-
Iran mengancam akan menghancurkan fasilitas desalinasi Amerika Serikat dan Israel sebagai bentuk balasan.
-
Timur Tengah terancam krisis air parah karena sangat bergantung pada teknologi pengolahan air.
-
Kerusakan pabrik desalinasi berisiko memicu eksodus massal penduduk dan kelumpuhan ekonomi total.
Sehari sebelum insiden di Bahrain, Iran justru menuding Amerika Serikat telah memulai preseden berbahaya dengan menyerang Pulau Qeshm.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada pabrik desalinasi yang menjadi tumpuan hidup bagi penduduk di 30 desa setempat.
Garda Revolusi Iran meyakini bahwa operasi militer Amerika Serikat tersebut diluncurkan melalui pangkalan mereka yang berada di Bahrain.
Menteri Energi Iran Abbas Aliabadi mengatakan pada hari Minggu bahwa serangan tersebut telah "menargetkan puluhan fasilitas transmisi dan pengolahan air serta menghancurkan sebagian jaringan pasokan air yang penting".
Kerusakan ini memperparah krisis kemanusiaan di tengah kondisi geografis Timur Tengah yang sangat gersang dan minim sumber air.
Ketergantungan wilayah tersebut terhadap air hasil olahan laut menjadikan fasilitas desalinasi sebagai titik paling lemah sekaligus paling strategis.
Para ahli ekonomi air memprediksi bahwa perebutan akses air bersih dapat memicu ledakan konflik yang jauh lebih destruktif.
Pihak-pihak yang bertikai yang memperebutkan pasokan air berisiko memicu "perang yang jauh lebih besar daripada yang kita alami saat ini," kata ekonom air Esther Crauser-Delbourg.
Data Bank Dunia menunjukkan bahwa ketersediaan air alami di wilayah ini sepuluh kali lipat lebih rendah dibanding rata-rata dunia.
Baca Juga: Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran
Tanpa adanya pabrik desalinasi, negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi akan kehilangan sumber utama air minum mereka.
Statistik menunjukkan bahwa mayoritas kebutuhan domestik di negara-negara teluk bergantung sepenuhnya pada teknologi pengolahan air laut ini.
Oman tercatat mengandalkan 86 persen kebutuhan airnya dari desalinasi, sementara Kuwait mencapai angka fantastis hingga 90 persen.
Bahkan untuk kota megapolitan seperti Dubai dan Riyadh, keberadaan fasilitas ini tidak bisa ditawar lagi bagi kelangsungan hidup kota.
"Di sana, tanpa air hasil desalinasi, tidak ada apa-apa," kata Crauser-Delbourg memberikan gambaran betapa krusialnya teknologi tersebut.
Ketidakstabilan pada sektor ini diprediksi akan membawa dampak ekonomi yang jauh lebih parah daripada krisis komoditas industri lainnya.
Laporan intelijen lama dari CIA bahkan sudah memperingatkan risiko fatal jika jalur pipa atau pabrik air di Arab Saudi lumpuh.
Sebuah dokumen menyebutkan bahwa ibu kota Riyadh kemungkinan harus dikosongkan dalam waktu satu minggu jika instalasi utama mengalami kerusakan.
Selain serangan fisik berupa rudal, fasilitas-fasilitas ini juga sangat rentan terhadap sabotase listrik dan pencemaran air laut.
Tumpahan minyak di sekitar titik pengambilan air laut dapat menghentikan seluruh proses produksi air bersih secara instan.
Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap ancaman drone dan serangan siber kini menjadi prioritas utama bagi pengelola fasilitas air.
Perusahaan pengelola air internasional seperti Veolia mulai memperketat kontrol akses di seluruh instalasi mereka yang tersebar di Timur Tengah.
Langkah preventif diambil mengingat situasi keamanan yang semakin tidak menentu dan ancaman yang semakin nyata terhadap aset sipil.
"Peristiwa-peristiwa baru-baru ini tentu saja mendorong kita untuk sangat waspada," kata Bourdeaux selaku perwakilan dari perusahaan pengelola air tersebut.
Beberapa negara bahkan telah mengerahkan sistem pertahanan rudal untuk memagari pabrik desalinasi terbesar guna menghalau serangan udara.
"Di beberapa negara, pihak berwenang telah menempatkan baterai rudal di sekitar pabrik-pabrik terbesar untuk menangkal ancaman drone atau rudal," tambahnya.
Penggunaan air sebagai instrumen perang sebenarnya bukan hal baru, namun intensitasnya kini mencapai level yang sangat mengkhawatirkan.
Pencatatan dari Pacific Institute menunjukkan bahwa pemberontak Houthi dan koalisi pimpinan Saudi pernah terlibat aksi saling serang fasilitas air.
Kondisi serupa juga terjadi di Jalur Gaza, di mana infrastruktur vital air seringkali menjadi korban dalam baku tembak militer.
Jika eskalasi ini terus berlanjut tanpa kendali, kota-kota besar di Timur Tengah terancam menghadapi fenomena eksodus penduduk secara masif.
Penjatahan air yang ketat akan diberlakukan, yang pada gilirannya akan melumpuhkan sektor pariwisata hingga industri teknologi tinggi seperti pusat data.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
IHSG Ijo Lagi Pagi ini di Level 6.200. Saham GIAA Mulai Dijual
-
Tata Cara Sholat Tolak Bala Rebo Wekasan 2026: Urutan Bacaan Surat, Niat, dan Doa Lengkap
-
Ekshumasi Sutrimo Dipimpin dr Hastry dan dr Yudianto, Jasad Diperiksa hingga Bagian Dalam
-
Eks Kaesang Felicia Tissue Buktikan Move On Total, Ini Kabar Terbarunya dengan Calon Suami
-
Cara Download Logo Hari Pramuka 2026, Lengkap dengan Link Resminya
-
Bybit Resmi Ekspansi ke Indonesia usai Akuisisi Nobi, Incar 20% Pangsa Pasar Transaksi Kripto
-
Sholat Tolak Bala Rebo Wekasan 2026 Jam Berapa? Simak Waktu Pelaksanaannya di Sini!
-
Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Direncanakan Mulai Pekan Depan
-
Kota Jogja Siapkan Rp40 Miliar Angkut Sampah ke PSEL, Bantul Pastikan Warga Sekitar Tak Direlokasi
-
Niat Sholat Tolak Bala Rebo Wekasan: Lengkap dengan Bacaan Latin, Arti, dan Jadwalnya di Tahun 2026