Suara.com - Kemacetan masih menjadi persoalan utama yang dihadapi warga ibu kota. Setiap hari kerja, pola yang sama terus berulang. Pada pagi hari saat berangkat kerja dan malam saat pulang, stasiun MRT, halte TransJakarta, hingga angkot JakLingko dipenuhi penumpang yang berdesakan mengejar waktu.
Di jalan raya, kondisi serupa juga terjadi. Ribuan kendaraan pribadi bergerak perlahan dan memadati berbagai ruas jalan. Situasi ini tidak hanya dirasakan secara kasatmata, tetapi juga tercermin dalam data. Berdasarkan TomTom Traffic Index, Jakarta kini menjadi kota termacet kedua di Indonesia setelah Bandung.
Tingkat kemacetan pun terus meningkat. Pada 2025, indeks kemacetan Jakarta mencapai 59,8 persen. Angka ini melonjak signifikan dan menempatkan Jakarta di peringkat 24 kota termacet di dunia, dari sebelumnya posisi 90 pada tahun sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mengenai efektivitas transportasi umum dalam menekan emisi, mengingat sebagian moda transportasi seperti bus masih menggunakan bahan bakar fosil.
Diukur berdasarkan efisiensi
Secara efisiensi, penggunaan transportasi umum tetap dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan pribadi. Mengacu pada data netzeronation.scot, satu bus tingkat memiliki kapasitas setara dengan sekitar 75 mobil pribadi.
Meski masih menggunakan solar, emisi yang dihasilkan dibagi kepada puluhan penumpang, sehingga lebih efisien secara per kapita dibandingkan mobil yang umumnya hanya diisi satu atau dua orang.
Peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum juga berdampak signifikan terhadap penurunan emisi. Penggunaan bus dapat mengurangi emisi karbon dioksida hingga 42 persen, sementara kereta api bahkan mencapai 73 persen. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa sektor transportasi menyumbang sekitar 15 persen dari total emisi gas rumah kaca global.
Secara individu, beralih ke transportasi umum dapat mengurangi hingga 2 ton emisi karbon per tahun. Angka ini cukup besar jika dibandingkan dengan rata-rata jejak karbon global per orang yang mencapai 6,6 ton CO2 per tahun.
Baca Juga: Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?
Selain aspek lingkungan, transportasi umum juga menawarkan solusi praktis bagi mobilitas warga. Greenpeace Indonesia menilai, penggunaan transportasi publik tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan kualitas hidup.
Moda transportasi berbasis rel seperti KRL, LRT, dan MRT memungkinkan waktu tempuh yang lebih terprediksi karena jalurnya terpisah dari kendaraan lain. Perjalanan Bogor–Jakarta, misalnya, dapat ditempuh sekitar 85 menit dengan KRL, dibandingkan 1,5 hingga 2,5 jam menggunakan mobil saat kondisi macet.
Dari sisi biaya, transportasi umum juga lebih ekonomis. Tarif KRL untuk rute Bogor–Jakarta maksimal Rp6.000, sementara TransJakarta menawarkan tarif yang relatif terjangkau dibandingkan biaya bahan bakar kendaraan pribadi. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat yang melakukan perjalanan harian.
Penggunaan transportasi umum juga mendorong aktivitas fisik. Perjalanan menuju halte atau stasiun membuat pengguna lebih banyak berjalan kaki, yang secara tidak langsung berkontribusi pada peningkatan kebugaran dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi yang cenderung pasif.
Meski demikian, transportasi umum belum sepenuhnya bebas emisi karena masih bergantung pada bahan bakar fosil, terutama pada moda bus. Namun, peralihan ke transportasi publik tetap menjadi langkah penting dalam menekan jumlah kendaraan di jalan. Pengurangan kendaraan pribadi secara langsung berdampak pada penurunan konsumsi bahan bakar secara keseluruhan serta berpotensi memperbaiki kualitas udara di perkotaan.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Alih-alih Hemat BBM, DPR Ingatkan Risiko 'Long Weekend'
-
Makna Kunjungan 'Tanpa Undangan' Anies ke Cikeas: Hanya Lebaran ke SBY atau Mau CLBK dengan AHY?
-
Konflik di Timur Tengah, Sekjen PBB: Perang Sudah di Luar Kendali
-
Arus Mudik Naik dan Kecelakaan Turun 16 Persen, Pemerintah Minta Pemudik Balik Lebih Awal
-
Rekaman Iran Tembak Jatuh Jet Tempur AS Tersebar, Kebohongan Militer Washington Mulai Terbongkar?
-
Wacana WFH Sehari untuk ASN: Pedang Bermata Dua bagi Ekonomi dan Energi
-
Iran Pertimbangkan Usulan Damai AS, Tapi Tolak Negosiasi Langsung!
-
Personel Gugur saat Ops Ketupat, Kakorlantas Polri Sampaikan Duka Mendalam
-
Syarat Kesepakatan Damai, Iran Minta Penghentian Serangan ke Hizbullah di Lebanon
-
Israel Panik! Donald Trump akan Setop Perang Meski Tanpa Deal dengan Iran