News / Internasional
Rabu, 25 Maret 2026 | 11:34 WIB
Selat Hormuz
Baca 10 detik

Inggris menyiapkan sistem otonom dan kapal perusak untuk mengamankan Selat Hormuz dari ranjau.

Koalisi internasional dipimpin Inggris bertujuan membuka kembali jalur distribusi minyak mentah dunia.

Blokade Selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga minyak global dan biaya pengiriman logistik laut.

"Kami memiliki kemampuan terdepan di dunia dalam hal perburuan ranjau otonom, serta kemampuan kapal perusak yang fantastis dengan Tipe 45 kami, dan juga pengembangan konsep angkatan laut hibrida, yang memberi kami peluang untuk menghindari membahayakan orang demi mengamankan selat," kata seorang pejabat.

Pernyataan tersebut menegaskan rasa percaya diri Inggris terhadap keunggulan teknologi militer yang mereka miliki saat ini.

Meskipun situasi memanas, intelijen militer meyakini bahwa masih terdapat celah aman yang bisa dilalui oleh kapal-kapal tertentu.

Hingga saat ini, kapal-kapal dari negara seperti China, Pakistan, dan India dilaporkan masih berani melintasi jalur perairan tersebut.

Namun, keberadaan ranjau laut tetap menjadi momok yang menakutkan bagi industri asuransi dan perusahaan pelayaran global.

Situasi keamanan di Timur Tengah memang terus memburuk pasca serangan gabungan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Serangan yang terjadi pada akhir Februari tersebut menyasar wilayah Iran dan memicu gelombang kekerasan baru di kawasan.

Operasi militer itu merenggut nyawa lebih dari 1.340 jiwa, termasuk figur sentral yakni pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Teheran merespons tindakan tersebut dengan melancarkan serangan balasan menggunakan pesawat nirawak dan rudal balistik secara berkala.

Baca Juga: 2000 Tentara AS Dikirim Donald Trump ke Timur Tengah, Bersiap Masuki Iran

Sasaran utama serangan Iran adalah posisi militer Israel serta instalasi militer Amerika Serikat yang berada di negara-negara Teluk.

Kondisi tidak kondusif ini secara otomatis membuat operasional di Selat Hormuz mengalami hambatan serius sejak awal bulan Maret.

Padahal, dalam kondisi normal, terdapat aliran sekitar 20 juta barel minyak mentah yang mengalir melewati selat ini setiap harinya.

Kemacetan distribusi energi ini langsung memicu kepanikan pada pasar komoditas global yang berujung pada lonjakan harga minyak.

Biaya pengiriman logistik laut juga meroket tajam akibat risiko perang dan premi asuransi yang meningkat berkali-kali lipat.

Upaya Inggris dan koalisinya kini menjadi harapan terakhir untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi global yang lebih dalam lagi.

Load More