- Rencana Mossad yang dipresentasikan kepada Netanyahu dan Trump bertujuan memicu keruntuhan rezim Iran melalui pembunuhan terarah segera setelah perang dimulai.
- Skenario intelijen tersebut gagal total karena rakyat Iran tidak memberontak akibat tingginya rasa takut terhadap aparat keamanan negara.
- Kegagalan rencana memicu ketegangan antara Netanyahu dan Trump, serta terhambatnya operasi Kurdi karena penolakan Amerika Serikat.
Keyakinan bahwa Israel dan AS dapat mengobarkan pemberontakan massal kini dianggap sebagai kelemahan mendasar dalam persiapan perang.
Alih-alih runtuh, pemerintah Iran justru memperkuat posisinya dan meningkatkan eskalasi konflik dengan menyerang balik pangkalan militer, kota-kota, dan kapal-kapal di sekitar Teluk Persia.
Netanyahu kini dilaporkan mulai mengekspresikan rasa frustrasinya secara tertutup, karena janji-janji Mossad tidak membuahkan hasil.
Dalam satu pertemuan keamanan beberapa hari setelah perang dimulai, sang perdana menteri mengeluh bahwa Trump mungkin akan memutuskan untuk mengakhiri perang kapan saja, sementara operasi Mossad belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.
Netanyahu tetap bersikeras kampanye udara harus dibantu oleh kekuatan di darat untuk mencapai perubahan politik.
“Anda tidak bisa melakukan revolusi dari udara,” tegasnya dalam konferensi pers hari Kamis pekan lalu.
Ia menambahkan, “Harus ada komponen darat juga. Ada banyak kemungkinan untuk komponen darat ini, dan saya mengambil kebebasan untuk tidak membagikan kepada Anda semua kemungkinan tersebut.”
Skeptisime Intelijen dan Faktor Senapan Mesin
Kegagalan skenario ini sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak pihak. Para pemimpin militer AS telah memperingatkan Trump, warga Iran tidak akan turun ke jalan untuk memprotes saat bom-bom Amerika dan Israel jatuh di atas kepala mereka.
Baca Juga: Syarat Mutlak Iran Bagi Kapal Internasional di Selat Hormuz Agar Bisa Melintas Dengan Selamat
Analis intelijen dari AMAN (intelijen militer Israel) juga meragukan serangan tersebut akan memicu perang saudara.
Nate Swanson, mantan pejabat Departemen Luar Negeri yang pernah berada di tim negosiasi Iran, menyebut bahwa rakyat Iran lebih memilih bertahan hidup daripada mati dalam pemberontakan yang tidak bersenjata.
Trump sendiri tampaknya mulai menyadari realitas ini setelah dua minggu perang berjalan. Pada 12 Maret, ia mengakui bahwa pasukan keamanan Iran berada di jalanan dengan “menembaki orang-orang dengan senapan mesin jika mereka ingin memprotes.”
Lebih lanjut, Trump menyatakan kekhawatirannya di Fox News Radio, “Jadi saya benar-benar berpikir itu adalah rintangan besar yang harus didaki bagi orang-orang yang tidak memiliki senjata. Saya pikir itu adalah rintangan yang sangat besar. Jadi itu akan terjadi, tapi mungkin tidak akan terjadi segera.”
"Opsi Kurdi" dan Keretakan Hubungan Sekutu
Salah satu elemen rahasia Mossad adalah mendukung invasi oleh kelompok milisi Kurdi Iran yang berbasis di Irak utara.
Selama hari-hari pertama perang, jet tempur Israel membombardir target polisi dan militer di Iran barat laut untuk membuka jalan bagi pasukan Kurdi.
Namun, langkah ini justru memicu ketegangan dengan Turki, sekutu NATO yang sangat menentang operasi bersenjata Kurdi.
Trump akhirnya secara eksplisit melarang para pemimpin Kurdi untuk mengirim milisi ke dalam Iran karena tidak ingin melihat mereka terbunuh.
Bahkan, Bafel Talabani, presiden dari salah satu partai politik utama Kurdi Irak, memperingatkan bahwa masuknya pasukan luar justru bisa menyatukan rakyat Iran untuk melawan gerakan separatis tersebut karena rasa nasionalisme yang kuat.
Meskipun harapan akan revolusi memudar, beberapa pejabat Israel masih mencoba optimis. Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menyatakan di CNN bahwa perang ini harus diakhiri dengan peran aktif orang lokal.
“Saya pikir kita butuh pasukan di darat, tapi itu haruslah pasukan Iran... Dan saya pikir mereka akan datang,” ungkapnya.
Tapi bagi banyak pengamat, pernyataan ini terdengar lebih seperti harapan yang sulit terwujud daripada sebuah strategi militer yang matang.
Berita Terkait
-
Syarat Mutlak Iran Bagi Kapal Internasional di Selat Hormuz Agar Bisa Melintas Dengan Selamat
-
Inggris Kerahkan Kapal Perusak Tipe 45 dan Sistem Otonom Canggih ke Selat Hormuz Iran
-
Misteri Negosiator Rahasia, Klaim Damai Donald Trump Dibantah Mentah-mentah oleh Teheran
-
Ribuan Tentara Amerika Serikat Siap Serang Iran Lewat Darat
-
Bocor! China Bikin Peta Laut hingga Indonesia untuk Hadapi AS di Perang Dunia III
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak
-
Kantor BGN dan DPR RI Dijaga Ketat, 1.287 Personel Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakpus
-
Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan
-
Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!