- Peneliti University of Michigan menemukan metode deteksi mikroplastik standar berpotensi menghasilkan data berlebih karena kontaminasi tak terduga.
- Sumber kontaminasi utama berasal dari garam stearat pada sarung tangan laboratorium yang salah diidentifikasi sebagai mikroplastik.
- Studi Maret 2026 ini mendesak perbaikan metode deteksi dan rekomendasi menghindari penggunaan sarung tangan tanpa stearat dalam penelitian.
Lebih jauh, sebagian besar partikel ini berukuran di bawah 5 mikrometer, ukuran yang justru paling berisiko bagi kesehatan manusia karena dapat masuk ke dalam sel. Bias pada ukuran ini berpotensi memengaruhi hasil penelitian yang menjadi dasar kebijakan publik.
Mencari Solusi dan Perbaikan Metode
Sebagai langkah ke depan, para peneliti merekomendasikan untuk menghindari penggunaan sarung tangan dalam studi mikroplastik jika memungkinkan. Dalam kondisi tertentu, seperti penelitian biologis, penggunaan sarung tangan tetap diperlukan, namun disarankan menggunakan jenis yang tidak mengandung stearat.
Selain itu, tim juga mengembangkan metode untuk membedakan “sidik jari” kimia antara mikroplastik dan kontaminan, sehingga data lama yang berpotensi bias masih dapat diperbaiki.
Tetap Waspada, Meski Angka Bisa Berubah
Temuan ini menunjukkan bahwa sains adalah proses yang terus berkembang, termasuk dalam memahami mikroplastik. Meski jumlahnya mungkin tidak sebanyak yang diperkirakan sebelumnya, para peneliti menegaskan bahwa keberadaan mikroplastik tetap menjadi perhatian serius.
Bahkan dalam jumlah kecil, mikroplastik tetap berpotensi berdampak pada kesehatan manusia dan ekosistem. Oleh karena itu, perbaikan metode penelitian menjadi langkah penting agar kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data yang akurat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Prabowo Minta UMKM Diprioritaskan, Cak Imin Usulkan Tambahan Anggaran Rp1 Triliun
-
Polisi Buka Peluang Tambah Tersangka Kasus Daycare Little Aresha
-
Nyawa Dijaga Malah Diajak Berantem: Curhat Eks Penjaga Rel Liar Hadapi Pemotor 'Batu' di Jalur Tikus
-
Wamen PANRB Tinjau MPP Kota Kupang untuk Perkuat Pelayanan Publik Terintegrasi
-
Tim Advokasi Bongkar Sisi Gelap Tragedi PRT Benhil: Penyekapan, Gaji Ditahan, hingga Manipulasi Usia
-
Dua Hakim Dissenting Opinion: Ibam Seharusnya Dibebaskan di Kasus Chromebook
-
MBG di Kalbar Serap 22 Ribu Tenaga Kerja, BGN: Ekonomi Masyarakat Bawah Bergerak Kencang
-
Tebus Kekecewaan Insiden LCC MPR, Josepha Siswi SMAN 1 Pontianak Dapat Beasiswa Kuliah ke China
-
Wamen PANRB Dorong Kolaborasi Lintas Instansi Perkuat Program Sekolah Rakyat
-
PRT Benhil Tewas Usai Lompat dari Lantai 4, Tim Advokasi Ajukan 6 Tuntutan ke Polisi