yang hanya memangkas sekitar 4,5 juta barel per hari atau sekitar 7 persen pasokan global saat itu.
Lonjakan harga pun tak terhindarkan. Harga minyak mentah Brent melonjak dari 66 dolar AS menjadi di atas 100 dolar AS per barel dalam hitungan hari sejak konflik memanas.
Sebagai perbandingan, embargo 1973 terjadi saat negara-negara Arab yang tergabung dalam Organization of Arab Petroleum Exporting Countries memotong produksi minyak sebagai respons dukungan Barat terhadap Israel.
Dampaknya kala itu memicu krisis energi global dan resesi ekonomi berkepanjangan.
Kini, gangguan berasal dari satu titik sempit yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz, menjadikannya titik paling krusial dalam rantai pasok energi.
Baca Juga: Bukan Rudal Iran, Anak Benjamin Netanyahu Jadi Target Pembunuhan Warga AS
Negara-negara anggota IEA mencoba meredam krisis dengan melepas 400 juta barel dari cadangan strategis. Namun, para ahli menilai langkah ini hanya solusi jangka pendek.
“Langkah ini tidak akan cukup jika gangguan berlangsung lama,” ujar para analis energi seperti dilansir dari Aljazeera.
Para ahli energi memperingatkan potensi kekurangan pasokan global yang bisa mencapai 15 juta barel per hari.
Dampaknya mulai terasa di berbagai negara, dari lonjakan harga bahan bakar hingga ancaman inflasi.
Sejumlah pemerintah bahkan mendorong warganya menghemat energi, seperti mengurangi perjalanan dan beralih ke listrik.
Ekonom kini mengkhawatirkan risiko stagflasi, yaitu kombinasi inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi stagnan, dan meningkatnya pengangguran.
Berita Terkait
-
Bukan Rudal Iran, Anak Benjamin Netanyahu Jadi Target Pembunuhan Warga AS
-
Gegara Selat Hormuz Tutup, Harga BBM di AS Tembus Rp 68.000
-
Ucapan Trump 100 Persen Bohong, Iran Hujani Tel Aviv dengan Rudal Bermuatan Ratusan Kg Peledak
-
Rudal Iran Bongkar Borok Orang Yahudi! Saling Tuding Antisemit Demi Masuk Bunker
-
Ucapan Trump Dibayar Kepulan Asap oleh Iran: Tel Aviv Hancur, Warga Panik
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Gerindra Tepis Isu 'Mata-matai' Wapres Gibran: Yang Ada Adalah Perintah untuk...
-
Mencekam! Gempa Dahsyat M 7,1 Guncang Venezuela, Peringatan Berpotensi Tsunami Dikeluarkan
-
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Siap-siap Hujan di Wilayah Selatan dan Timur
-
Misteri Formasi Tak Lazim Drone Iran, Kesaksian Pilot F-15 Bikin Geger
-
Wacana Ekspor Satu Pintu Dinilai Berpotensi Perkuat Posisi Indonesia di Tengah Persaingan Global
-
Warga Sipiongot Senang Karena Jalan Diaspal Setelah Puluhan Tahun
-
Skandal Korupsi Kuota Haji: KPK Cecar Eks Dirjen PHU Hilman Latief Soal Modus Bagi-bagi 50 Persen
-
Masuk RS Polri Gegara Sakit Saluran Pencernaan! Penahanan Gus Yaqut Dibantarkan
-
Eks Plt Direktur PU Ditahan! Terima Suap BUMN dan Rekayasa Proyek Fiktif Rp16 Miliar
-
3 Tahun dalam Penyiksaan: Bagaimana Penyekapan YTR Bisa Luput dari Pantauan Sekitar?