-
Mohammad Bagher Ghalibaf menjadi figur terkuat Iran pasca kematian para pemimpin senior rezim.
-
Ghalibaf memiliki latar belakang lengkap sebagai pilot tempur, mantan polisi, hingga ketua parlemen.
-
Ketua Parlemen Iran ini kini mengomandoi strategi perang asimetris melawan tekanan Amerika Serikat.
Suara.com - Struktur kekuasaan di Republik Islam Iran kini mengalami pergeseran signifikan setelah hilangnya sejumlah tokoh kunci pemerintahan.
Mohammad Bagher Ghalibaf yang menjabat sebagai Ketua Parlemen mendadak muncul sebagai figur politik paling dominan di negara tersebut.
Latar belakangnya sebagai veteran Garda Revolusi memberikan legitimasi kuat bagi dirinya untuk mengambil alih komando di masa krisis.
Bahkan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menjagokan Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai pemimpin Iran di masa depan.
Ghalibaf yang kini berusia 64 tahun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rezim selama lebih dari tiga dekade terakhir.
Media Timur Tengah, aawsat.com menyebut perannya saat ini dianggap sangat krusial dalam mengarahkan kebijakan militer dan upaya pertahanan negara di medan tempur.
Berbeda dengan Mojtaba Khamenei yang cenderung menutup diri, Ghalibaf justru sangat aktif membangun narasi di ruang publik.
Ia secara intensif menggunakan media sosial X dan berbagai saluran televisi untuk memberikan instruksi serta pandangan politiknya.
"Kita berada dalam perang yang tidak seimbang, dengan pengaturan yang asimetris, kita harus melakukan sesuatu dan menggunakan peralatan dengan budaya, desain, dan kreativitas kita sendiri," katanya kepada televisi Iran pada hari Rabu.
Baca Juga: Wall Street Anjlok, Investor Dihantui Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Iran
Komentar tersebut menegaskan posisinya sebagai arsitek utama dalam menghadapi tekanan eksternal yang semakin meningkat belakangan ini.
Strategi Balas Dendam dan Eskalasi Konflik
Melalui platform digital, ia menekankan bahwa serangan terhadap aset energi Iran akan memicu respon militer yang lebih besar.
Dalam sebuah unggahan di X, ia menambahkan bahwa setelah serangan terhadap infrastruktur energi Iran, "prinsip balas dendam berlaku, dan tingkat konfrontasi baru telah dimulai".
Meskipun vokal dalam narasi perang, Ghalibaf tampak sangat waspada terhadap ancaman pembunuhan yang mengintai nyawanya sendiri.
Kehati-hatian ini terlihat saat ia memilih tidak hadir dalam aksi massa pro-Palestina untuk menjaga protokol keamanan pribadinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung