News / Nasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 10:47 WIB
Bus TransJakarta (Pinterest/Tony SAC)

Suara.com - Kemacetan masih menjadi persoalan utama yang dihadapi warga ibu kota. Setiap hari kerja, pola yang sama terus berulang. Pada pagi hari saat berangkat kerja dan malam saat pulang, stasiun MRT, halte TransJakarta, hingga angkot JakLingko dipenuhi penumpang yang berdesakan mengejar waktu.

Di jalan raya, kondisi serupa juga terjadi. Ribuan kendaraan pribadi bergerak perlahan dan memadati berbagai ruas jalan. Situasi ini tidak hanya dirasakan secara kasatmata, tetapi juga tercermin dalam data. Berdasarkan TomTom Traffic Index, Jakarta kini menjadi kota termacet kedua di Indonesia setelah Bandung.

Tingkat kemacetan pun terus meningkat. Pada 2025, indeks kemacetan Jakarta mencapai 59,8 persen. Angka ini melonjak signifikan dan menempatkan Jakarta di peringkat 24 kota termacet di dunia, dari sebelumnya posisi 90 pada tahun sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mengenai efektivitas transportasi umum dalam menekan emisi, mengingat sebagian moda transportasi seperti bus masih menggunakan bahan bakar fosil.

Diukur berdasarkan efisiensi

Secara efisiensi, penggunaan transportasi umum tetap dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan pribadi. Mengacu pada data netzeronation.scot, satu bus tingkat memiliki kapasitas setara dengan sekitar 75 mobil pribadi.

Meski masih menggunakan solar, emisi yang dihasilkan dibagi kepada puluhan penumpang, sehingga lebih efisien secara per kapita dibandingkan mobil yang umumnya hanya diisi satu atau dua orang.

Peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum juga berdampak signifikan terhadap penurunan emisi. Penggunaan bus dapat mengurangi emisi karbon dioksida hingga 42 persen, sementara kereta api bahkan mencapai 73 persen. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa sektor transportasi menyumbang sekitar 15 persen dari total emisi gas rumah kaca global.

Secara individu, beralih ke transportasi umum dapat mengurangi hingga 2 ton emisi karbon per tahun. Angka ini cukup besar jika dibandingkan dengan rata-rata jejak karbon global per orang yang mencapai 6,6 ton CO2 per tahun.

Baca Juga: Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?

Selain aspek lingkungan, transportasi umum juga menawarkan solusi praktis bagi mobilitas warga. Greenpeace Indonesia menilai, penggunaan transportasi publik tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan kualitas hidup.

Moda transportasi berbasis rel seperti KRL, LRT, dan MRT memungkinkan waktu tempuh yang lebih terprediksi karena jalurnya terpisah dari kendaraan lain. Perjalanan Bogor–Jakarta, misalnya, dapat ditempuh sekitar 85 menit dengan KRL, dibandingkan 1,5 hingga 2,5 jam menggunakan mobil saat kondisi macet.

Dari sisi biaya, transportasi umum juga lebih ekonomis. Tarif KRL untuk rute Bogor–Jakarta maksimal Rp6.000, sementara TransJakarta menawarkan tarif yang relatif terjangkau dibandingkan biaya bahan bakar kendaraan pribadi. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat yang melakukan perjalanan harian.

Penggunaan transportasi umum juga mendorong aktivitas fisik. Perjalanan menuju halte atau stasiun membuat pengguna lebih banyak berjalan kaki, yang secara tidak langsung berkontribusi pada peningkatan kebugaran dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi yang cenderung pasif.

Meski demikian, transportasi umum belum sepenuhnya bebas emisi karena masih bergantung pada bahan bakar fosil, terutama pada moda bus. Namun, peralihan ke transportasi publik tetap menjadi langkah penting dalam menekan jumlah kendaraan di jalan. Pengurangan kendaraan pribadi secara langsung berdampak pada penurunan konsumsi bahan bakar secara keseluruhan serta berpotensi memperbaiki kualitas udara di perkotaan.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More