News / Internasional
Rabu, 25 Maret 2026 | 14:16 WIB
Ilustrasi anak tengah minum air (Forbes)
Baca 10 detik
  • Iran mengancam akan menghancurkan fasilitas desalinasi Amerika Serikat dan Israel sebagai bentuk balasan.

  • Timur Tengah terancam krisis air parah karena sangat bergantung pada teknologi pengolahan air.

  • Kerusakan pabrik desalinasi berisiko memicu eksodus massal penduduk dan kelumpuhan ekonomi total.

Sehari sebelum insiden di Bahrain, Iran justru menuding Amerika Serikat telah memulai preseden berbahaya dengan menyerang Pulau Qeshm.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada pabrik desalinasi yang menjadi tumpuan hidup bagi penduduk di 30 desa setempat.

Garda Revolusi Iran meyakini bahwa operasi militer Amerika Serikat tersebut diluncurkan melalui pangkalan mereka yang berada di Bahrain.

Menteri Energi Iran Abbas Aliabadi mengatakan pada hari Minggu bahwa serangan tersebut telah "menargetkan puluhan fasilitas transmisi dan pengolahan air serta menghancurkan sebagian jaringan pasokan air yang penting".

Kerusakan ini memperparah krisis kemanusiaan di tengah kondisi geografis Timur Tengah yang sangat gersang dan minim sumber air.

Ketergantungan wilayah tersebut terhadap air hasil olahan laut menjadikan fasilitas desalinasi sebagai titik paling lemah sekaligus paling strategis.

Para ahli ekonomi air memprediksi bahwa perebutan akses air bersih dapat memicu ledakan konflik yang jauh lebih destruktif.

Pihak-pihak yang bertikai yang memperebutkan pasokan air berisiko memicu "perang yang jauh lebih besar daripada yang kita alami saat ini," kata ekonom air Esther Crauser-Delbourg.

Data Bank Dunia menunjukkan bahwa ketersediaan air alami di wilayah ini sepuluh kali lipat lebih rendah dibanding rata-rata dunia.

Baca Juga: Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran

Tanpa adanya pabrik desalinasi, negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi akan kehilangan sumber utama air minum mereka.

Statistik menunjukkan bahwa mayoritas kebutuhan domestik di negara-negara teluk bergantung sepenuhnya pada teknologi pengolahan air laut ini.

Oman tercatat mengandalkan 86 persen kebutuhan airnya dari desalinasi, sementara Kuwait mencapai angka fantastis hingga 90 persen.

Bahkan untuk kota megapolitan seperti Dubai dan Riyadh, keberadaan fasilitas ini tidak bisa ditawar lagi bagi kelangsungan hidup kota.

"Di sana, tanpa air hasil desalinasi, tidak ada apa-apa," kata Crauser-Delbourg memberikan gambaran betapa krusialnya teknologi tersebut.

Ketidakstabilan pada sektor ini diprediksi akan membawa dampak ekonomi yang jauh lebih parah daripada krisis komoditas industri lainnya.

Load More